Apakah balita Anda mulai menunjukkan emosinya dengan cara menggigit saat
marah? Jika iya, Anda pun bertanya-tanya, kenapa si kecil menggigit
ketika marah padahal Anda tidak pernah mengajari hal tersebut.
Menurut
therapist anak Jennifer Kolari, bagi orangtua kebiasaan menggigit itu
tentu menakutkan. Namun sebenarnya, kebiasaan itu relatif normal. "Bukan
berarti anak akan tumbuh menjadi orang yang punya masalah pada tingkah
lakunya," ujar Kolari yang juga pembuat situs Connected Parenting itu.
Anak-anak
yang beranjak dua tahun, biasanya memang akan mulai menggigit jika
mereka merasa emosi. Balita menggigit saat frustasi dan tidak tahu
bagaimana caranya menenangkan diri mereka sendiri. "Mereka akan
menggigit siapapun yang ada didekatnya, entah itu temannya atau
orangtuanya," jelas Psikolog Anak Carolyn Humphery.
Apa yang bisa
dilakukan orangtua untuk menangani anak yang suka menggigit? Cara
terbaik adalah dengan menjauhkannya dari orang yang ia gigit.
"Ketika
anak menggigit, angkat atau gendong dia. Dengan tenang, katakan
padanya, "Jangan lakukan itu". Lalu dudukkan anak dan biarkan dia
sendiri selama 1-2 menit," tutur Kolari.
Dengan cara itu, anak
akan paham setiap dia menggigit, dia akan dijauhkan dari sesuatu yang
sebenarnya dia sukai. Sebaiknya, jangan pernah menggigit balik anak
hanya karena ingin memberitahukan padanya bagaimana rasanya digigit.
"Cara itu malah tidak memberinya pelajaran apapun dan dia akan berpikir menggigit itu boleh," tambah Humphrey.
Untuk
mencegah agar anak tidak menggigit, jika Anda melihat dia mulai akan
melakukannya, cobalah menghentikannya. Ajarkan pada anak, untuk
mengungkapkan apa yang ia rasakan saat marah.
Langkah lainnya
adalah dengan mengobrol padanya topik soal 'menggigit' ini. Misalnya
saja dengan mengatakan, "Kita harus mengusir nyamuk nakal ini nih,
karena dia suka menggigit". Obrolan tersebut membantu anak mengatasi
kebiasaan buruknya itu tanpa merasa dipermalukan.
Ajari juga anak
untuk minta maaf pada orang yang telah digigitnya. Jangan lupa juga
untuk memberinya penghargaan atau memujinya jika anak sudah menghentikan
kebiasaannya menggigit.
http://wolipop.detik.com
5 Januari 2014
Hati-hati! Memuji Anak Justru Bisa Berdampak Buruk, Ini Sebabnya
Orangtua kerap memberikan pujian untuk menyenangkan atau meningkatkan
kepercayaan diri anak. Tapi menurut studi terbaru, memuji yang terlalu
berlebihan justru bisa jadi bumerang.
Penelitian yang dilakukan sejumlah universitas di Inggris, Belanda dan Amerika Serikat menemukan bahwa memuji anak yang pemalu atau kepercayaan dirinya rendah justru bisa membuat mereka lebih tertekan. Akibatnya anak jadi merasa harus tampil lebih baik dan akhirnya justru menghindari tantangan yang membuatnya sulit berkembang.
Studi dilakukan pada 240 anak laki-laki dan perempuan berusia delapan hingga 12 tahun. Mereka diberikan 12 pertanyaan untuk menilai tingkat kepercayaan diri. Setelah itu, responden diminta meniru sebuah gambar.
Sebelumnya, kelompok anak yang pemalu dan tidak percaya diri 'dihujani' dengan pujian. Sementara anak yang dianggap punya percaya diri tinggi tetap diberi pujian, namun dalam skala biasa.
Kemudian mereka diminta meniru berbagai gambar dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Mulai dari mudah, sedang hingga sangat sulit. Ternyata, kelompok anak pemalu dan tidak percaya diri yang dipuji secara berlebihan cenderung lebih memilih gambar yang mudah untuk ditiru dibandingkan anak yang percaya diri.
Sedangkan pada anak yang percaya diri, mereka memilih gambar dengan tingkat kesulitan tinggi padahal hanya mendapat sedikit pujian. Hasil studi ini menunjukkan bahwa pujian tidak selalu efektif diterapkan pada setiap anak untuk mengembangkan kemampuannya.
"Jika Anda mengatakan pada anak yang percaya dirinya rendah bahwa mereka telah melakukan sesuatu dengan sangat bagus, maka mereka akan berpikir untuk selalu mengerjakan segala sesuatu sebaik mungkin dan harus membuat orang lain kagum," jelas Eddie Brummelman, salah satu peneliti, seperti dikutip dari Daily Mail.
Hal itu menyebabkan anak tidak berani mengambil tugas atau belajar sesuatu yang di atas standar dan lebih memilih mengerjakan yang mudah. Akibatnya, mereka enggan menerima tantangan baru. Padahal, tantangan diperlukan agar kemampuan kognitif, emosional maupun teknis semakin berkembang.
http://wolipop.detik.com
Penelitian yang dilakukan sejumlah universitas di Inggris, Belanda dan Amerika Serikat menemukan bahwa memuji anak yang pemalu atau kepercayaan dirinya rendah justru bisa membuat mereka lebih tertekan. Akibatnya anak jadi merasa harus tampil lebih baik dan akhirnya justru menghindari tantangan yang membuatnya sulit berkembang.
Studi dilakukan pada 240 anak laki-laki dan perempuan berusia delapan hingga 12 tahun. Mereka diberikan 12 pertanyaan untuk menilai tingkat kepercayaan diri. Setelah itu, responden diminta meniru sebuah gambar.
Sebelumnya, kelompok anak yang pemalu dan tidak percaya diri 'dihujani' dengan pujian. Sementara anak yang dianggap punya percaya diri tinggi tetap diberi pujian, namun dalam skala biasa.
Kemudian mereka diminta meniru berbagai gambar dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Mulai dari mudah, sedang hingga sangat sulit. Ternyata, kelompok anak pemalu dan tidak percaya diri yang dipuji secara berlebihan cenderung lebih memilih gambar yang mudah untuk ditiru dibandingkan anak yang percaya diri.
Sedangkan pada anak yang percaya diri, mereka memilih gambar dengan tingkat kesulitan tinggi padahal hanya mendapat sedikit pujian. Hasil studi ini menunjukkan bahwa pujian tidak selalu efektif diterapkan pada setiap anak untuk mengembangkan kemampuannya.
"Jika Anda mengatakan pada anak yang percaya dirinya rendah bahwa mereka telah melakukan sesuatu dengan sangat bagus, maka mereka akan berpikir untuk selalu mengerjakan segala sesuatu sebaik mungkin dan harus membuat orang lain kagum," jelas Eddie Brummelman, salah satu peneliti, seperti dikutip dari Daily Mail.
Hal itu menyebabkan anak tidak berani mengambil tugas atau belajar sesuatu yang di atas standar dan lebih memilih mengerjakan yang mudah. Akibatnya, mereka enggan menerima tantangan baru. Padahal, tantangan diperlukan agar kemampuan kognitif, emosional maupun teknis semakin berkembang.
http://wolipop.detik.com
12 Desember 2013
Makan Berantakan Tingkatkan Kemampuan Belajar Anak
Untuk anak balita, waktu makan tampaknya menjadi waktu bermain. Rasanya
baru 5 menit Anda menempatkannya di kursi tinggi dan memberikan sepiring
makanan. Lalu, dalam sekejap makanannya sudah berpindah ke wajah,
meja, dan bajunya. Si kecil pun tampak seperti lukisan abstrak!
Ini memang mengesalkan dan menguji kesabaran, apalagi saat ia tak sengaja melemparkan makanan ke wajah Anda. Jangan dulu marah atau langsung menyuapinya agar si kecil cepat menghabiskan makanan dan meja tidak kotor.
Menurut sebuah studi yang dilakukan di University of Iowa, semakin sering anak Anda melakukan hal ini (makan berantakan), semakin banyak ia belajar.
Penelitian ini dilakukan terhadap 74 balita berusia 16 bulan. Mereka diharuskan mengonsumsi 14 makanan non-padat, seperti saus apel, puding, jus, dan sup. Beberapa anak didudukkan di sebuah kursi tinggi dan beberapa balita lainnya tidak. Balita-balita ini kemudian dikenalkan dengan kata-kata seperti "dax" dan "kiv". Semenit kemudian, balita diminta mengindentifikasi makanan yang sama dalam berbagai ukuran dan bentuk.
Penelitian ini membuktikan bahwa anak yang berani kotor, sering duduk di kursi tinggi (baby chair), dan belajar makan sendiri meski berantakan akan belajar lebih banyak kata-kata dibanding yang tidak. Mereka disinyalir juga menjadi anak yang lebih cepat belajar dalam jangka panjang.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Developmental Science menyimpulkan, balita yang bermain dengan makanan mereka, terutama yang lengket, lembek, dan sedikit cair, akan lebih pintar.
Para peneliti menemukan bahwa balita yang sering makan berantakan akan mempelajari makanan melalui semua indera mereka, seperti peraba, pengecap, perasa, dan sensorik (untuk melempar). Balita ini tidak hanya mengandalkan pada bentuk dan ukuran makanan yang dilihat saja, tetapi juga mengidentifikasi makanan lewat teksturnya.
Duduk di kursi tinggi ternyata juga membuat perbedaan. Pengaturan ketinggian ini akan membuat mereka bisa melihat banyak perbedaan. "Di sini, saat makan mereka bisa melihat banyak hal, selain makanan non-padat mereka," ungkap Larissa Samuelson, salah satu peneliti.
Duduk di kursi tinggi juga membuat mereka lebih aktif dalam belajar. "Mungkin ini terlihat seperti permainan. Anak duduk di kursi tinggi kemudian makan berantakan dan melemparkan makanan. Namun, sisi baiknya, mereka mendapatkan banyak informasi dari tindakan mereka ini," tambahnya.
Meski begitu, tak berarti Anda boleh membiarkan mereka melemparkan makanan sesukanya. Yang harus Anda lakukan adalah mengajarinya untuk memasukkan makanan dengan tepat ke dalam mulut. Anda juga dapat mempersiapkan celemek makan, melapisi meja dengan plastik dan serbet agar cipratan makanannya tak terlalu mengotori tempat lainnya.
http://female.kompas.com
Ini memang mengesalkan dan menguji kesabaran, apalagi saat ia tak sengaja melemparkan makanan ke wajah Anda. Jangan dulu marah atau langsung menyuapinya agar si kecil cepat menghabiskan makanan dan meja tidak kotor.
Menurut sebuah studi yang dilakukan di University of Iowa, semakin sering anak Anda melakukan hal ini (makan berantakan), semakin banyak ia belajar.
Penelitian ini dilakukan terhadap 74 balita berusia 16 bulan. Mereka diharuskan mengonsumsi 14 makanan non-padat, seperti saus apel, puding, jus, dan sup. Beberapa anak didudukkan di sebuah kursi tinggi dan beberapa balita lainnya tidak. Balita-balita ini kemudian dikenalkan dengan kata-kata seperti "dax" dan "kiv". Semenit kemudian, balita diminta mengindentifikasi makanan yang sama dalam berbagai ukuran dan bentuk.
Penelitian ini membuktikan bahwa anak yang berani kotor, sering duduk di kursi tinggi (baby chair), dan belajar makan sendiri meski berantakan akan belajar lebih banyak kata-kata dibanding yang tidak. Mereka disinyalir juga menjadi anak yang lebih cepat belajar dalam jangka panjang.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Developmental Science menyimpulkan, balita yang bermain dengan makanan mereka, terutama yang lengket, lembek, dan sedikit cair, akan lebih pintar.
Para peneliti menemukan bahwa balita yang sering makan berantakan akan mempelajari makanan melalui semua indera mereka, seperti peraba, pengecap, perasa, dan sensorik (untuk melempar). Balita ini tidak hanya mengandalkan pada bentuk dan ukuran makanan yang dilihat saja, tetapi juga mengidentifikasi makanan lewat teksturnya.
Duduk di kursi tinggi ternyata juga membuat perbedaan. Pengaturan ketinggian ini akan membuat mereka bisa melihat banyak perbedaan. "Di sini, saat makan mereka bisa melihat banyak hal, selain makanan non-padat mereka," ungkap Larissa Samuelson, salah satu peneliti.
Duduk di kursi tinggi juga membuat mereka lebih aktif dalam belajar. "Mungkin ini terlihat seperti permainan. Anak duduk di kursi tinggi kemudian makan berantakan dan melemparkan makanan. Namun, sisi baiknya, mereka mendapatkan banyak informasi dari tindakan mereka ini," tambahnya.
Meski begitu, tak berarti Anda boleh membiarkan mereka melemparkan makanan sesukanya. Yang harus Anda lakukan adalah mengajarinya untuk memasukkan makanan dengan tepat ke dalam mulut. Anda juga dapat mempersiapkan celemek makan, melapisi meja dengan plastik dan serbet agar cipratan makanannya tak terlalu mengotori tempat lainnya.
http://female.kompas.com
6 Desember 2013
Belajar Menerima Kehilangan Buah Hati dari Film Gravity
Mungkin Anda sudah menonton film Gravity yang dibintangi oleh Sandra
Bullock. Meski film yang menceritakan tentang usaha seorang astronot
untuk bertahan di luar angkasa ini ber-genre thriller, tetapi sebagai
orangtua kita juga bisa mendapat inspirasi tentang belajar menerima
kehilangan.
Dalam cerita tersebut, Ryan Stone (diperankan Bullock) adalah seorang astronot wanita yang masih belum menerima kematian putrinya. Kisah kematian putrinya sangat datar, hanya dijelaskan dalam beberapa kalimat singkat.
Tetapi dari kalimat-kalimat singkat itu kita bisa ikut merasakan perasaan kehilangan yang amat dalam. Terombang-ambing sendirian di luar angkasa, tentu tak ada alasan bagi Stone untuk kembali ke bumi karena tak ada orang di bumi yang menunggunya. Ketika merasa tak punya apa-apa di dunia, untuk apa lagi kita hidup?
Tentu kita sudah sering mendengar, atau mungkin Anda sendiri pernah mengucapkan, "Saya tak akan bisa bertahan jika anakku meninggal".
Setiap orangtua tentu memiliki perasaan sangat mencintai anak mereka lebih daripada dirinya sendiri. Jika buah hati kita dikuburkan, maka rasanya tak ada pilihan lain bagi kita selain ikut bersamanya ke alam baka.
Dalam film Gravity, meski ini adalah film science, tetapi bisa menjadi metafora yang baik mengenai kehidupan setelah kehilangan orang yang paling kita cintai.
Bagaimana orangtua yang pernah kehilangan anaknya harus membuat pilihan untuk hidup ketika satu-satunya alasan untuk bertahan hidup sudah tak ada lagi.
Saat menonton film tersebut, kita bisa melihat karakter Stone juga merasa semua harapannya sudah hilang dan ia bersiap-siap untuk menyerah dan mati. Ia tak mau berjuang untuk kembali ke bumi. Tapi kemudian, ia seperti semua orangtua pemberani lainnya, yang mengenang buah hati mereka dan memilih untuk hidup. Demi buah hati dan untuk diri sendiri.
Ketika akhirnya Stone mendarat kembali ke bumi, dan ia harus belajar berjalan kembali. Dengan hati-hati ia berdiri dan melangkah di tempat yang belum dikenalnya. Orangtua yang pernah melewati duka akibat kehilangan buah hatinya tentu juga pernah merasakan beratnya harus melangkah. Tetapi ketika langkah tersebut sudah dilakukan, semangat hidup akan kembali lagi.
http://female.kompas.com
Dalam cerita tersebut, Ryan Stone (diperankan Bullock) adalah seorang astronot wanita yang masih belum menerima kematian putrinya. Kisah kematian putrinya sangat datar, hanya dijelaskan dalam beberapa kalimat singkat.
Tetapi dari kalimat-kalimat singkat itu kita bisa ikut merasakan perasaan kehilangan yang amat dalam. Terombang-ambing sendirian di luar angkasa, tentu tak ada alasan bagi Stone untuk kembali ke bumi karena tak ada orang di bumi yang menunggunya. Ketika merasa tak punya apa-apa di dunia, untuk apa lagi kita hidup?
Tentu kita sudah sering mendengar, atau mungkin Anda sendiri pernah mengucapkan, "Saya tak akan bisa bertahan jika anakku meninggal".
Setiap orangtua tentu memiliki perasaan sangat mencintai anak mereka lebih daripada dirinya sendiri. Jika buah hati kita dikuburkan, maka rasanya tak ada pilihan lain bagi kita selain ikut bersamanya ke alam baka.
Dalam film Gravity, meski ini adalah film science, tetapi bisa menjadi metafora yang baik mengenai kehidupan setelah kehilangan orang yang paling kita cintai.
Bagaimana orangtua yang pernah kehilangan anaknya harus membuat pilihan untuk hidup ketika satu-satunya alasan untuk bertahan hidup sudah tak ada lagi.
Saat menonton film tersebut, kita bisa melihat karakter Stone juga merasa semua harapannya sudah hilang dan ia bersiap-siap untuk menyerah dan mati. Ia tak mau berjuang untuk kembali ke bumi. Tapi kemudian, ia seperti semua orangtua pemberani lainnya, yang mengenang buah hati mereka dan memilih untuk hidup. Demi buah hati dan untuk diri sendiri.
Ketika akhirnya Stone mendarat kembali ke bumi, dan ia harus belajar berjalan kembali. Dengan hati-hati ia berdiri dan melangkah di tempat yang belum dikenalnya. Orangtua yang pernah melewati duka akibat kehilangan buah hatinya tentu juga pernah merasakan beratnya harus melangkah. Tetapi ketika langkah tersebut sudah dilakukan, semangat hidup akan kembali lagi.
http://female.kompas.com
19 November 2013
7 Sifat Balita yang Perlu Dihadapi dengan Kesabaran
Tingkah laku balita memang luar biasa, bahkan terkadang membingungkan
dan di luar logika. Berikut adalah 7 sifat para balita yang kadang
membuat kita gemas dan harus lebih sabar menghadapinya.
1. Tidak punya takut
Anak-anak sebenarnya bukan pemberani dan mereka juga tidak perkasa. Justru mereka bersikap irasional dan tidak punya rasa takut. Ini mereka tunjukkan dengan tak segan menarik buntut kucing atau meluncur dari tempat tinggi. Tetapi jangan khawatir, ini merupakan bagian dari perkembangan mereka. Selama hal itu aman, biarkan ia mencoba.
2. Mengucapkan apa yang dipikirkan
Balita memang belum bisa memilah sehingga jika mereka berpikir sesuatu, mereka akan mengatakan hal tersebut. Ini terkadang membuat orangtua malu, terutama karena balita sering berkata dengan suara kencang di tempat umum. Ini adalah tahapan anak belajar kapan harus mengatakan sesuatu, pada siapa, dan di mana.
3. Tidak punya konsep waktu
Anda bisa saja bosan memberitahunya bahwa sekarang masih subuh dan sebaiknya ia tidur lagi. Tetapi ketika ia mengatakan "sekarang" dan sudah terbangun, ia berharap orang lain juga melakukannya.
Biasanya anak baru memahami konsep waktu saat ia berusia empat tahun. Pada saat itu anak juga sudah bisa tidur nyenyak di malam hari dan terjaga lebih lama di siang hari.
4. Terikat pada benda aneh
Jika ia diminta memilih beberapa benda indah dan mahal yang sudah Anda berikan, ia justru memilih benda-benda usang, rusak, dan terus menyimpannya. Sebenarnya ia sedang menunjukkan kemandiriannya bahwa ia juga punya pilihan sendiri.
5. Susah makan
Memang tidak semua anak susah makan, tetapi sebagian besar anak memiliki pilihan sendiri terhadap apa yang ingin diasupnya. Dan ini membuat gemas orangtua karena mereka cenderung memilih makanan yang itu-itu saja dan menutup mulut untuk sayuran.
6. Senang memencet tombol
Rasanya mereka selalu sibuk menyentuh setiap benda dan memencet semua tombol yang dilihatnya. Kebiasaannya itu sebenarnya bagian dari eksplorasinya terhadap dunia di sekitarnya. Amankan benda-benda elektronik yang berbahaya di sekitarnya agar ia tetap bisa memuaskan rasa ingin tahunya dengan aman.
7. Sering sok tahu
Bukan cuma "ngeyel", balita juga terkadang sangat keras kepala dan seolah ingin menguji kesabaran Anda dengan melakukan hal-hal yang dilarang. Jangan cemas, dengan membuat kesalahan balita akan belajar banyak.
http://female.kompas.com
1. Tidak punya takut
Anak-anak sebenarnya bukan pemberani dan mereka juga tidak perkasa. Justru mereka bersikap irasional dan tidak punya rasa takut. Ini mereka tunjukkan dengan tak segan menarik buntut kucing atau meluncur dari tempat tinggi. Tetapi jangan khawatir, ini merupakan bagian dari perkembangan mereka. Selama hal itu aman, biarkan ia mencoba.
2. Mengucapkan apa yang dipikirkan
Balita memang belum bisa memilah sehingga jika mereka berpikir sesuatu, mereka akan mengatakan hal tersebut. Ini terkadang membuat orangtua malu, terutama karena balita sering berkata dengan suara kencang di tempat umum. Ini adalah tahapan anak belajar kapan harus mengatakan sesuatu, pada siapa, dan di mana.
3. Tidak punya konsep waktu
Anda bisa saja bosan memberitahunya bahwa sekarang masih subuh dan sebaiknya ia tidur lagi. Tetapi ketika ia mengatakan "sekarang" dan sudah terbangun, ia berharap orang lain juga melakukannya.
Biasanya anak baru memahami konsep waktu saat ia berusia empat tahun. Pada saat itu anak juga sudah bisa tidur nyenyak di malam hari dan terjaga lebih lama di siang hari.
4. Terikat pada benda aneh
Jika ia diminta memilih beberapa benda indah dan mahal yang sudah Anda berikan, ia justru memilih benda-benda usang, rusak, dan terus menyimpannya. Sebenarnya ia sedang menunjukkan kemandiriannya bahwa ia juga punya pilihan sendiri.
5. Susah makan
Memang tidak semua anak susah makan, tetapi sebagian besar anak memiliki pilihan sendiri terhadap apa yang ingin diasupnya. Dan ini membuat gemas orangtua karena mereka cenderung memilih makanan yang itu-itu saja dan menutup mulut untuk sayuran.
6. Senang memencet tombol
Rasanya mereka selalu sibuk menyentuh setiap benda dan memencet semua tombol yang dilihatnya. Kebiasaannya itu sebenarnya bagian dari eksplorasinya terhadap dunia di sekitarnya. Amankan benda-benda elektronik yang berbahaya di sekitarnya agar ia tetap bisa memuaskan rasa ingin tahunya dengan aman.
7. Sering sok tahu
Bukan cuma "ngeyel", balita juga terkadang sangat keras kepala dan seolah ingin menguji kesabaran Anda dengan melakukan hal-hal yang dilarang. Jangan cemas, dengan membuat kesalahan balita akan belajar banyak.
http://female.kompas.com
Antisipasi Anak Hilang, Ajarkan Ini ke Anak
Beberapa pekan lalu publik Jakarta khususnya, diramaikan oleh berita
hilangnya Alma Aini Hakim (6), di kawasan Monas. Beruntung ia dirawat
oleh keluarga yang baik hati dan akhirnya bisa ditemukan.
Apa sebetulnya yang terjadi pada Alma? Kemampuan kognitif seorang anak berkembang secara bertahap dan sesuai usianya. Contohnya, di usia 2 tahun anak biasanya akan mempelajari lingkungan rumah tempat tinggalnya, seperti di mana ruang tamu, kamar tidur, dan sebagainya.
Di usia 3-4 tahun, anak belajar tentang lingkungan tetangga, dan di usia 5 tahun, ia belajar lingkungan rumah ke sekolah, dan seterusnya. Anak juga belajar memahami orang-orang di lingkungannya, seperti orangtua, kakak, tante, dan sebagainya.
Situasi lebih rumit dihadapi anak ketika ia kehilangan orangtua atau orang yang mendampinginya di keramaian. Adib Setiawan, MPSi, psikolog dari www.praktekpsikolog.com, Jakarta, menyarankan orangtua atau orang dewasa yang mendampingi anak untuk tetap berdiri di tempat semula, karena seorang anak secara alamiah akan kembali ke tempat semula.
Biasanya anak baru memahami langkah yang harus ia lakukan supaya tidak hilang ketika ia duduk di kelas 4 SD. Ia sudah berpikir secara abstrak, bukan hanya simbol. Sebelum kelas 4 SD atau di bawah 10 tahun, mau tidak mau anak harus selalu berada di dekat orangtua, apalagi ketika di keramaian.
Ajarkan anak berkomunikasi dengan orang yang dikenal atau tidak dikenal, orang yang sepertinya bakal berbuat jahat atau tidak. "Kenalkan berbagai tipe dan profesi, seperti pengemis, petugas keamanan, pedagang, sehingga kemampuan kognitif dan wawasan terhadap lingkungannya berkembang," jelas Adib. Ketika ia tersesat anak bisa melapor ke petugas keamanan.
Lalu, apa yang harus diajarkan orangtua pada anaknya di keramaian dan mengantisipasi jika suatu saat anak tersesat atau hilang? Yang pertama, kata Adib, minta anak berdiri di tempat-tempat yang terlihat, dan minta ia untuk tidak pergi ke mana-mana. Kenakan baju yang mencolok supaya lokasi anak bisa terlihat.
Khusus untuk anak yang mengalami gangguan perkembangan kogntifi, Adib menyarankan agar mengenakan baju dengan nama (name tag) menyatu dengan pakaian, nama orangtua, serta nomor kontak yang bisa dihubungi. Ini karena anak-anak seperti ini lebih sulit berkomunikasi.
Orangtua juga harus selalu menjaga dan mengawasi anaknya, misalnya dengan menggandengnya atau berjalan di belakang anak supaya selalu terpantau. "Orangtua sebaiknya tidak 'menitipkan' pengawasan anak ke orang lain, karena pasti rasa pedulinya berbeda," katanya.
http://female.kompas.com
Apa sebetulnya yang terjadi pada Alma? Kemampuan kognitif seorang anak berkembang secara bertahap dan sesuai usianya. Contohnya, di usia 2 tahun anak biasanya akan mempelajari lingkungan rumah tempat tinggalnya, seperti di mana ruang tamu, kamar tidur, dan sebagainya.
Di usia 3-4 tahun, anak belajar tentang lingkungan tetangga, dan di usia 5 tahun, ia belajar lingkungan rumah ke sekolah, dan seterusnya. Anak juga belajar memahami orang-orang di lingkungannya, seperti orangtua, kakak, tante, dan sebagainya.
Situasi lebih rumit dihadapi anak ketika ia kehilangan orangtua atau orang yang mendampinginya di keramaian. Adib Setiawan, MPSi, psikolog dari www.praktekpsikolog.com, Jakarta, menyarankan orangtua atau orang dewasa yang mendampingi anak untuk tetap berdiri di tempat semula, karena seorang anak secara alamiah akan kembali ke tempat semula.
Biasanya anak baru memahami langkah yang harus ia lakukan supaya tidak hilang ketika ia duduk di kelas 4 SD. Ia sudah berpikir secara abstrak, bukan hanya simbol. Sebelum kelas 4 SD atau di bawah 10 tahun, mau tidak mau anak harus selalu berada di dekat orangtua, apalagi ketika di keramaian.
Ajarkan anak berkomunikasi dengan orang yang dikenal atau tidak dikenal, orang yang sepertinya bakal berbuat jahat atau tidak. "Kenalkan berbagai tipe dan profesi, seperti pengemis, petugas keamanan, pedagang, sehingga kemampuan kognitif dan wawasan terhadap lingkungannya berkembang," jelas Adib. Ketika ia tersesat anak bisa melapor ke petugas keamanan.
Lalu, apa yang harus diajarkan orangtua pada anaknya di keramaian dan mengantisipasi jika suatu saat anak tersesat atau hilang? Yang pertama, kata Adib, minta anak berdiri di tempat-tempat yang terlihat, dan minta ia untuk tidak pergi ke mana-mana. Kenakan baju yang mencolok supaya lokasi anak bisa terlihat.
Khusus untuk anak yang mengalami gangguan perkembangan kogntifi, Adib menyarankan agar mengenakan baju dengan nama (name tag) menyatu dengan pakaian, nama orangtua, serta nomor kontak yang bisa dihubungi. Ini karena anak-anak seperti ini lebih sulit berkomunikasi.
Orangtua juga harus selalu menjaga dan mengawasi anaknya, misalnya dengan menggandengnya atau berjalan di belakang anak supaya selalu terpantau. "Orangtua sebaiknya tidak 'menitipkan' pengawasan anak ke orang lain, karena pasti rasa pedulinya berbeda," katanya.
http://female.kompas.com
11 November 2013
Sediakan Waktu 10 Menit demi Kecerdasan Anak
Salah satu fase paling membahagiakan bagi orangtua ialah ketika
sang buah hati mulai masuk sekolah. Pada fase ini, orangtua harus
menyikapinya dengan hati-hati.
Meskipun baru pada tahapan pertama sekolah, bukan berarti ia tidak dibebani dengan pekerjaan rumah. Justru sebaliknya, di sinilah tugas Anda untuk mendampingi anak agar tidak berat menjalaninya.
Amy Murray, Kepala Sekolah Early Childhood Education, mengatakan, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa pada tahun sekolah dasar, satu-satunya pekerjaan rumah yang membawa manfaat bagi anak-anak adalah membaca secara rutin di rumah.
"Anak-anak bekerja keras sepanjang hari di sekolah. Nah, saat di rumah, mereka harus memiliki waktu untuk bersantai dan berkomunikasi kembali dengan keluarga mereka. Tumpukan pekerjaan rumah atau tugas sekolah pada awal tahun ajaran hanya akan membunuh rasa cinta anak terhadap belajar dan antusiasme terhadap sekolah," lanjutnya.
Bahkan, penelitian yang pernah dipublikasikan dalam New York Times mengungkapkan, waktu yang dianjurkan untuk mengerjakan tugas sekolah bagi anak pada tahun pertama sekolah hanya 10 menit.
"Aturan 10 menit untuk belajar di rumah sangat efektif dan menunjukkan hubungan antara berapa banyak mereka mengerjakan tugas sekolah serta bagaimana mereka akan merasakannya," ujar Dr Harris Cooper dari Duke University pada penelitiannya itu.
Menurut sebuah penelitian di Inggris, rata-rata anak "menguras otak" atau berpikir selama 54 jam setiap minggunya. Rata-rata anak menghabiskan waktunya sebanyak 32 jam setengah di sekolah, tujuh jam setengah untuk mengerjakan tugas sekolah, dua jam setengah untuk kegiatan ekstrakulikuler atau les, dan 12 jam untuk membaca buku atau belajar bersama orangtua mereka.
Agar anak Anda tidak merasa tertekan dalam melakukan tugas sekolahnya, Anda dapat melatihnya dengan cara yang lebih santai dan menarik. Berikut caranya.
Pilih buku bacaan dengan karakter idola mereka
Coba ajak anak untuk membaca buku yang memiliki karakter idola mereka. Dipastikan, keinginan untuk belajar akan terangsang dan ia tidak cepat bosan. Setelah ia tampak menguasai buku tersebut, coba minta dirinya untuk mengulang kembali cerita yang ada di dalam buku tersebut.
Alihkan ke buku komik
Menggunakan buku komik dapat menjadi salah satu senjata untuk anak agar tertarik untuk membaca.
"Doronglah minat baca anak dengan memberikan buku-buku pengetahuan yang menyajikan gambar menarik bagi anak. Kini, telah banyak penerbit menerapkan metode ini, yaitu menawarkan buku pendidikan anak, tetapi dikemas seperti komik. Dengan begitu, proses pembelajaran akan terasa lebih menarik, dibandingkan menggunakan buku sastra lainnya," kata ahli literatur anak-anak, Carol Tilley, profesor di University of Illinois.
Gunakan aplikasi di "smartphone" Anda
Balita zaman sekarang adalah generasi mawas teknologi. Melihat fenomena ini, orangtua harus waspada sebab bisa jadi anak menjadi tidak fokus pada pendidikan karena asyik bermain gadget. Maka dari itu, Anda harus pintar pilih aplikasi yang sesuai usia dan kebutuhan anak Anda. Sekarang sudah banyak smartphone yang menyediakan aplikasi yang mendukung perkembangan kecerdasan anak.
http://female.kompas.com
Meskipun baru pada tahapan pertama sekolah, bukan berarti ia tidak dibebani dengan pekerjaan rumah. Justru sebaliknya, di sinilah tugas Anda untuk mendampingi anak agar tidak berat menjalaninya.
Amy Murray, Kepala Sekolah Early Childhood Education, mengatakan, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa pada tahun sekolah dasar, satu-satunya pekerjaan rumah yang membawa manfaat bagi anak-anak adalah membaca secara rutin di rumah.
"Anak-anak bekerja keras sepanjang hari di sekolah. Nah, saat di rumah, mereka harus memiliki waktu untuk bersantai dan berkomunikasi kembali dengan keluarga mereka. Tumpukan pekerjaan rumah atau tugas sekolah pada awal tahun ajaran hanya akan membunuh rasa cinta anak terhadap belajar dan antusiasme terhadap sekolah," lanjutnya.
Bahkan, penelitian yang pernah dipublikasikan dalam New York Times mengungkapkan, waktu yang dianjurkan untuk mengerjakan tugas sekolah bagi anak pada tahun pertama sekolah hanya 10 menit.
"Aturan 10 menit untuk belajar di rumah sangat efektif dan menunjukkan hubungan antara berapa banyak mereka mengerjakan tugas sekolah serta bagaimana mereka akan merasakannya," ujar Dr Harris Cooper dari Duke University pada penelitiannya itu.
Menurut sebuah penelitian di Inggris, rata-rata anak "menguras otak" atau berpikir selama 54 jam setiap minggunya. Rata-rata anak menghabiskan waktunya sebanyak 32 jam setengah di sekolah, tujuh jam setengah untuk mengerjakan tugas sekolah, dua jam setengah untuk kegiatan ekstrakulikuler atau les, dan 12 jam untuk membaca buku atau belajar bersama orangtua mereka.
Agar anak Anda tidak merasa tertekan dalam melakukan tugas sekolahnya, Anda dapat melatihnya dengan cara yang lebih santai dan menarik. Berikut caranya.
Pilih buku bacaan dengan karakter idola mereka
Coba ajak anak untuk membaca buku yang memiliki karakter idola mereka. Dipastikan, keinginan untuk belajar akan terangsang dan ia tidak cepat bosan. Setelah ia tampak menguasai buku tersebut, coba minta dirinya untuk mengulang kembali cerita yang ada di dalam buku tersebut.
Alihkan ke buku komik
Menggunakan buku komik dapat menjadi salah satu senjata untuk anak agar tertarik untuk membaca.
"Doronglah minat baca anak dengan memberikan buku-buku pengetahuan yang menyajikan gambar menarik bagi anak. Kini, telah banyak penerbit menerapkan metode ini, yaitu menawarkan buku pendidikan anak, tetapi dikemas seperti komik. Dengan begitu, proses pembelajaran akan terasa lebih menarik, dibandingkan menggunakan buku sastra lainnya," kata ahli literatur anak-anak, Carol Tilley, profesor di University of Illinois.
Gunakan aplikasi di "smartphone" Anda
Balita zaman sekarang adalah generasi mawas teknologi. Melihat fenomena ini, orangtua harus waspada sebab bisa jadi anak menjadi tidak fokus pada pendidikan karena asyik bermain gadget. Maka dari itu, Anda harus pintar pilih aplikasi yang sesuai usia dan kebutuhan anak Anda. Sekarang sudah banyak smartphone yang menyediakan aplikasi yang mendukung perkembangan kecerdasan anak.
http://female.kompas.com
Langganan:
Postingan (Atom)