12 Desember 2013

Makan Berantakan Tingkatkan Kemampuan Belajar Anak

Untuk anak balita, waktu makan tampaknya menjadi waktu bermain. Rasanya baru 5 menit Anda menempatkannya di kursi tinggi dan memberikan sepiring makanan. Lalu,  dalam sekejap makanannya sudah berpindah ke wajah, meja, dan bajunya. Si kecil pun tampak seperti lukisan abstrak!

Ini memang mengesalkan dan menguji kesabaran, apalagi saat ia tak sengaja melemparkan makanan ke wajah Anda. Jangan dulu marah atau langsung menyuapinya agar si kecil cepat menghabiskan makanan dan meja tidak kotor.

Menurut sebuah studi yang dilakukan di University of Iowa, semakin sering anak Anda melakukan hal ini (makan berantakan), semakin banyak ia belajar.

Penelitian ini dilakukan terhadap 74 balita berusia 16 bulan. Mereka diharuskan mengonsumsi 14 makanan non-padat, seperti saus apel, puding, jus, dan sup. Beberapa anak didudukkan di sebuah kursi tinggi dan beberapa balita lainnya tidak. Balita-balita ini kemudian dikenalkan dengan kata-kata seperti "dax" dan "kiv". Semenit kemudian, balita diminta mengindentifikasi makanan yang sama dalam berbagai ukuran dan bentuk.

Penelitian ini membuktikan bahwa anak yang berani kotor, sering duduk di kursi tinggi (baby chair), dan belajar makan sendiri meski berantakan akan belajar lebih banyak kata-kata dibanding yang tidak. Mereka disinyalir juga menjadi anak yang lebih cepat belajar dalam jangka panjang.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Developmental Science menyimpulkan, balita yang bermain dengan makanan mereka, terutama yang lengket, lembek, dan sedikit cair, akan lebih pintar.

Para peneliti menemukan bahwa balita yang sering makan berantakan akan mempelajari makanan melalui semua indera mereka, seperti peraba, pengecap, perasa, dan sensorik (untuk melempar). Balita ini tidak hanya mengandalkan pada bentuk dan ukuran makanan yang dilihat saja, tetapi juga mengidentifikasi makanan lewat teksturnya.

Duduk di kursi tinggi ternyata juga membuat perbedaan. Pengaturan ketinggian ini akan membuat mereka bisa melihat banyak perbedaan. "Di sini, saat makan mereka bisa melihat banyak hal, selain makanan non-padat mereka," ungkap Larissa Samuelson, salah satu peneliti.

Duduk di kursi tinggi juga membuat mereka lebih aktif dalam belajar. "Mungkin ini terlihat seperti permainan. Anak duduk di kursi tinggi kemudian makan berantakan dan melemparkan makanan. Namun, sisi baiknya, mereka mendapatkan banyak informasi dari tindakan mereka ini," tambahnya.

Meski begitu, tak berarti Anda boleh membiarkan mereka melemparkan makanan sesukanya. Yang harus Anda lakukan adalah mengajarinya untuk memasukkan makanan dengan tepat ke dalam mulut. Anda juga dapat mempersiapkan celemek makan, melapisi meja dengan plastik dan serbet agar cipratan makanannya tak terlalu mengotori tempat lainnya.

http://female.kompas.com

6 Desember 2013

Belajar Menerima Kehilangan Buah Hati dari Film Gravity

Mungkin Anda sudah menonton film Gravity yang dibintangi oleh Sandra Bullock. Meski film yang menceritakan tentang usaha seorang astronot untuk bertahan di luar angkasa ini ber-genre thriller, tetapi sebagai orangtua kita juga bisa mendapat inspirasi tentang belajar menerima kehilangan.

Dalam cerita tersebut, Ryan Stone (diperankan Bullock) adalah seorang astronot wanita yang masih belum menerima kematian putrinya. Kisah kematian putrinya sangat datar, hanya dijelaskan dalam beberapa kalimat singkat.

Tetapi dari kalimat-kalimat singkat itu kita bisa ikut merasakan perasaan kehilangan yang amat dalam. Terombang-ambing sendirian di luar angkasa, tentu tak ada alasan bagi Stone untuk kembali ke bumi karena tak ada orang di bumi yang menunggunya. Ketika merasa tak punya apa-apa di dunia, untuk apa lagi kita hidup?

Tentu kita sudah sering mendengar, atau mungkin Anda sendiri pernah mengucapkan, "Saya tak akan bisa bertahan jika anakku meninggal".

Setiap orangtua tentu memiliki perasaan sangat mencintai anak mereka lebih daripada dirinya sendiri. Jika buah hati kita dikuburkan, maka rasanya tak ada pilihan lain bagi kita selain ikut bersamanya ke alam baka.

Dalam film Gravity, meski ini adalah film science, tetapi bisa menjadi metafora yang baik mengenai kehidupan setelah kehilangan orang yang paling kita cintai.

Bagaimana orangtua yang pernah kehilangan anaknya harus membuat pilihan untuk hidup ketika satu-satunya alasan untuk bertahan hidup sudah tak ada lagi.

Saat menonton film tersebut, kita bisa melihat karakter Stone juga merasa semua harapannya sudah hilang dan ia bersiap-siap untuk menyerah dan mati. Ia tak mau berjuang untuk kembali ke bumi. Tapi kemudian, ia seperti semua orangtua pemberani lainnya, yang mengenang buah hati mereka dan memilih untuk hidup. Demi buah hati dan untuk diri sendiri.

Ketika akhirnya Stone mendarat kembali ke bumi, dan ia harus belajar berjalan kembali. Dengan hati-hati ia berdiri dan melangkah di tempat yang belum dikenalnya. Orangtua yang pernah melewati duka akibat kehilangan buah hatinya tentu juga pernah merasakan beratnya harus melangkah. Tetapi ketika langkah tersebut sudah dilakukan, semangat hidup akan kembali lagi.

http://female.kompas.com

19 November 2013

7 Sifat Balita yang Perlu Dihadapi dengan Kesabaran

Tingkah laku balita memang luar biasa, bahkan terkadang membingungkan dan di luar logika. Berikut adalah 7 sifat para balita yang kadang membuat kita gemas dan harus lebih sabar menghadapinya.

1. Tidak punya takut
Anak-anak sebenarnya bukan pemberani dan mereka juga tidak perkasa. Justru mereka bersikap irasional dan tidak punya rasa takut. Ini mereka tunjukkan dengan tak segan menarik buntut kucing atau meluncur dari tempat tinggi. Tetapi jangan khawatir, ini merupakan bagian dari perkembangan mereka. Selama hal itu aman, biarkan ia mencoba.

2. Mengucapkan apa yang dipikirkan
Balita memang belum bisa memilah sehingga jika mereka berpikir sesuatu, mereka akan mengatakan hal tersebut. Ini terkadang membuat orangtua malu, terutama karena balita sering berkata dengan suara kencang di tempat umum. Ini adalah tahapan anak belajar kapan harus mengatakan sesuatu, pada siapa, dan di mana.

3. Tidak punya konsep waktu
Anda bisa saja bosan memberitahunya bahwa sekarang masih subuh dan sebaiknya ia tidur lagi. Tetapi ketika ia mengatakan "sekarang" dan sudah terbangun, ia berharap orang lain juga melakukannya.

Biasanya anak baru memahami konsep waktu saat ia berusia empat tahun. Pada saat itu anak juga sudah bisa tidur nyenyak di malam hari dan terjaga lebih lama di siang hari.

4. Terikat pada benda aneh
Jika ia diminta memilih beberapa benda indah dan mahal yang sudah Anda berikan, ia justru memilih benda-benda usang, rusak, dan terus menyimpannya. Sebenarnya ia sedang menunjukkan kemandiriannya bahwa ia juga punya pilihan sendiri.

5. Susah makan
Memang tidak semua anak susah makan, tetapi sebagian besar anak memiliki pilihan sendiri terhadap apa yang ingin diasupnya. Dan ini membuat gemas orangtua karena mereka cenderung memilih makanan yang itu-itu saja dan menutup mulut untuk sayuran.

6. Senang memencet tombol
Rasanya mereka selalu sibuk menyentuh setiap benda dan memencet semua tombol yang dilihatnya. Kebiasaannya itu sebenarnya bagian dari eksplorasinya terhadap dunia di sekitarnya. Amankan benda-benda elektronik yang berbahaya di sekitarnya agar ia tetap bisa memuaskan rasa ingin tahunya dengan aman.

7. Sering sok tahu
Bukan cuma "ngeyel", balita juga terkadang sangat keras kepala dan seolah ingin menguji kesabaran Anda dengan melakukan hal-hal yang dilarang. Jangan cemas, dengan membuat kesalahan balita akan belajar banyak.

 http://female.kompas.com

Antisipasi Anak Hilang, Ajarkan Ini ke Anak

Beberapa pekan lalu publik Jakarta khususnya, diramaikan oleh berita hilangnya Alma Aini Hakim (6), di kawasan Monas. Beruntung ia dirawat oleh keluarga yang baik hati dan akhirnya bisa ditemukan.

Apa sebetulnya yang terjadi pada Alma? Kemampuan kognitif seorang anak berkembang secara bertahap dan sesuai usianya. Contohnya, di usia 2 tahun anak biasanya akan mempelajari lingkungan rumah tempat tinggalnya, seperti di mana ruang tamu, kamar tidur, dan sebagainya.

Di usia 3-4 tahun, anak belajar tentang lingkungan tetangga, dan di usia 5 tahun, ia belajar lingkungan rumah ke sekolah, dan seterusnya. Anak juga belajar memahami orang-orang di lingkungannya, seperti orangtua, kakak, tante, dan sebagainya.

Situasi lebih rumit dihadapi anak ketika ia kehilangan orangtua atau orang yang mendampinginya di keramaian. Adib Setiawan, MPSi, psikolog dari www.praktekpsikolog.com, Jakarta, menyarankan orangtua atau orang dewasa yang mendampingi anak untuk tetap berdiri di tempat semula, karena seorang anak secara alamiah akan kembali ke tempat semula.

Biasanya anak baru memahami langkah yang harus ia lakukan supaya tidak hilang ketika ia duduk di kelas 4 SD. Ia sudah berpikir secara abstrak, bukan hanya simbol. Sebelum kelas 4 SD atau di bawah 10 tahun, mau tidak mau anak harus selalu berada di dekat orangtua, apalagi ketika di keramaian.

Ajarkan anak berkomunikasi dengan orang yang dikenal atau tidak dikenal, orang yang sepertinya bakal berbuat jahat atau tidak. "Kenalkan berbagai tipe dan profesi, seperti pengemis, petugas keamanan, pedagang, sehingga kemampuan kognitif dan wawasan terhadap lingkungannya berkembang," jelas Adib. Ketika ia tersesat anak bisa melapor ke petugas keamanan.

Lalu, apa yang harus diajarkan orangtua pada anaknya di keramaian dan mengantisipasi jika suatu saat anak tersesat atau hilang? Yang pertama, kata Adib, minta anak berdiri di tempat-tempat yang terlihat, dan minta ia untuk tidak pergi ke mana-mana. Kenakan baju yang mencolok supaya lokasi anak bisa terlihat.

Khusus untuk anak yang mengalami gangguan perkembangan kogntifi, Adib menyarankan agar mengenakan baju dengan nama (name tag) menyatu dengan pakaian, nama orangtua, serta nomor kontak yang bisa dihubungi. Ini karena anak-anak seperti ini lebih sulit berkomunikasi.

Orangtua juga harus selalu menjaga dan mengawasi anaknya, misalnya dengan menggandengnya atau berjalan di belakang anak supaya selalu terpantau. "Orangtua sebaiknya tidak 'menitipkan' pengawasan anak ke orang lain, karena pasti rasa pedulinya berbeda," katanya.

 http://female.kompas.com

11 November 2013

Sediakan Waktu 10 Menit demi Kecerdasan Anak

Salah satu fase paling membahagiakan bagi orangtua ialah ketika sang buah hati mulai masuk sekolah. Pada fase ini, orangtua harus menyikapinya dengan hati-hati.
Meskipun baru pada tahapan pertama sekolah, bukan berarti ia tidak dibebani dengan pekerjaan rumah. Justru sebaliknya, di sinilah tugas Anda untuk mendampingi anak agar tidak berat menjalaninya.
Amy Murray, Kepala Sekolah Early Childhood Education, mengatakan, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa pada tahun sekolah dasar, satu-satunya pekerjaan rumah yang membawa manfaat bagi anak-anak adalah membaca secara rutin di rumah.
"Anak-anak bekerja keras sepanjang hari di sekolah. Nah, saat di rumah, mereka harus memiliki waktu untuk bersantai dan berkomunikasi kembali dengan keluarga mereka. Tumpukan pekerjaan rumah atau tugas sekolah pada awal tahun ajaran hanya akan membunuh rasa cinta anak terhadap belajar dan antusiasme terhadap sekolah," lanjutnya.
Bahkan, penelitian yang pernah dipublikasikan dalam New York Times mengungkapkan, waktu yang dianjurkan untuk mengerjakan tugas sekolah bagi anak pada tahun pertama sekolah hanya 10 menit.
"Aturan 10 menit untuk belajar di rumah sangat efektif dan menunjukkan hubungan antara berapa banyak mereka mengerjakan tugas sekolah serta bagaimana mereka akan merasakannya," ujar Dr Harris Cooper dari Duke University pada penelitiannya itu.
Menurut sebuah penelitian di Inggris, rata-rata anak "menguras otak" atau berpikir selama 54 jam setiap minggunya. Rata-rata anak menghabiskan waktunya sebanyak 32 jam setengah di sekolah, tujuh jam setengah untuk mengerjakan tugas sekolah, dua jam setengah untuk kegiatan ekstrakulikuler atau les, dan 12 jam untuk membaca buku atau belajar bersama orangtua mereka.
Agar anak Anda tidak merasa tertekan dalam melakukan tugas sekolahnya, Anda dapat melatihnya dengan cara yang lebih santai dan menarik. Berikut caranya.
Pilih buku bacaan dengan karakter idola mereka
Coba ajak anak untuk membaca buku yang memiliki karakter idola mereka. Dipastikan, keinginan untuk belajar akan terangsang dan ia tidak cepat bosan. Setelah ia tampak menguasai buku tersebut, coba minta dirinya untuk mengulang kembali cerita yang ada di dalam buku tersebut.
Alihkan ke buku komik
Menggunakan buku komik dapat menjadi salah satu senjata untuk anak agar tertarik untuk membaca.
"Doronglah minat baca anak dengan memberikan buku-buku pengetahuan yang menyajikan gambar menarik bagi anak. Kini, telah banyak penerbit menerapkan metode ini, yaitu menawarkan buku pendidikan anak, tetapi dikemas seperti komik. Dengan begitu, proses pembelajaran akan terasa lebih menarik, dibandingkan menggunakan buku sastra lainnya," kata ahli literatur anak-anak, Carol Tilley, profesor di University of Illinois.

Gunakan aplikasi di "smartphone" Anda
Balita zaman sekarang adalah generasi mawas teknologi. Melihat fenomena ini, orangtua harus waspada sebab bisa jadi anak menjadi tidak fokus pada pendidikan karena asyik bermain gadget. Maka dari itu, Anda harus pintar pilih aplikasi yang sesuai usia dan kebutuhan anak Anda. Sekarang sudah banyak smartphone yang menyediakan aplikasi yang mendukung perkembangan kecerdasan anak.

http://female.kompas.com

6 November 2013

Everyday Moments to Treasure

And yet I will show you the most excellent way. If I speak in the tongues of men or of angels, but do not have love, I am only a resounding gong or a clanging cymbal. - 1 Corinthians 12:31;13:1

Each morning, I have a routine with my man. It’s simple. Nothing profound. Nothing for which we’d ever stop and snap a picture.
It's just a moment.
He asks me to help him pick a tie. He then goes away to fuss with this fixture of his professional job. Soon, he returns with a flipped up collar and a pressed down, knotted tie. He needs gentle hands to fold the collar over. Actually, he doesn’t need. He wants gentle hands to fold the collar over.
But it’s a moment when we follow the “excellent way” of love. In the intersection of this moment, we’re once again saying to each other: I love you. I love you, too.
Now, please don’t get an overly idyllic picture in your head of our marriage. Heavens, no. We have plenty of those “growth opportunity” moments, too.

But this moment with the tie, it’s like a spot of glue ever tightening the bond between us day by day. It’s so simple, and yet something I would miss with the deepest ache imaginable if today were the last of the moments.

If today.

Tears slip as I think about this.

Dear God, help me think about this. Let me snap a hundred of these moments with the lens of my heart to be stored and appreciated and thought of as the great treasures they are.
Let my mind park there.

Let my heart relish there.

Let my mouth dare to whisper what a joy this is. I love you. I love us. I love this moment each day.

Our relationship isn’t perfect; no relationship is perfect. We’re two very strong-willed people with vastly different approaches to life. And, oh, how easy it would be to list all the differences. He likes the towel hanging in the same spot. I am more creative. But I stop the list there.
I stop because great love isn’t two people finding the perfect match in one another. Great love is two people making the choice to be a match. A decision. To fold his collar and snap the heart lens and find myself grateful to the point of tears. Tears of relishing today are so much better than tears of what was missed.
Dear Lord, help me to appreciate each moment given to me. I want to park my mind on the daily moments I too often take for granted. Thank You for this joy, so simple but so sweet. In Jesus’ name, Amen.

REMEMBER

Let me snap a hundred “I love you” moments with the lens of my heart to be stored and appreciated and thought of as the great treasures they are.

REFLECT
In what ways can you turn everyday moments into treasures? It may be as simple as relishing a moment in your heart or it may mean beginning a new moment every day, such as folding a collar over a necktie.

RESPOND
Discuss your “moments” with your spouse, your family, or a friend. Ask what stands out to them as important and meaningful and choose together to relish them. Take a photograph or journal about one moment.

POWER VERSES
1 Peter 4:8; Psalm 90:12

by Lysa TerKeurst, from Encouragement for Today
 

29 Oktober 2013

Ajarkan Anak Menggunakan Kata "Tolong", "Terima Kasih'', dan "Maaf"

Psikolog Evi Sukmaningrum, Psi, MSi, dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta, mengatakan, usia batita memang saat yang tepat memperkenalkan hal-hal yang baik termasuk mengajarkan kata-kata sopan. Mengapa? Ada beberapa alasan, antara lain, di usia 18 bulan-2 tahun anak sedang belajar menggunakan kata sifat seperti bagus, jelek, panas, dingin, dan sebagainya.

Selanjutnya, di usia 2-3 tahun, anak tak lagi bicara egosentris dan menjadi lebih sosial. Ditambah lagi di usia ini, pemahaman reseptif anak mulai jalan karena kemampuannya dalam mengeksplorasi, observasi, untuk kemudian meniru sedang berkembang. Jadi memang inilah saatnya mengajarkan kata "terima kasih", "permisi", "tolong", "maaf", dan sebagainya.
Cara yang paling efektif adalah memberi contoh langsung saat anak beraktivitas sehingga ia dapat sekaligus belajar menggunakan kosakata tersebut pada momen yang tepat.

* Tolong
Gunakan kata “tolong” setiap kali membutuhkan bantuan orang lain. Contoh:
• “Adek, tolong dong botol susu yang kosong di kamar diambil.”
• “Mbak, tolong bantu Adek memakai sepatu ya.”
• “Pa, tolong bantu gendong Adek ke kamar mandi, ya.”

* Terima kasih
Gunakan kata “terima kasih” setiap selesai mengerjakan sesuatu. Contoh:
• “Terima kasih Sayang, sudah membantu membereskan mainan. Besok lagi kalau sudah selesai bermain, masukkan lagi ke dalam kotaknya ya.”
• “Terima kasih Mbak, sudah menyiapkan susu Adek.”
• “Terima kasih Papa sudah mengajak Adek berenang.”

* Permisi
Gunakan kata “permisi” untuk suasana yang tepat, misalnya saat meminta jalan di supermarket karena trolley terhalang, bertamu, melompati seseorang, dan sebagainya. Contoh:
• “Permisi, kereta Adek mau lewat ya, Pak.”
• “Permisi Mbak, Adek mau lompat.”

* Maaf
Gunakan kata “maaf” untuk menunjukkan rasa bersalah/penyesalan. Contoh:
• “Maaf ya Sayang, Mama pulang terlambat karena harus ke dokter dulu.”
• “Ayo bilang, maaf ya Mbak, Adek memukul.”
• “Maaf ya Pa, tidak jadi berenang minggu ini.”


Melalui pengenalan kosakata kesopanan saat berkomunikasi dengan orang lain, anak juga akan terkondisikan untuk mengapresiasi nilai-nilai positif. Secara tidak langsung ia belajar menghargai orang lain, berbesar hati mengakui kesalahan, serta menunjukkan empati melalui kata-kata.

Umpama, saat mengucapkan “maaf” karena telah melakukan suatu kesalahan, orangtua bisa mencontohkan kontak mata sehingga anak bisa merasakan penyesalan yang mengiringi permintaan maaf itu. Selain itu juga mendorong anak untuk “bertanggung jawab” atas kesalahan yang dilakukannya. Ia menumpahkan susu temannya, selain minta maaf sodorkan susu miliknya untuk diberikan pada temannya sebagai bagian dari pembelajaran tentang tanggung jawab.
Saat mengucapkan kata “tolong”, orangtua bisa mencontohkan bahwa ia sungguh-sungguh meminta bantuan orang lain. Setelah dibantu, ucapkan “terima kasih” juga dilakukan dengan tulus. Dari situ anak akan belajar ketulusan dan kesadaran bahwa ia membutuhkan orang lain.

http://female.kompas.com