24 Maret 2013

Kiat Harmonis: Suami Perlu Bantu Tugas Rumah Tangga

Apa kunci keluarga yang harmonis? Menurut para peneliti dari University of Missouri dan Utah State University, pernikahan yang bahagia akan tercapai jika ayah memiliki hubungan yang baik dengan anak-anak, dan dengan suka rela membantu pekerjaan rumah tangga.
Para peneliti menambahkan, pasangan akan bahagia jika mereka saling bekerja sama dalam setiap pekerjaan rumah tangga. Sebaliknya, membagi-bagi tugas belum tentu akan membuat relasi suami-istri berjalan seimbang.
Umumnya, pria akan diserahi tugas-tugas yang berat seperti mengangkat galon minuman, mengganti tabung gas, atau membuang sampah. Sementara perempuan membereskan meja makan, mencuci piring, dan sebagainya. Namun, pembagian seperti ini kadang-kadang bisa menjadi kesalahan.

"(Dari penelitian ini) Kami mendapati bahwa tidak masalah siapa yang mengerjakan apa, tapi seberapa puas orang-orang ini dengan pembagian tugas tersebut. Ketika para istri bekerja sama dengan suami, ternyata mereka lebih puas dengan pembagian tugas tersebut," papar Erin Holmes, profesor dari Brigham Young University.

Untuk mengetahui apa yang menimbulkan kualitas dalam hubungan pernikahan, para peneliti mengamati bagaimana 160 pasangan menangani pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak. Kebanyakan dari mereka adalah orangtua berusia 25-30 tahun, dan semua memiliki anak berusia lima tahun atau lebih muda. Memiliki anak-anak yang masih kecil merupakan tahapan yang paling menantang bagi orangtua muda.
Dari pengamatan tersebut terlihat bahwa kualitas hubungan ayah dan anak ternyata menjadi satu-satunya faktor paling penting, diikuti dengan kesediaan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga bersama istri. Bagi kaum perempuan, hubungan ayah dan anak yang baik menandakan bahwa orangtua pun kemungkinan akan memiliki hubungan yang baik.
Peneliti mengukur keterlibatan ayah dengan sejumlah cara, seperti bermain dengan anak, menemani hobi yang dijalani anak, dan mengajarkan anak membuat PR dan sejenisnya.

"Sesuatu yang sederhana seperti membacakan buku untuk anak setiap malam dan ngobrol bersama mereka mengenai aktivitas mereka sepanjang hari akan memberikan manfaat dalam jangka panjang," tutur Adam Galovan, rekan setim Holmes.
Dalam penelitian sebelumnya, Holmes mendapati bahwa suami dan istri sama-sama meningkatkan kerjasama dalam pekerjaan rumah tangga ketika bersiap menjadi orangtua. Para ayah umumnya melakukan pekerjaan rumah tangga dua kali lebih banyak setelah bayi pertama lahir. Sedangkan para ibu melakukan pekerjaan rumah lima kali lebih banyak daripada sebelumnya!

"Namun ketika para istri merasa puas dengan pembagian tugas, kedua belah pihak dilaporkan memiliki kualitas pernikahan yang lebih tinggi," tutup Holmes.

http://female.kompas.com

20 Maret 2013

Ini lho Rahasianya agar Anak Anda Cerdas & Pintar

Orang tua mana yang tidak ingin anak-anaknya cerdas dan pintar? Tentu semua orang tua menginginkannya. Tapi terkadang banyak orang tua yang bingung, cara apa yang harus ditempuh untuk meningkatkan kecerdasan anak-anaknya.
Ini-lho-Rahasianya-agar-Anak-Anda-Cerdas-&-PintarSekolah dan tempat pendidikan bukanlah satu-satunya tempat yang bisa mencerdaskan otak anak Anda. Ada faktor-faktor lain yang turut memepengaruhi tingkat kecerdasan si buah hati.
Nah, berikut 6 hal yang bisa Anda lakukan untuk memaksimalkan tingkat kecerdasan anak-anak Anda baik di sekolah maupun dalam kehidupan sosial.
  1. ASI Eksklusif
    Jika Anda memiliki buah hati yang masih bayi, berarti peluang Anda untuk meningkatkan kecerdasan anak Anda masih terbuka lebar. Salah satu cara efektif untuk meningkatkan kecerdasan bayi adalah dengan memberinya ASI eksklusif selama 9 bulan.
    Sebuah studi di Denmark mengungkap bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif selama 9 bulan mengalami pertumbuhan yang signifikan dan lebih cerdas dari bayi yang hanya mendapatkan ASI satu bulan atau kurang.
  2. Cukupi Gizinya
    Ajarkan kebiasaan mengonsumsi makanan sehat sejak dini, seperti tindak memberi buah hati makanan-makanan junk food dan menggantinya dengan sayuran serta buah-buahan segar. Di masa pertumbuhan, otak anak Anda membutuhkan nutrisi penting, seperti asam lemak Omega-3 yang bisa didapatkan dari ikan. Beberapa studi membuktikan bahwa anak-anak yang gemar menyantap ikan seperti, tuna, salmon, dan cod, memiliki pikiran yang tajam dan mencatat hasil yang baik dalam ujian.
  3. Kenalkan Musik
    University of Toronto menyebutkan bahwa memperkenalkan musik kepada anak bisa menjadi langkah yang tepat untuk melatih kemampuan otak kanan. Mereka juga menyatakan bahwa anak-anak yang bermain musik memiliki kemajuan yang pesat dalam IQ dan kemampuan akademik saat mereka menginjak usia remaja.
  4. Kenalkan Olahraga
    Tim peneliti dari University of Illinois membuktikan bahwa ada hubungan yang kuat antara kebugaran fisik dengan prestasi akademik anak-anak. Secara umum aktivitas fisik saat berolahraga berkaitan erat dengan prestasi belajar anak-anak. Meningkatnya aliran darah dan oksigen ke otak saat berolahraga dianggap sebagai faktor yang mempengaruhi tingkat kecerdasan anak saat mengerjakan soal-soal ujian.
  5. Biasakan Sarapan
    Ini adalah kebiasaan kecil yang masih sering diabaikan oleh apra orang tua. Membiasakan anak sarapan dapat meningkatkan memori dan konsentrasi saat belajar. Anak-anak yang tidak terbiasa sarapan akan cepat lelah dan sulit berkonsentrasi terhadap pelajaran yang diterimanya. Ini berhubungan dengan asupan gizi yang tidak ia dapatkan di pagi hari, sehingga pada siang hari kemampuan otaknya menjadi menurun
  6. Budayakan Membaca
    Membaca baik untuk segala usia, termasuk anak-anak. Membaca merupakan cara yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan dan perkembangan kognitif anak-anak. Menurut Paul C. Burns, Betty D. Roe & Elinor P. Ross, pakar pendidikan anak dari Amerika Serikat, ada delapan aspek yang bekerja saat anak-anak terbiasa membaca, yaitu aspek sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, dan afeksi, di mana semua aspek tersebut merupakan faktor penting dalam meningkatkan kecerdasan dan kemampuan otak anak.
So, jika Anda menginginkan anak-anak yang cerdas dan pintar, Anda sudah tahu rahasianya.

http://id.she.yahoo.com

The Day Forgiveness Set Me Free

"Be completely humble and gentle; be patient, bearing with one another in love. ... Forgiving each other, just as in Christ God forgave you." Ephesians 4:2, 32 (NIV)

I thought I was over the hurt. I was sure I had moved on. But as my thumb slipped under the seal of the invitation to my 10-year college reunion, it hit me: I had not forgiven her.
During our last semester at school, the harsh tone and accusing anger of a friend had been more than my heart could handle, especially in the middle of my year-long battle with depression. A deep sense of sadness and self-doubt, that I couldn't explain or escape, had left me feeling depleted.
When she questioned something I had done and expressed deep frustration toward me, I didn't have the mental or emotional strength to process her criticism without being pulled into a pit of condemnation.
If I attended our class reunion I would likely see her and other friends who had gotten tangled in our mess. With that possibility came a flood of memories and emotions that made me feel the same yuck I felt the day our friendship ended. The day that pretty much ruined the last few weeks of our senior year.
Holding the envelope in my hand, that hurt took hold of me again. Instead of simply deciding how to RSVP, I stood at the edge of a pit filled with insecurity that threatened to pull me back in.
After weeks of holding onto the invitation I finally decided I was tired of living as prisoner to my hurt. I wanted freedom. The kind of freedom I'd come to know in the ten years in between. The freedom of forgiveness Jesus died to give me.
I spent hours praying and reading my Bible over the next month. Listening to worship music and messages on forgiveness, I asked God to drench me with His perspective and give me His assurance so I could walk into my reunion as a secure child of God.
By the time I arrived, my mind was filled with God's grace and promises. I literally wanted to find my old friend and restore our relationship. The confidence that came as I followed God's command to seek and offer forgiveness came as a surprise.

Forgiving those who hurt us is hard. Often we are afraid to forgive because it might open us to be hurt again. Or we're afraid if we bring something up it might unearth bitterness we don't want to deal with, so its left buried.

But any time we bury a hurt alive, it will keep rising from the dead to disturb us.
God used today's verses to show me how to let forgiveness set me free from the hurt I had buried. "Be completely humble and gentle; be patient, bearing with one another in love. ... Forgiving each other, just as in Christ, God forgave you." (Eph. 4:2, 32)

Forgiving in the way this scripture describes has helped me recognize I need God's grace as much as anyone else. Although pardoning an offense is not easy, it is possible when we follow God's plan of being humble and gentle, patient and bearing with those who've hurt us. It's so worth what it takes to be set free.

Forgiveness is a gift we give ourselves when we offer it to others. In doing so, we don't forgive so we can forget. We forgive, as we have been forgiven, so we can find freedom from our past and live with confident hope for our future.

Lord, I need Your help. Help me process my hurt with You and let go of any bitterness that keeps me from wholeness and hope. Empower me to forgive just as You have forgiven me. In Jesus' Name, Amen.

http://www.proverbs31.org

CHOICE


womenonthefence.com

3 Maret 2013

the CHANGER

Yang Paling Disesali Orang Ketika Tua

Apa yang paling disesalkan orangtua Anda saat ini? Apakah kegagalan menyekolahkan Anda ke luar negeri, belum juga menimang cucu, atau tidak menjalani hidup lebih sehat? Ternyata, ada hal yang lebih menyesalkan bagi orang yang sudah menginjak usia 50-an: tidak cukup travelling ketika masih muda!
Travelling saat ini memang sudah sangat terjangkau, dan Anda bisa mencapai negara-negara lain dengan biaya yang murah, tergantung metode yang Anda pilih. Oleh karena itu, tidak cukup sering melihat-lihat dunia lain saat usia masih produktif dirasakan sebagai penyesalan oleh 91 persen orang dewasa yang mengikuti survei dari Sunshine.co.uk.

Survei yang melibatkan 2.107 orang Inggris ini mengungkapkan bahwa rata-rata orang berusia 50-an ternyata hanya berlibur kurang dari satu kali setahun sepanjang hidup mereka.

"Menurut saya travelling itu sesuatu yang perlu dijadikan prioritas dalam kehidupan setiap orang. Soalnya, seperti yang ditunjukkan oleh survei ini, kita akan menyesal ketika tidak melakukannya," papar Chris Clarkson, pendiri Sunshine.co.uk.
Ia mengatakan bahwa orang memahami konsep yang salah mengenai travelling. Dalam anggapan banyak orang, yang dimaksud travelling haruslah liburan selama enam bulan di negara-negara eksotis. "Tetapi melihat-lihat dunia jauh lebih dapat dicapai daripada anggapan tersebut, dan Anda tidak perlu menghabiskan banyak uang dan berhenti bekerja," tambahnya.
Agar "jam terbang" Anda bertambah, Clarkson menyarankan untuk mencari tempat-tempat baru setiap akan berlibur. Ibaratnya, jangan ke Bali lagi, ke Bali lagi. Coba singgah lebih ke timur atau ke barat, dan seterusnya.
"Sedikit demi sedikit, akhirnya Anda sudah menjelajah banyak tempat di dunia, tetapi tabungan Anda tidak akan terkuras seperti jika Anda travelling ke Thailand selama tiga bulan. Coba saja!" ujarnya.
Situs agensi travel ini juga mengungkapkan, Australia (78 persen), Amerika (71 persen), dan Afrika Selatan (65 persen) adalah negara-negara yang paling ingin dikunjungi responden, namun belum berhasil dikunjungi. Kemudian, 63 persen responden berencana mengunjungi lebih banyak negara di dunia ini jika mereka pensiun.
10 hal yang paling disesali orang berusia 50-an:
1. Tidak cukup travelling – 91%
2. PIlihan karier – 72%
3. Salah pilih pasangan – 64%
4. Tidak hidup sehat – 55%
5. Kehilangan kontak dengan teman-teman tertentu – 53%
6. Tidak mengelola uang dengan baik – 46%
7. Terlalu cepat punya anak – 27%
8. Terlalu sering khawatir – 25%
9. Tidak menjadi "yes person" – 19%
10. Terlalu lambat punya anak – 8%


http://female.kompas.com

Mau, Menjadi Orangtua Luar Biasa?

Apakah Anda sudah menjalani apa yang dilakukan orangtua luar biasa kepada anak dan keluarganya? Jangan dulu merasa hebat sebelum Anda mengenali 12 ciri orangtua luar biasa ini dalam diri Anda. Grown dan Flown, penulis buku Goldman Sachs: The Culture of Success memaknai orangtua luar biasa sebagai berikut:

1. Orangtua hebat memaknai pernikahan bukan hanya milik berdua, tapi merupakan sumber keteladanan bagi anak-anaknya. Karenanya orangtua sudah semestinya mencontohkan cara mengelola amrah, cara menunjukkan afeksi, caranya bertoleransi, bagaimana berbuat baik, karena anak akan merekam semua hal ini dari orangtuanya.
2. Orangtua hebat menyadari bahwa dunia akan terus berputar, dan mereka selalu mampu menjalaninya tanpa kehilangan arah. Dengan begitu, anak-anak mereka pun takkan kehilangan arah karena kalau orangtua kebingungan menghadapi apa yang terjadi dalam hidupnya, anak-anak pun akan mengalami hal yang sama.

3. Orangtua hebat punya perhatian besar terhadap apa yang menjadi passion anak-anaknya. Mereka menunjukkan kepedulian dan kasih sayang pada anak, dan selalu mencari cara untuk meningkatkan bonding. Orangtua hebat juga selalu mau belajar untuk memasuki dunia anak-anaknya, untuk menunjukkan pada anak-anak mereka bahwa menghargai dan mendukung apa yang anak mereka lakukan dan sukai.

4. Orangtua hebat punya "hubungan sehat" dengan keuangan, makanan. Mereka menjadi tempat belajar anak mengenai cara menghargai uang, cara mengonsumsi makanan yang baik, dan ini menjadi bekal penting saat anak tumbuh dewasa dan hidup mandiri nantinya.

5. Orangtua hebat memiliki hubungan yang terjaga baik dengan saudara-saudara kandungnya, kakak-adiknya, keluarganya. Mereka mencontohkan bagaimana hubungan baik dalam keluarga harus terus terjaga dan merupakan hal penting yang sangat memengaruhi kehidupan, termasuk kehidupan anak-anaknya nanti.

6. Orangtua hebat tak pernah menonjolkan kehebatannya. Mereka tidak ingin selalu merasa benar dan hebat, apalagi di depan anak-anaknya. Kredibilitas lebih penting ketimbang ego yang tinggi.

7. Orangtua hebat selalu memiliki antusiasme dalam menjalankan pengasuhan, sejak anak dilahirkan sampai dewasa.

8. Orangtua hebat mengajarkan anak-anaknya untuk berusaha mandiri menggali potensi, menunjukkannya, dan memberikan kontribusi sebagai pribadi dengan potensi yang dimilikinya. Mereka mendorong anak-anaknya untuk mengasah kemampuan diri, meski kadang harus membuat anak marah atau membuatnya dibenci oleh anak-anaknya sendiri. Namun hasilnya, anak belajar mengenai kerja keras dan fokus pada potensi diri.

9. Orangtua hebat melewati masa di mana anak-anak marah bahkan benci kepada mereka. Namun justru momen inilah yang menunjukkan mereka telah menjalankan tugas pengasuhan dengan baik. Momen ini takkan menghentikan orangtua hebat untuk selalu berbesar hati terhadap anak-anaknya, dan takkan pernah mundur untuk selalu menjadi pendamping dan pebimbing bagi keluarganya.

10. Orangtua hebat menyadari dan memahami kecemasan yang anak-anak mereka rasakan. Mereka akan merespons masalah yang terjadi pada anak-anak, tanpa rasa panik, namun justru memberikan perhatian penuh.

11. Orangtua hebat selalu mau beradaptasi dengan anak-anaknya, dan berlaku adil tak pernah memperlakukan anak-anak secara berbeda.

12. Orangtua hebat tak pernah kebingungan memisahkan siapa orang dewasa, siapa anak-anak, siapa yang memegang kendali dan tanggung jawab. Artinya, di tengah perselisihan apa pun, saat mengalami kondisi sulit apa pun, orangtua selalu berada terdepan mengendalikan situasi dengan cara-cara yang adil. Bukan hanya memihak dirinya, namun memerhatikan kebutuhan keluarganya. Menunjukkan ketegasan yang mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari anak-anaknya.

sumber: http://female.kompas.com