6 Februari 2013

Bantu Si Kecil Mengeksplorasi Imajinasi

Ingin punya anak kreatif yang siap menjawab berbagai tantangan di masa depan? Biarkan anak bermain dengan imajinasinya. Alih-alih membatasi imajinasi si kecil, akan lebih baik jika Anda menyikapi perilaku anak dengan cara kreatif untuk mendukungnya mengembangkan kreativitas.

Peran orangtua adalah mendampingi anak dalam segala aktivitasnya, mengarahkan agar imajinasi anak berkembang lebih kreatif, bukan dengan melarang apalagi membatasi anak-anak berimajinasi apalagi ketika mereka sedang bermain.

Psikolog anak, Astrid Wulansari Emeline mengatakan anak belajar dari permainan. Termasuk ketika anak sedang berimajinasi dengan berbagai permainan yang dilakukannya. Imajinasi inilah yang membantunya mengembangkan banyak ide. Ide yang lahir kemudian adalah bekal bagi anak dalam berkreativitas tanpa batas.

Membebaskan anak berimajinasi juga berlaku saat si kecil sedang asyik bermain peran. "Jangan lantas melarang anak bermain peran sebagai pekerja rumah tangga karena menganggapnya tak baik. Justru, melalui peran ini, dengan imajinasinya, anak sedang belajar bagaimana melayani dan berkomunikasi dengan orang lain. Atau ketika anak main mobil-mobilan, lalu ia menjadikan mobilan sebagai telepon, jangan lantas menyalahkan atau melarang anak karena sebenarnya ia sedang mengembangkan imajinasinya. Jangan menganggap perilaku anak seperti itu sebagai sesuatu yang aneh. Orangtua banyak yang tidak menyadari apa yang dilakukan anak adalah caranya dalam mengembangkan imajinasi," jelas Astrid kepada sejumlah media seusai peluncuran establisment Cosmos Secret Agent di KidZania, mal Pasific Place, Jakarta, Rabu (29/2/2012).

Alih-alih menganggap aneh perilaku anak saat ia bermain dengan imajinasinya, Anda dapat membaur bersamanya. Masuklah ke dunia imajinasi anak dengan variasi peran baru yang Anda munculkan dan kenalkan kepada si kecil. Anda dan si kecil pun dapat hanyut dalam permainan peran yang membantu anak mengeksplorasi imajinasinya dan memberikan pengalaman juga pembelajaran baru baginya.

"Untuk memiliki anak kreatif, orangtua juga harus kreatif. Orangtua harus bisa menerima bahwa anak juga punya cara dalam melihat sesuatu termasuk saat menyelesaikan masalah yang dihadapinya," jelas Astrid.

Berawal dari imajinasi dalam sebuah permainan, si kecil melatih dirinya menjadi pribadi yang kreatif. Ketika anak kreatif, mudah saja baginya dalam memunculkan ide-ide segar. Kalau kebiasaan seperti ini terlatih sejak kecil, saat dewasa nanti anak Anda tumbuh menjadi pribadi kreatif yang lebih berani dan siap menjawab berbagai tantangan.

sumber: http://female.kompas.com

Anak Kreatif Tak Mudah Menyerah

Si kecil perlu memiliki sejumlah karakter yang dapat ditempa sejak belia dengan bantuan orangtuanya. Pembangunan karakter sejak anak-anak akan menentukan seperti apa anak kelak. Sejumlah karakter tersebut di antaranya, berani, rajin, memiliki determinasi yang kuat, fokus pada tujuan, menikmati apa yang dilakukannya, komitmen, tangguh menghadapi tantangan, dan kreatif.

Psikolog anak Astrid Wulansari Emeline, MPsi mengatakan pembangunan karakter pada anak dapat dilakukan melalui berbagai permainan di rumah, selain juga orangtua harus mencontohkan langsung kepada anak. "Karakter menunjukkan siapa diri kita. Apa yang biasa dilakukan itu menunjukkan seperti apa kita nantinya," jelas Astrid kepada sejumlah media di KidZania, Pasific Place, Jakarta beberapa waktu lalu.

Salah satu karakter yang memiliki pengaruh kuat dan menjadi bekal bagi anak kelak adalah kreatif. "Cerdas belum tentu kreatif. Anak yang kreatif punya banyak jalan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah gagal. Ia juga terbiasa untuk mencari tahu jalan mana yang efektif, efisien, dan cocok setiap kali dihadapkan pada masalah karena kreativitas yang dimilikinya memunculkan banyak ide," jelas Astrid.

Anak yang kreatif, lanjut Astrid, tidak mudah menyerah. Berbekal ide segar selalu muncul darinya, dan inilah yang membuat anak tak pernah kehabisan akal. Kalau gagal mencoba dengan satu cara ia akan mencari cara lainnya. Karakter seperti ini, jika terasah dalam diri anak sejak belia, akan menjadikannya sebagai pribadi yang optimis, selalu positif melihat kegagalan, dan ia selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah dengan cara original yang tak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya.

Kalau kepribadian ini terbentuk sejak kecil, saat dewasa nanti anak Anda akan menjadi sosok yang lebih berani dan siap menjawab berbagai tantangan. Karena ia terbiasa melihat setiap masalah yang dihadapinya sebagai tantangan dan selalu tergerak mencari banyak alternatif setiap kali menghadapi masalah.

Untuk membantu anak mengasah karakter seperti ini, Anda dapat mendampingi anak dalam permainan yang melibatkan imajinasi untuk melatih kognitifnya agar ia mampu berpikir dan mencari solusi atas tantangan yang dihadapinya dalam permainan. Berbagai permainan yang membantu anak memelajari emosinya seperti menghadapi rasa takut dan lainnya juga bisa membantu si kecil membentuk karakter positif.

"Untuk mendapatkan anak kreatif, orangtua juga harus kreatif," jelasnya.

Bagaimana dengan Anda, ide kreatif apa yang muncul di kepala Anda saat ini untuk membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang kreatif?


sumber: http://female.kompas.com

Kalau Anak Tak Suka Bereksperimen

Tidak semua anak mau "bereksperimen". Biasanya ini terjadi bukan berasal dari faktor si anak, umpamanya, ia tak memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga tak mau "bereksperimen". Melainkan ada faktor yang menghambatnya. Karena ia takut melakukan sesuatu karena kepercayaan dirinya rendah, misal.

Ini disebabkan lingkungan gagal mendukung dan membangun rasa percaya diri anak dengan baik. Bisa juga karena lingkungan selalu melarangnya melakukan sesuatu. Baru pegang kertas koran sebentar saja, dilarang karena takut disobek dan membuat rumah berantakan.

Bisa juga karena anak tidak merasa didukung atau dihargai. Saat ia berhasil memencet remote sehingga saluran televisi pindah, orangtua malah acuh bahkan memarahinya. Padahal bagi anak, itu adalah hal yang sangat menakjubkan.

Lebih jauh, mungkin ia kurang memiliki rasa percaya diri, tak mampu mask ke kelompok sosialnya, tak memiliki motivasi yang baik, dan sebagainya.

Untuk mengatasinya, Anda perlu membangkitkan rasa ingin tahunya, memotivasinya, memasilitasi, mendampinginya kala bereksperimen, respons positif "eksperimennya", jelaskan segala sesuatu yang terjadi saat. "Eksperimen" dan lainnya. Dengan begitu anak yang semula tak tertarik "bereksperimen" mungkin akan ketagihan melakukannya.

sumber:  http://female.kompas.com

5 Februari 2013

4 Cara Pisahkan Urusan Kerja dan Pribadi

Menjadi ibu bekerja di zaman sekarang bukan urusan gampang. Menjaga keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi tidak hanya berkaitan dengan memiliki jadwal yang fleksibel atau mencari jalan bagaimana bisa bekerja tanpa harus di kantor. Tapi ini juga menyangkut sejauh mana Anda bisa secara mental bisa memisahkan urusan pekerjaan dengan pribadi.
Yang sering terjadi, ketika pulang ke rumah dan bertemu dengan pasangan maupun anak, Anda masih dirundung awan mendung bernama stres, yang dibawa dari tempat kerja. Bahkan, mendengarkan musik yang menenangkan di perjalanan pulang pun tidak banyak membantu. Yang ada, sampai di rumah kita mengisi malam dengan berkeluh-kesah panjang-lebar pada pasangan, dengan topik tetap seputar pekerjaan.

Lalu, bagaimana caranya supaya stres di kantor tetap tinggal di kantor, tanpa harus ikut pulang ke rumah? Coba lakukan empat cara ini:

1. Ganti pakaian kerja Anda
Segera kenakan pakaian yang nyaman ketika sampai rumah. Bila hari masih belum terlalu malam, tidak ada salahnya mengenakan baju yang sering dipakai saat liburan. Menurut Joan Borysenko, PhD, penulis Fried: Why You Burn Out and How to Revive, tindakan ini bisa mengirimkan getaran menenangkan ke otak serta pikiran bawah sadar Anda. Kalau kantor Anda memungkinkan, tidak ada salahnya jika Anda sudah berganti baju sebelum pulang ke rumah. Pasti rasanya lebih segar begitu tiba di rumah.

2. Tersenyumlah, meski awalnya terpaksa
Konon, orang yang pura-pura nyengir pun pada akhirnya akan melakukannya dengan tulus. Begitu juga dengan tersenyum. "Kita tersenyum ketika kita merasa bahagia. Sebaliknya, kita akan merasa bahagia setelah kita tersenyum. Saat melakukannya, otak kita berpikir, 'Oh, saya sedang tersenyum, berarti saya merasa bahagia.' Dengan sendirinya suasana hati kita akan ikut serta," urai Elizabeth Lombardo, PhD, penulis A Happy You: Your Ultimate Prescription for Happiness. Karenanya, tak ada salahnya jika awalnya senyuman -atau bahkan tertawa- Anda itu dipaksakan. Ini bisa membuat Anda merasa lebih baik.

3. Regangkan tubuh Anda
Ada alasan mengapa mereka yang suka yoga itu terlihat lebih bahagia. Rahasianya terletak pada olah tubuh yang mereka lakukan. Namun, Anda tidak perlu sampai harus khusus ikut kelas yoga untuk bisa bahagia. "Cukup lakukan peregangan sederhana dan latihan pernafasan di kantor sebelum pulang. Misalnya dengan meregangkan area tegang seperti leher, bahu, dan rahang," saran Ginny Whitelaw, penulis The Zen Leader: 10 Ways To Go From Barely Managing to Leading Fearlessly.

4. Ganti wewangian di ruangan
Penggunaan aromaterapi di spa dapat membantu memperbaiki suasana hati kita. Coba terapkan ini di rumah atau di mobil, misalnya dengan aroma yang menenangkan seperti lavender atau vanila. "Ini membantu memberi sinyal pada otak, bahwa Anda telah memasuki lingkungan yang berbeda," kata Borysenko. Pada dasarnya, begitu otak Anda "tahu" bahwa Anda tidak di kantor lagi, tekanan stres yang berhubungan dengan pekerjaan akan langsung surut dan hilang.



Sumber: CBS News/http://female.kompas.com

4 Februari 2013

Cinta adalah Bertengkar 2.455 Kali

Survei yang dilakukan perusahaan asuransi Inggris mengungkapkan bahwa rata-rata pasangan bertengkar 2.455 kali dalam satu tahun, setara dengan hampir tujuh kali sehari.

The Sun mengungkapkan, alasan tunggal terbesar pertengkaran kecil adalah seseorang tidak mendengarkan apa yang dikatakan pasangannya, yang bertanggung jawab untuk kira-kira 112 pertengkaran dalam setahun.

Kejengkelan mengenai belanja yang berlebihan, terutama pada pembelian yang impulsif atau tidak penting, membuat 109 perselisihan; uang pada umumnya menjadi penyebab dari 108 pertengkaran.
Kemalasan menyebabkan 105 pertengkaran, sementara mendengkur memicu 102 pertengkaran. Apa yang akan dimakan untuk makan malam menyebabkan 92 perbedaan pendapat dalam setahun dan 80 pertengkaran adalah mengenai masuk ke rumah dengan alas kaki yang terkena lumpur.
Menyetir terlalu kencang dan apa yang akan ditonton di televisi adalah penyebab konflik lebih dari sekali seminggu.
Seks, terutama karena kurang atau waktunya, juga menyebabkan pertengkaran 88 kali dalam setahun.
Survei itu juga menunjukkan bahwa rata-rata pasangan berbeda pendapat mengenai mendisiplinkan anak-anak sebanyak 88 kali dan 79 perselisihan lebih lanjut mengenai memanjakan mereka.
Bahkan ada 69 perselisihan karena seseorang tidak cukup mengatakan "aku mencintaimu".
Angka itu diungkapkan dalam penelitian yang melibatkan 3.000 orang, baik pasangan menikah maupun yang berpacaran, oleh asuransi rumah Esure.

"Bertengkar setiap hari merupakan bagian dari berada dalam hubungan yang normal, sehat. Pasangan yang hidup bersama secara normal harus bertahan tanpa mengeluh satu sama lain mengenai gangguan yang lain sehari-hari, bahkan bila mereka bisa terbukti menjadi sangat menjengkelkan," kata seorang juru bicara.

sumber :  http://female.kompas.com

Mengatasi Masalah Hubungan karena Penghasilan

Orang ketiga bukan satu-satunya ganjalan cinta,karier kekasih pun bisa membuat hubungan bergejolak. Salah satu masalah dalam karier bisa berhubungan dengan penghasilan.

Contoh kasusnya: “Gaji saya dan pasangan tak jauh berbeda. Padahal kami sudah mulai merencanakan pernikahan yang tentunya membutuhkan pengeluaran besar, belum lagi pengeluaran setelah menikah. Sebagai perempuan yang akan hidup dengannya, saya berharap dia memiliki pendapatan lebih sebagai kepala keluarga nanti. Tapi dengan pekerjaannya sekarang, sepertinya tidak mungkin ada lonjakan pemasukan. Bila meminta dia berganti pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi, bisa-bisa ia tersinggung dan berakibat fatal.”

Untuk mengatasi dilema ini, jangan katakan: “Dengan gaji segitu kayaknya hidup kita bakal susah nih, kenapa kamu enggak mencoba melamar pekerjaan sebagai manager?” Sebaiknya katakan: “Keuangan kita memang sedikit lemah, tapi masih bisa kita atasi kok.”

Anda boleh mengungkapkan keinginan Anda dengan bilang, “Pasti lebih asyik kalau kita simpanan lebih.” Lanjutkan dengan kalimat penting, seperti  “… tapi karena aku sayang kamu, itu tetap yang paling penting!” Kalimat seperti ini dapat meningkatkan sekaligus menyentuh harga dirinya sebagai pria.

Meski bila terhimpit, pada akhirnya Anda harus mengusulkan pengetatan budget dari pengeluaran Anda berdua. Namun bila Anda masih merasa membutuhkan figur pasangan yang mampu memberikan asupan dana berlebih, coba tanyakan kembali pada diri Anda, “ Apakah memiliki banyak uang lebih penting daripada memiliki cintanya?”

sumber: http://female.kompas.com

Menyikapi Pasangan yang Stres dengan Pekerjaan

Hubungan berpasangan bisa bermasalah karena faktor karier. Salah satunya, pasangan memilki pekerjaan yang bikin stres. Perlu cara tepat untuk menyikapi kondisi semacam ini, agar hubungan tak jadi berantakan.

Contoh kasus: “Pulang dari kantor, wajahnya sudah kelelahan. Jangankan mengobrol panjang lebar atau menonton, sekadar menanggapi candaan saja sudah sulit. Kalau diajak becanda, responsnya sama sekali jauh dari harapan, terkadang menyakitkan. Setiap hari topik yang dilontarkan hanyalah pekerjaan yang bikin dia stres. Ia juga jadi gampang emosi. Hanya ditanya, tadi makan siang di mana, dia menganggap saya curiga dia selingkuh. Kalau begini terus, bagaimana bisa melanjutkan hubungan yang menyenangkan?”

Untuk menyikapi kondisi semacam ini, jangan katakan hal hal ini: “Sejak kamu kerja di sana, kamu jadi emosional ya. Ngobrol sama kamu itu bikin aku ikutan emosi, udah ah malas bicara sama kamu.” Sebaiknya katakan: “Hari-hari kamu lagi berat ya, mau aku buatkan teh hangat?”

Pekerja yang sedang berada dalam keadaan tertekan dan stres lebih sulit mengatur emosinya, jadi jangan binging bila Anda salah bicara, bisa-bisa kekasih merasa diserang, mulai kesal, dan akhirnya memicu pertengkaran.

Hal yang seharusnya Anda lakukan adalah menunggu hingga ia berada dalam kondisi nyaman dan tenang, kemudian gunakanlah kalimat seperti “Aku merasa…” daripada menggunakan kalimat “Kamu membuatku…”

Penggunaan kalimat tersebut bertujuan untuk menyadarkan pasangan bahwa masalahnya mampu memengaruhi mood Anda tanpa harus mengungkit kekesalan Anda pada pekerjaannya. Coba tunjukkan kekecewaan Anda dengan menggunakan kalimat seperti, “Aku merasa sedih bila kamu tidak memerhatikanku.”

(Majalah Chic/Vinny Vindiani)