10 Februari 2013
8 Februari 2013
Menyikapi Anak Balita yang Banyak Maunya
Wajar saja jika anak balita banyak maunya karena terkait perkembangan
egosentrisnya. Meski demikian, perlu juga diajarkan cara menahan
keinginan agar si kecil dapat mengontrol emosi.
Ratih Zulhaqqi, MPsi, perwakilan Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, menyarankan agar orangtua perlu membuka ruang diskusi dengan anak balitanya. Memang, sering kali orangtua mengalami dilema saat menghadapi permintaan anak. Kalau permintaan terus-menerus dikabulkan, ditakutkan anak kebablasan sering minta ini dan itu. Namun jika permintaan anak diacuhkan, maka orangtua khawatir dibilang pelit, pilih kasih, dan sebagainya.
Sebetulnya sebelum mengiyakan atau menolak permintaan anak, buka saja ruang diskusi. Meskipun masih usia prasekolah, anak-anak dapat diajak bicara tentang skala prioritas kebutuhannya. Misalnya, diajarkan memilih mana yang hanya sekadar keinginan dan mana yang memang kebutuhan.
Coba lakukan negosiasi dan buat kesepakatan, misalnya, "Oh, Adek ingin kalung yang kayak dipakai anak itu? Bukannya kita ke mal ini karena Mama mau membelikan sepatu Adek? Kan, sepatu Adek yang lama sudah kesempitan. Jadi, mau beli kalung atau sepatu? Mama cuma mau membelikan salah satu. Kalau mau beli kalung berarti Adek pakai sepatu yang kesempitan."
Bisa saja setelah mendengar alasan Anda, si kecil jadi marah atau menangis karena kebutuhannya tidak terpenuhi. Kalau sudah begini, jangan terpancing emosi. Jangan malu dan ragu memperlihatkan sikap tegas dan konsisten meski di ruang publik. Tetap tenang dan katakan baik-baik. "Kamu boleh menangis dan Mama tunggu di kursi itu ya, sampai nangis-nya selesai. Tapi Mama tetap tidak akan membelikan yang kamu minta sekarang."
Percayalah, selama pembiasaan konsisten diterapkan orangtua, si kecil akan pelan-pelan belajar mengendalikan dirinya. Sejak dini anak harus tahu, tidak semua permintaannya harus dipenuhi karena ada regulasi atau peraturan yang disepakati. Dengan belajar menahan keinginan, sistem regulasi emosi dan kontrol kebutuhan pada dirinya akan bekerja baik.
Efeknya, akan membuat anak menjadi lebih mudah dalam mengatur diri dan menata hidupnya. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang bisa mengontrol emosinya ketika keinginannya tidak terpenuhi. Ia juga fleksibel dan dapat menerima kondisi tersebut dengan tetap menunjukkan perilaku baik, semisal tidak ngambek.
Selain membuka ruang diskusi, orangtua juga harus bersikap konsisten dalam menyikapi anak yang serba ingin ini-itu, yaitu sejak dini sudah menerapkan atau mengeset aturan-aturan. Contohya, "Adek boleh makan es krim seminggu sekali setiap Sabtu." Adanya aturan-aturan ini membuat anak jelas dan tahu bahwa selain Sabtu, dia belajar mengendalikan keinginan makan es krimnya.
sumber: http://female.kompas.com
Ratih Zulhaqqi, MPsi, perwakilan Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, menyarankan agar orangtua perlu membuka ruang diskusi dengan anak balitanya. Memang, sering kali orangtua mengalami dilema saat menghadapi permintaan anak. Kalau permintaan terus-menerus dikabulkan, ditakutkan anak kebablasan sering minta ini dan itu. Namun jika permintaan anak diacuhkan, maka orangtua khawatir dibilang pelit, pilih kasih, dan sebagainya.
Sebetulnya sebelum mengiyakan atau menolak permintaan anak, buka saja ruang diskusi. Meskipun masih usia prasekolah, anak-anak dapat diajak bicara tentang skala prioritas kebutuhannya. Misalnya, diajarkan memilih mana yang hanya sekadar keinginan dan mana yang memang kebutuhan.
Coba lakukan negosiasi dan buat kesepakatan, misalnya, "Oh, Adek ingin kalung yang kayak dipakai anak itu? Bukannya kita ke mal ini karena Mama mau membelikan sepatu Adek? Kan, sepatu Adek yang lama sudah kesempitan. Jadi, mau beli kalung atau sepatu? Mama cuma mau membelikan salah satu. Kalau mau beli kalung berarti Adek pakai sepatu yang kesempitan."
Bisa saja setelah mendengar alasan Anda, si kecil jadi marah atau menangis karena kebutuhannya tidak terpenuhi. Kalau sudah begini, jangan terpancing emosi. Jangan malu dan ragu memperlihatkan sikap tegas dan konsisten meski di ruang publik. Tetap tenang dan katakan baik-baik. "Kamu boleh menangis dan Mama tunggu di kursi itu ya, sampai nangis-nya selesai. Tapi Mama tetap tidak akan membelikan yang kamu minta sekarang."
Percayalah, selama pembiasaan konsisten diterapkan orangtua, si kecil akan pelan-pelan belajar mengendalikan dirinya. Sejak dini anak harus tahu, tidak semua permintaannya harus dipenuhi karena ada regulasi atau peraturan yang disepakati. Dengan belajar menahan keinginan, sistem regulasi emosi dan kontrol kebutuhan pada dirinya akan bekerja baik.
Efeknya, akan membuat anak menjadi lebih mudah dalam mengatur diri dan menata hidupnya. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang bisa mengontrol emosinya ketika keinginannya tidak terpenuhi. Ia juga fleksibel dan dapat menerima kondisi tersebut dengan tetap menunjukkan perilaku baik, semisal tidak ngambek.
Selain membuka ruang diskusi, orangtua juga harus bersikap konsisten dalam menyikapi anak yang serba ingin ini-itu, yaitu sejak dini sudah menerapkan atau mengeset aturan-aturan. Contohya, "Adek boleh makan es krim seminggu sekali setiap Sabtu." Adanya aturan-aturan ini membuat anak jelas dan tahu bahwa selain Sabtu, dia belajar mengendalikan keinginan makan es krimnya.
sumber: http://female.kompas.com
"Bonding" Sambil Ajarkan Anak Mandiri
Setiap kali pulang bekerja, si kecil yang menunggu di rumah langsung
menghampiri, mendekap Anda dan tak ingin melepaskan diri dari
orangtuanya. Apa yang terjadi dengannya dan cara menyikapinya?
Menurut psikolog Dra Ratih Andjayani Ibrahim, MM, saat anak menunjukkan perilaku seperti ini, sebenarnya ia bukan ingin bermanja namun sedang menunjukkan rasa rindunya kepada ibu atau ayah yang tak ditemuinya seharian karena harus bekerja.
Jadi, saat anak bersikap seperti ini, orangtua sebaiknya tidak terburu-buru menganggap anak tak mandiri. Apalagi melabelnya sebagai anak manja dan menyikapi perilaku anak ini dengan cara yang kurang tepat.
"Anak hanya kangen, bukannya manja. Justru manfaatkan momen bonding seperti ini untuk mengajarkan nilai-nilai kemandirian," saran Ratih saat jumpa pers Duta Dancow Parenting Centre di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Ratih, justru orangtua perlu mensyukuri perilaku anak ini. Karena sikap tersebut menunjukkan masih adanya kelekatan antara orangtua anak. Jadi, alih-alih menghindari perilaku anak yang ingin dekat dengan ayah atau ibunya, respons perilaku anak tersebut sesuai kebutuhan anak, namun sisipkan nilai kemandirian saat Anda berdekatan dengannya.
Kalaupun orangtua khawatir anak bersikap manja karena perilakunya tersebut, atasi dengan cara orangtua lebih aktif mengajarkan nilai-nilai kemandirian di berbagai kesempatan. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri melalui penanaman nilai dalam keseharian oleh orangtuanya, termasuk saat sedang "bermanjaan" dengan anak.
Selain itu, pastikan pengasuh anak mampu menyampaikan nilai-nilai kemandirian tersebut saat orangtua bekerja atau tak berada di rumah. Karenanya temukan pengasuh yang bisa dipercaya dan menyayangi anak Anda.
sumber: http://female.kompas.com
Menurut psikolog Dra Ratih Andjayani Ibrahim, MM, saat anak menunjukkan perilaku seperti ini, sebenarnya ia bukan ingin bermanja namun sedang menunjukkan rasa rindunya kepada ibu atau ayah yang tak ditemuinya seharian karena harus bekerja.
Jadi, saat anak bersikap seperti ini, orangtua sebaiknya tidak terburu-buru menganggap anak tak mandiri. Apalagi melabelnya sebagai anak manja dan menyikapi perilaku anak ini dengan cara yang kurang tepat.
"Anak hanya kangen, bukannya manja. Justru manfaatkan momen bonding seperti ini untuk mengajarkan nilai-nilai kemandirian," saran Ratih saat jumpa pers Duta Dancow Parenting Centre di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Ratih, justru orangtua perlu mensyukuri perilaku anak ini. Karena sikap tersebut menunjukkan masih adanya kelekatan antara orangtua anak. Jadi, alih-alih menghindari perilaku anak yang ingin dekat dengan ayah atau ibunya, respons perilaku anak tersebut sesuai kebutuhan anak, namun sisipkan nilai kemandirian saat Anda berdekatan dengannya.
Kalaupun orangtua khawatir anak bersikap manja karena perilakunya tersebut, atasi dengan cara orangtua lebih aktif mengajarkan nilai-nilai kemandirian di berbagai kesempatan. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri melalui penanaman nilai dalam keseharian oleh orangtuanya, termasuk saat sedang "bermanjaan" dengan anak.
Selain itu, pastikan pengasuh anak mampu menyampaikan nilai-nilai kemandirian tersebut saat orangtua bekerja atau tak berada di rumah. Karenanya temukan pengasuh yang bisa dipercaya dan menyayangi anak Anda.
sumber: http://female.kompas.com
6 Februari 2013
Tanda Anda Terlalu Banyak Bekerja
Terlalu banyak bekerja ternyata bisa memberi efek negatif pada kesehatan fisik dan mental, juga kehidupan pribadi kita.
Anda bisa mengalami stres, kurang tidur, memperlambat upaya Anda
menurunkan berat badan, atau malah menyebabkan berat badan Anda naik.
Karena itu, ada baiknya Anda mengetahui apa yang normal dan yang tidak dengan aktivitas kerja Anda. Kalau Anda merasa selalu stres, atau keluarga dan teman-teman komplain bahwa Anda terlalu banyak bekerja, itulah tanda bahwa Anda memang perlu menahan diri. Untuk mengetahui apakah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, coba jawab pertanyaan di bawah ini:
* Apakah Anda berbaring di tempat tidur sambil bekerja? Saat akhir pekan? Atau saat liburan?
* Apakah Anda bekerja lebih dari 40 jam dalam seminggu?
* Apakah Anda bekerja lembur karena berpikir bahwa kalau tidak lembur pekerjaan tak akan selesai?
* Apakah Anda takut kalau Anda tidak bekerja cukup keras Anda akan kehilangan pekerjaan?
* Apakah Anda masih mengkhawatirkan masa depan sekalipun segala hal masih berjalan baik?
* Apakah kebiasaan Anda bekerja lembur mengecewakan keluarga, pasangan, atau teman-teman Anda?
* Apakah Anda masih memikirkan pekerjaan saat mengemudi, tertidur, atau ketika orang lain sedang berbicara?
Bagaimana bila Anda menjawab kebanyakan pertanyaan di atas dengan "ya"? Mungkin, Anda perlu berkomitmen dengan program pengurangan stres. Caranya, memulai hari (sejak bangun pagi) dengan membuat "me time" selama lima menit. Cobalah untuk diam tanpa mengerjakan apa pun. Duduk dan dengarkan suara-suara di sekitar Anda. Tak usah menyusun rencana kegiatan atau membuat "to do list" Anda hari ini.
Saat berada di kantor, manfaatkan 30 menit atau satu jam istirahat dengan makan siang di luar. Fokuslah pada makanan yang sedang disantap, tanpa memikirkan pekerjaan. Bila masih ada sisa waktu, gunakan untuk jalan-jalan di sekitar kantor untuk membeli majalah, cemilan, atau keperluan Anda di rumah. Kemudian, usahakan untuk mengurangi jumlah jam kerja Anda. Mulailah untuk menguranginya 15 menit setiap hari, sampai Anda benar-benar hanya bekerja delapan jam sehari.
Ketika Anda sedang bekerja dan merasa kewalahan dengan tugas-tugas yang tidak ada habisnya, coba tarik nafas dalam-dalam dengan perlahan. Telepon rumah untuk sekadar ngobrol dengan ibu Anda atau seorang teman lama, atau ngobrol sebentar dengan teman-teman tentang berita hangat di televisi.
Yang jelas, pada saat break seperti ini Anda perlu berhenti berpikir apakah jika Anda sudah bekerja cukup keras (dalam hal berkaitan dengan durasi kerja), maka target kerja Anda akan tercapai. Bagaimana pun, terlalu banyak bekerja dan mengalami stres tidak akan memberi manfaat untuk kesehatan dan kualitas hidup Anda kan? Berikan juga waktu berkualitas Anda untuk kehidupan sosial Anda, entah itu untuk keluarga, teman-teman, ibadah, dan lain sebagainya.
sumber: kompaskarier.com
Karena itu, ada baiknya Anda mengetahui apa yang normal dan yang tidak dengan aktivitas kerja Anda. Kalau Anda merasa selalu stres, atau keluarga dan teman-teman komplain bahwa Anda terlalu banyak bekerja, itulah tanda bahwa Anda memang perlu menahan diri. Untuk mengetahui apakah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, coba jawab pertanyaan di bawah ini:
* Apakah Anda berbaring di tempat tidur sambil bekerja? Saat akhir pekan? Atau saat liburan?
* Apakah Anda bekerja lebih dari 40 jam dalam seminggu?
* Apakah Anda bekerja lembur karena berpikir bahwa kalau tidak lembur pekerjaan tak akan selesai?
* Apakah Anda takut kalau Anda tidak bekerja cukup keras Anda akan kehilangan pekerjaan?
* Apakah Anda masih mengkhawatirkan masa depan sekalipun segala hal masih berjalan baik?
* Apakah kebiasaan Anda bekerja lembur mengecewakan keluarga, pasangan, atau teman-teman Anda?
* Apakah Anda masih memikirkan pekerjaan saat mengemudi, tertidur, atau ketika orang lain sedang berbicara?
Bagaimana bila Anda menjawab kebanyakan pertanyaan di atas dengan "ya"? Mungkin, Anda perlu berkomitmen dengan program pengurangan stres. Caranya, memulai hari (sejak bangun pagi) dengan membuat "me time" selama lima menit. Cobalah untuk diam tanpa mengerjakan apa pun. Duduk dan dengarkan suara-suara di sekitar Anda. Tak usah menyusun rencana kegiatan atau membuat "to do list" Anda hari ini.
Saat berada di kantor, manfaatkan 30 menit atau satu jam istirahat dengan makan siang di luar. Fokuslah pada makanan yang sedang disantap, tanpa memikirkan pekerjaan. Bila masih ada sisa waktu, gunakan untuk jalan-jalan di sekitar kantor untuk membeli majalah, cemilan, atau keperluan Anda di rumah. Kemudian, usahakan untuk mengurangi jumlah jam kerja Anda. Mulailah untuk menguranginya 15 menit setiap hari, sampai Anda benar-benar hanya bekerja delapan jam sehari.
Ketika Anda sedang bekerja dan merasa kewalahan dengan tugas-tugas yang tidak ada habisnya, coba tarik nafas dalam-dalam dengan perlahan. Telepon rumah untuk sekadar ngobrol dengan ibu Anda atau seorang teman lama, atau ngobrol sebentar dengan teman-teman tentang berita hangat di televisi.
Yang jelas, pada saat break seperti ini Anda perlu berhenti berpikir apakah jika Anda sudah bekerja cukup keras (dalam hal berkaitan dengan durasi kerja), maka target kerja Anda akan tercapai. Bagaimana pun, terlalu banyak bekerja dan mengalami stres tidak akan memberi manfaat untuk kesehatan dan kualitas hidup Anda kan? Berikan juga waktu berkualitas Anda untuk kehidupan sosial Anda, entah itu untuk keluarga, teman-teman, ibadah, dan lain sebagainya.
sumber: kompaskarier.com
Langganan:
Postingan (Atom)