16 Desember 2012

Ajarkan Anak Table Manners



Tata krama di meja makan penting untuk diajarkan kepada anak sejak awal. 

Hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembangnya di waktu yang akan datang. Karena itu ibu harus bisa mengajarkan kepada sang buah hati.

Berikut ini cara melatih anak table maners, seperti yang dikutip dari
 boldsky.

Buatlah aturan

Mulai ajarkan anak sopan santun dirumah, buatlah aturan bahwa anak anda harus makan menggunakan sendok, garpu dan pisau di rumah sampai mereka dapat belajar makan dengan benar. Kemudian undang kerabat untuk makan bersama dirumah anda.

Latih setiap hari
 
Praktekan bagaimana cara makan dengan sendok dan garpu dengan benar karena anak-anak tidak akan mengerti dengan sendirinya tata krama makan di meja makan.
 

Makanan bukan mainan
Katakan pada anak anda dengan tegas, makanan bukanlah suatu mainan. Banyak anak yang memiliki kebiasaan menjadikan makanan sebagai mainan. Ajarkan anak anda untuk menghormati makanan dan sopan santun di meja makan maka mereka secara otomatisakan mengikuti.

Jangan menyebarkan makanan
Kebanyakan anak tidak sengaja menyebarkan makananya. Hal ini karena tangan mereka masih kaku dalam menggerakan sendok dan garpu karena itu bersabarlah. Mereka tidak bisa makan dengan sempurna seperti orang dewasa.

Dan yang paling penting mereka belajar apa yang orangtuanya lakukan. Anak akan mengamati dan mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. Duduklah bersama anak anda di meja makan dan tunjukan cara makan yang tepat pada mereka
 

Jadilah Sahabat Anak



Perilaku orang tua dalam mendidik sang buah hati memang berbeda-beda. 

Pola asuh orangtua biasanya merupakan pola asuh yang diterima sang orang tua ketika mereka masih kecil.
 

Kadang kekerasan baik fisik dan batin tanpa sadar sering dilakukan oleh orangtua.
 

Agar anak bisa tumbuh secara normal dan menjadi pribadi yang hangat orangtua perlu mengubah pola asuh tersebut agar hubungan dengan anak tetap baik.

Jadilah sahabat anak, tinggalkan semua ego dan rasa superior agar anak bisa jadilebih dekat dan anak juga akan merasa selalu nyaman ketika dekat dengan Anda.
 

Berikut beberapa tips yang disampaikan oleh Psikolog anak, Yuvita Fandy, untuk orang tua yang ingin mengubah prilaku negatif tersebut.
 

Mengubah prilaku negatif harus dengan kesadaran penuh bahwa prilaku yang dilakukan kurang tepat. Mengevaluasi pola asuhnya dan berani untuk belajar pola asuh yang lebih baik demi perkembangan anak di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Lakukan Dialog dari hati ke hati antara orang tua dengan anak untuk mengubah situasi yang kurang nyaman akibat prilaku yang salah. Tekankan dalam dialog tersebut bahwa orang tua akan sama-sama belajar, berubah dan akan selalu siap untuk mendengarkan aspirasi anak
 

Perbaiki pola asuh dan prilaku yang salah itu berdasarkan masukan dari anak. Orang tua juga bisa melakukan konsultasi dengan konselor atau piskolog.
 

Buatlah jadwal kegitatan sehari-hari bersama anak. Tujuannya untuk terus menjalin kedekatan emosional dengan anak, Dalam hal ini orang tua harus konsisten mematuhi jadwal yang telah disepakati otomatis anak akan belajar menjadi pribadi yang disiplin dengan belajar dari contoh yang mereka lihat setiap harinya.
 

Sumber: 

Ghiboo.com


Perilaku Orangtua yang Membuat Anak Stress

 Anak-anak juga bisa stress karena perlakuan orang tua.

Sosok orang tua haruslah hangat dan dapat memberikan kasih sayang secara penuh kepada sang anak.

Bila anak stress dengan perlakuan orang tua ini akan membuat hubungan antara anak dan orang tua menjadi buruk.

Berikut ini beberapa prilaku orang tua yang dapat membuat anak stress, seperti yang dijelaskan oleh Psikolog dari FAME, Yuvita Fandy, M.Psi:

1. Orang tua lebih banyak melarang daripada memberitahu apa yang dapat dilakukan oleh sang anak. misalnya melarang bermain diluar rumah sehingga anak merasa seperti di penjara dan tidak memiliki teman.

2. Menerapkan peraturan yang kaku tanpa memberikan penjelasan terhadap anak. Dalam hal ini mungkin orangtua ingin belajar disiplin, namun anak akan merasa sangat diatur dan tidak bisa mengembangkan diri.

4. Menuntut anak untuk memiliki prestasi yang lebih baik. Dalam kasus ini orangtua seharusnya memberikan pujian terlebih dahulu kepada anak, tanyakan pada anak begaimana usahanya mendaptkan nilai tersebut. Lalu kemudian ortu dapat menambahkan semangat kepada anaknya untuk lebih meningkatkan prestasinya.

5. Orang tua membandingkan anak dengan Kakak, adik, saudara atau temannya. Anak memiliki keuunikannya masing-masing Kelebihan dan kekurangannya juga berbedda-beda. Jadi jangan pernah membandingkan anak lain karena mereka memiliki kelebihan tersendiri.

6. Tanpa sadar orangtua memberikan lebel negatif pada anak seperti, bodoh, nakal dan malas. hal ini akan membuat anak merasa seperti apa yang dikatakan oleh orangtunya dan membuat sang anak jadi kurang percaya diri. 
Sumber;   ghiboo.com

14 Desember 2012

Cinta Membuat Anda Mengonsumsi Makanan Sehat


Cinta memang dapat membuat Anda melakukan hal yang cukup bodoh. Tetapi ternyata cinta juga dapat membantu Anda membuat keputusan yang lebih bijak saat ingin makan camilan.

Itulah hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam “Journal of Consumer Behaviour”.

Dalam rangka memahami pesan tersembunyi yang membuat kita memilih makanan ringan menyehatkan, para peneliti Northern Kentucky University mengadakan penelitian untuk mengetahui apakah orang-orang dipengaruhi oleh ingatan mengenai cinta atau seks.

Untuk melakukannya, mereka menunjukkan satu dari dua menu makanan kepada 97 mahasiswa. Setiap menu terdiri dari daftar camilan biasa termasuk apel, jeruk, satu potong sereal, cokelat, serta permen. Satu-satunya perbedaan di antara kedua menu tersebut adalah pesan tersembunyi di balik gambar hati dan ciuman yang ada pada halaman-halaman menunya.

Berdasarkan sebuah pra-tes yang dilakukan terhadap para partisipan, gambar hati menggambarkan jenis cinta yang memiliki komitmen, kehangatan, serta hubungan jangka panjang di mana seks tidak memainkan peran penting (seperti halnya bercumbu). Di sisi lain, ciuman membangkitkan perasaan gairah dan hubungan yang lebih cenderung pada seks.

Pada akhirnya, pengingat berupa simbol hati memicu pilihan makanan yang lebih bernutrisi, sementara simbol bibir tidak membuat orang-orang menjauhi camilan yang tidak sehat. 

Jadi rekatkan potongan berbentuk hati di lemari es Anda, karena menurut peneliti David Raska, Ph.D., seorang asisten profesor marketing di Northern Kentucky University, jenis hubungan yang kita pilih dapat mempengaruhi kebiasaan makan kita. “Saat ada hubungan jangka panjang, orang cenderung berpikir konkret, jadi masuk akal jika mereka berpikir mengenai kesehatan masa depan dan membuat pilihan yang lebih sehat,” tulisnya.

Tentu saja, bahkan dengan memiliki pasangan tetap, kita semua senang memanjakan diri dari waktu ke waktu. (Keripik kentang dan cokelat? Ya, tentu saja). 

Tanpa pengingat yang membuat kita berpikir mengenai kesehatan jangka panjang, Raska mengatakan bahwa kita cenderung suka merusak pola makan kita sendiri.

Jadi mulailah menempelkan gambar hati.

Sumber: Yahoo!SHE

Wanita

Ayat bacaan: Titus 2:3
================
"Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah"

wanita, sepadan, sederajat, istimewaSuatu kali ada seorang teman yang bercerita bahwa ia merasa tersisih dalam keluarganya semasa kecil. Orangtuanya ternyata lebih sayang kepada adiknya laki-laki, yang dianggap sebagai penerus silsilah. "Saya cuma perempuan..tidak ada nilainya sama sekali.." katanya sedih. Dalam adat di beberapa suku bangsa mungkin demikian. Status wanita bagi sebagian kalangan dianggap lebih rendah dibanding pria. Hak-hak mereka terbatas dalam banyak hal. Padahal sosok ibu sangatlah mulia bagi kita semua. Ungkapan "surga ada dibawah telapak kaki ibu", penyebutan ibu kota, ibu pertiwi, motherland dan sebagainya menunjukkan penghargaan yang begitu besar bagi ibu yang notabene adalah wanita. Meski demikian, saya sudah bertemu dengan beberapa wanita yang kemudian mengalami banyak masalah dengan kepercayaan diri mereka berawal dari apa yang mereka alami dalam keluarganya sejak kecil. Apakah Tuhan menciptakan wanita untuk berada di bawah nilai pria, atau hanya berfungsi sebagai pelengkap penderita saja dan tidak layak untuk mendapat kehormatan? Atau haruskah anda yang wanita menyesal dilahirkan bukan sebagai pria, seperti halnya teman saya itu? Saya yakin tidak. Di mata Tuhan semua manusia ciptaanNya sama berharga, dan sama dikasihiNya. Tidak ada perbedaan gender dalam curahan kasih yang berasal dari Allah. Dan Alkitab pun banyak mencatat bahwa wanita memiliki peran-peran yang luar biasa penting bagi kelangsungan hidup manusia. Bukan saja sebagai sosok yang melahirkan, tetapi punya peranan yang luar biasa vital pula dalam perkembangan manusia termasuk di dalamnya dari segi spiritual.

Sejak awal kitab Kejadian Tuhan sudah menyatakan peran penting figur wanita. Perhatikan ayat berikut: "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). IT IS NOT GOOD, kata Tuhan, bagi pria untuk hidup sendirian. Maka wanita pun Dia ciptakan dengan fungsi sebagai penolong. Bukan pelengkap penderita, tetapi penolong. Lalu penolong yang bagaimana? Yang sepadan. Bukan dibawah, tetapi sepadan, sederajat. Kata penolong dan sepadan menunjukkan dengan jelas bagaimana pentingnya arti wanita di mata Tuhan.

Dalam Titus kita bisa menemukan pesan penting lainnya buat wanita. Demikian bunyinya: "Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah.." (Titus 2:3). Wanita yang dewasa diingatkan agar hidup sebagai orang-orang yang beribadah. Ayat ini kemudian dilanjutkan dengan peringatan "jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik." Ini penting untuk diingat agar para wanita dewasa mampu "mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya." (ay 4-5). Dan semua ini dilakukan "agar Firman Allah jangan dihujat orang."  Itu artinya peran yang diemban wanita sungguhlah penting. Bukan hanya bagi diri mereka sendiri dan keluarga, tetapi lebih dari itu juga penting untuk merepresentasikan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Seorang wanita yang mengemban tugas dengan baik dan menjalankan fungsi mereka seperti yang dikehendaki Tuhan akan menjadi kesaksian tersendiri di muka bumi ini.

Kembali kepada ayat bacaan kita di atas, para wanita diminta untuk menunjukkan kehidupan sebagai orang-orang beribadah. Kata beribadah bukanlah sekedar ke gereja atau menyanyikan puji-pujian, tetapi lebih dari itu, sebuah ibadah sejati haruslah menyangkut segala aspek kehidupan kita, termasuk mempersembahkan diri kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan bagi Allah. "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1).

Bayangkan bagaimana gersangnya hidup tanpa adanya sentuhan wanita didalamnya. Bayangkan bagaimana dunia tanpa adanya kehadiran para wanita. Hari ini secara khusus saya ingin memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada anda, kaum wanita. Bersyukurlah jika anda dilahirkan sebagai wanita, sebab anda istimewa di mataNya. Embanlah tugas dan fungsi seperti yang telah dipesankan Tuhan dengan sebaik-baiknya, dan jadilah kesaksian yang indah yang akan memuliakan Tuhan di mata dunia. Bagikan kehidupan yang bermakna yang mampu memperkenalkan kasih Tuhan yang begitu besar bagi manusia, karena saya tidak bisa membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa kehadiran anda.

Setumpuk tugas penting yang diemban menunjukkan betapa penting atau vitalnya figur wanita dalam kehidupan

Sumber:  http://renungan-harian-online.blogspot.com

Air Mata

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya.
“Ibu, mengapa Ibu menangis?”.
ibunya menjawab, “Sebab, aku wanita.”
“Aku tak mengerti,” kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.
“Nak, kamu memang tak akan mengerti….” Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya.
“Ayah, mengapa Ibu menangis?.
Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?
Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan.
“Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan
“Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”
Dalam mimpinya, Tuhan menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu….Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.Wanita, kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih,walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang , untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankan tulang rusuk-lah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa, suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, kuberikan ia airmata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan.
Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata ini adalah airmata kehidupan.”

13 Desember 2012

Ibu Bekerja Lebih Sehat

Meski tidak mudah, tetapi wanita yang berperan ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus bekerja seharian lebih sehat ketimbang ibu pekerja paruh waktu, atau ibu tidak bekerja dan tinggal di rumah.

Demikian hasil sebuah penelitian dari Akron and Penn State Univeristy, dengan meneliti 2.540 responden wanita yang menjadi ibu dari tahun 1978 sampai 1998. Riwayat pekerjaan para wanita ini diteliti. Hasilnya, wanita yang kembali bekerja penuh tak lama setelah melahirkan dilaporkan memiliki kesehatan mental dan fisik lebih baik baik, tingkat mobilitas tinggi, lebih berenergi dan tidak gampang depresi ketika usianya memasuki usia 40 tahun.

Kerja baik untuk kesehatan baik mental maupun fisik, kata Profesor Adrianne Frech, salah satu dari tim peneliti. Bagi wanita, kerja memberi tujuan, keberhasilan, kontrol dan kemandirian.

"Wanita punya tempat untuk menunjukkan keahlian mereka dan digaji untuk itu," ujarnya seperti dikutip dari The Telegraph.

Wanita yang bekerja penuh lebih diuntungkan pula dalam urusan gaji, jaminan dalam pekerjaan juga promosi bila dibandingkan wanita pekerja paruh waktu. Sementara itu ibu rumah tangga yang tidak bekerja memiliki tingkat kesehatan lebih rendah serta kurang perhatian. Tetapi yang perlu dicatat,  mereka yang masuk dalam kelompok bekerja paruh waktu atau menganggur itu bukan karena kemauan sendiri.

"Terus menerus mencari kerja mempengaruhi kesehatan para wanita terutama mentalnya," ujar Frech.

Sebaiknya, wanita di saat usianya masih muda bertindak bijak sebelum kehamilan pertamanya. Frech mengatakan wanita harus mendapatkan pendidikan dan memiliki riwayat kerja yang baik sebelum memiliki anak.

"Jangan biarkan transisi kehidupan seperti pernikahan dan menjadi orangtua membuat wanita mundur untuk urusan pendidikan dan pekerjaan," ujarnya.
 
Sumber :