Seberapa sering orangtua boleh memberikan pujian untuk anak? Adakah
bahayanya jika terlalu sering memuji si kecil? Bagaimana memberikan
pujian yang sesuai porsinya?
Ketimbang orangtua dulu, ayah dan
ibu masa kini memang lebih mudah memberikan pujian untuk anak-anak
mereka. Pujian tersebut gampang terlontar karena orangtua kini menyadari
kalau kalimat positif dari mereka bisa membuat anak lebih percaya diri.
Penulis buku 'The A to Z Guide to Raising Happy and Confident
Kids' Jenn Berman, PhD mengakui mengenai kerajingan orangtua dalam
memberikan pujian tersebut. "Kita sudah menjadi kebalikan dari orangtua
zaman dulu yang cenderung lebih kaku. Dan sekarang kita menjadi terlalu
berlebihan dalam memuji anak," ujar Berman.
Pujian yang terlalu
berlebihan porsinya bukannya bisa membangun kepercayaan diri anak. Hal
tersebut malah dapat berdampak negatif. Misalnya saja anak jadi takut
mencoba hal baru atau mengambil risiko karena khawatir tak akan bisa
sebagus sebelumnya sesuai pujian orangtua mereka.
Agar tidak
salah melangkah dalam memberikan pujian untuk anak, berikut ini do's
& don'ts yang perlu diperhatikan agar anak mendapatkan pelajaran
yang benar dalam kata-kata positif dari orangtuanya tersebut:
1. Spesifik
Saat
memuji anak, Berman menjelaskan, cobalah katakan dengan lebih spesifik
agar membantu anak mengidentifikasi keahlian istimewanya. Misalnya
ketimbang mengatakan, 'kamu pemain bola yang hebat', ucapkan 'kamu
menendang bola dengan keras dan kamu penyerang yang luar biasa'.
2. Tulus
Pujian
haruslah diucapkan dengan tulus. Anak punya cara tersendiri untuk
mengetahui apakah pujian yang diucapkan orangtuanya tulus atau tidak.
Jika memang dia tahu pujian Anda tidak tulus, Anda bisa kehilangan
kepercayaannya. Yang lebih parah, menurut Berman, anak jadi merasa
insecure karena dia tidak percaya kalimat positif dari Anda.
3. Ketika Bisa Melakukan Hal Baru
Puji
anak ketika mereka berani melakukan suatu hal baru, seperti naik
sepeda, memakai tali sepatu. Puji juga dia karena tidak takut untuk
melakukan kesalahan ketika mencoba hal baru ini.
4. Pujian yang Harus Dihindari
"Berusahalah
untuk tidak berlebihan dalam memuji anak yang sudah jelas seperti: kamu
pintar, cantik, ganteng, berbakat," jelas Paul Donahue, PhD, pendiri
dan direktur dari Child Development Associates. Ketika kalimat pujian
tersebut terus-menerus diucapkan, lama kelamaan akan terdengar tanpa
arti untuk mereka.
5. Ucapkan Pujian Ketika Memang Itu Harus Diucapkan
Dalam
memberikan pujian untuk anak, katakan hal yang memang Anda ingin
ucapkan. Misalnya kalau memang dia sudah bekerja keras, katakan padanya,
'kamu sudah bekerja keras mengerjakan tugas dari sekolah'. Dengan
mengatakan hal yang memang ingin Anda katakan, Anda menghargai usaha dan
kerja kerasanya. Hal itu juga membuat Anda lebih paham kapan anak
bekerja keras dan kapan anak bisa melakukannya dengan mudah.
6. Fokus Pada Prosesnya
"Ingatlah,
yang penting proses bukan produknya. Tidak semua anak bisa jadi atlet
yang luar biasa atau siswa pintar atau musisi berbakat. Tapi anak yang
mau belajar untuk bekerja keras dan tekun bisa memiliki bakat spesial,"
tandas Donahue.
sumber: http://wolipop.detik.com
20 Mei 2013
Strategi Obrolan agar Anak & Suami Mau Lebih Terbuka kepada Anda
Kesibukan seringkali jadi alasan kurangnya komunikasi antar anggota
keluarga. Padahal, komunikasi yang efektif adalah kunci untuk
mempertahankan rumah tangga dan keluarga yang harmonis.
Tanpa disadari, berbagai permasalahan dalam keluarga kerap muncul akibat kurang efektifnya komunikasi. Apabila kondisi tersebut dibiarkan terlalu lama, bukan tidak mungkin masalah kecil bisa jadi konflik besar seperti gumpalan bola salju.
Komunikasi efektif tidak selalu diukur dari banyaknya frekuensi perbincangan atau pertemuan keluarga. Paling penting adalah kualitas kebersamaan dan dari obrolan itu bisa menghasilkan sesuatu yang memberikan solusi. Oleh karena itu menciptakan komunikasi efektif perlu strategi yang pintar. Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, Psi, berbagi tipsnya untuk Anda.
1. Mendengarkan
Bukan sekadar mendengar apa yang disampaikan suami atau anak Anda. Tapi perhatikan juga intonasi suara, ekspresi wajah dan pertahankan kontak mata. Hal ini penting untuk membaca dan memahami apa yang sebenarnya mereka maksud.
2. Bertanya
Untuk lebih menggali apa yang anggota keluarga sampaikan, pastikan ada interaksi yang intens. Tapi usahakan tidak mencecar dengan banyak pertanyaan sekaligus.
"Setelah tanya, sebaiknya kita diam dulu. Kasih waktu lima detik. Lihat ekspresi lawan bicara, kontak mata. Jangan dicecar," ujar psikolog yang akrab disapa Nina ini, saat acara bincang santai 'Komunikasi Keluarga: Berkomitmen untuk Kebersamaan Keluarga yang Bermakna'.
3. Pilih Momen Khusus
Pemilihan waktu jadi hal utama untuk mewujudkan komunikasi efektif di lingkungan keluarga. Anda bisa memilih momen saat makan malam atau setelahnya, menonton TV, menjelang tidur atau di akhir pekan. Pastikan momennya menyenangkan.
"Waktu ideal ini sangat relatif. Tergantung sensitivitas sang ibu. Bisa siang, sore, malam. Janjian aja, misalnya, 'eh habis makan malam kita kumpul ya'," terang Nina.
4. Atur Gerak & Posisi Tubuh
Ketika obrolan mengarah pada topik yang sensitif dan membuat emosi suami atau anak meledak-ledak, jaga suasana agar tetap tenang dengan bersikap tenang juga. Jangan sampai intonasi vokal Anda meninggi karena bisa memancing emosi lawan bicara.
"Berdiri sambil kacak pinggang, itu sikap menekan. Tapi kalau sambil duduk tenang dengan intonasi lembut, rendah, pasti dia juga akan menyamakan sikap Anda," tutur psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.
5. Sambil Melakukan Aktivitas yang Menyenangkan
Cari hal-hal apa saja yang disukai suami atau anak dan jadikan itu sebagai pembuka topik yang ingin dibicarakan. Misalnya saja ajak bermain board game, monopoli, Uno atau scrabble. Komentari hasil permainan dan hubungkan dengan kondisi saat ini.
"Dari obrolan kecil tentang game tapi bisa dikembangkan sampai membicarakan cita-cita anak, atau jika anaknya remaja bisa tahu rencana kuliah. Kita juga bisa arahkan dia untuk menuju cita-citanya," jelas Nina.
Strategi lainnya, ajak mengobrol sambil menghidangkan camilan dan minuman. Menurut Nina, makanan dan minuman merupakan 'ice breaking' yang efektif untuk memecah kebekuan.
sumber : http://wolipop.detik.com
Tanpa disadari, berbagai permasalahan dalam keluarga kerap muncul akibat kurang efektifnya komunikasi. Apabila kondisi tersebut dibiarkan terlalu lama, bukan tidak mungkin masalah kecil bisa jadi konflik besar seperti gumpalan bola salju.
Komunikasi efektif tidak selalu diukur dari banyaknya frekuensi perbincangan atau pertemuan keluarga. Paling penting adalah kualitas kebersamaan dan dari obrolan itu bisa menghasilkan sesuatu yang memberikan solusi. Oleh karena itu menciptakan komunikasi efektif perlu strategi yang pintar. Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, Psi, berbagi tipsnya untuk Anda.
1. Mendengarkan
Bukan sekadar mendengar apa yang disampaikan suami atau anak Anda. Tapi perhatikan juga intonasi suara, ekspresi wajah dan pertahankan kontak mata. Hal ini penting untuk membaca dan memahami apa yang sebenarnya mereka maksud.
2. Bertanya
Untuk lebih menggali apa yang anggota keluarga sampaikan, pastikan ada interaksi yang intens. Tapi usahakan tidak mencecar dengan banyak pertanyaan sekaligus.
"Setelah tanya, sebaiknya kita diam dulu. Kasih waktu lima detik. Lihat ekspresi lawan bicara, kontak mata. Jangan dicecar," ujar psikolog yang akrab disapa Nina ini, saat acara bincang santai 'Komunikasi Keluarga: Berkomitmen untuk Kebersamaan Keluarga yang Bermakna'.
3. Pilih Momen Khusus
Pemilihan waktu jadi hal utama untuk mewujudkan komunikasi efektif di lingkungan keluarga. Anda bisa memilih momen saat makan malam atau setelahnya, menonton TV, menjelang tidur atau di akhir pekan. Pastikan momennya menyenangkan.
"Waktu ideal ini sangat relatif. Tergantung sensitivitas sang ibu. Bisa siang, sore, malam. Janjian aja, misalnya, 'eh habis makan malam kita kumpul ya'," terang Nina.
4. Atur Gerak & Posisi Tubuh
Ketika obrolan mengarah pada topik yang sensitif dan membuat emosi suami atau anak meledak-ledak, jaga suasana agar tetap tenang dengan bersikap tenang juga. Jangan sampai intonasi vokal Anda meninggi karena bisa memancing emosi lawan bicara.
"Berdiri sambil kacak pinggang, itu sikap menekan. Tapi kalau sambil duduk tenang dengan intonasi lembut, rendah, pasti dia juga akan menyamakan sikap Anda," tutur psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.
5. Sambil Melakukan Aktivitas yang Menyenangkan
Cari hal-hal apa saja yang disukai suami atau anak dan jadikan itu sebagai pembuka topik yang ingin dibicarakan. Misalnya saja ajak bermain board game, monopoli, Uno atau scrabble. Komentari hasil permainan dan hubungkan dengan kondisi saat ini.
"Dari obrolan kecil tentang game tapi bisa dikembangkan sampai membicarakan cita-cita anak, atau jika anaknya remaja bisa tahu rencana kuliah. Kita juga bisa arahkan dia untuk menuju cita-citanya," jelas Nina.
Strategi lainnya, ajak mengobrol sambil menghidangkan camilan dan minuman. Menurut Nina, makanan dan minuman merupakan 'ice breaking' yang efektif untuk memecah kebekuan.
sumber : http://wolipop.detik.com
5 Kata yang Bisa Menghancurkan Pernikahan
Kata-kata bisa sangat kuat maknanya ketika diucapkan. Kata tersebut bisa
dianggap menghancurkan atau malah menginspirasi. Dalam pernikahan pun
hal serupa berlaku. Menurut Julie Orlov, seorang psikoterapis dan juga
penulis 'The Pathway to Love: Create Intimacy and Transform Your
Relationships Through Self-Discovery', ada kata-kata yang bisa membuat
pasangan merasa sedih dan tersakiti. Jika sering diucapkan kata-kata
berikut ini, seperti dijelaskan Orlove pada Huffington Post, bukan tidak
mungkin menghancurkan pernikahan Anda.
1. "Nggak pernah"
"Kamu nggak pernah benar kalau mengurus anak-anak." Apakah kalimat itu pernah Anda ucapkan pada pasangan? Saat Anda mengucapkan kata tidak atau nggak pernah, Anda memberitahukan pada pasangan kalau dia memang tidak bisa dan tak akan pernah bisa melakukan hal yang seharusnya dia lakoni itu. Kata ini mengindikasikan Anda tidak mau mendengarkan, berkompromi dan punya itikad baik untuk mengetahui penjelasannya.
2. "Selalu"
Kata 'selalu' sering dianggap sebagai bentuk sebuah kekakuan dan kebenaran. Ketika kata 'selalu' ini diucapkan, Anda memberitahukan pasangan kalau dia salah dan Anda lah yang benar. Saat kata 'selalu' diucapkan, Anda juga menganggap tidak ada lagi yang bisa dilakukan dengan sikapnya itu. Kata ini mengindikasikan Anda tidak mau memahami, mendengar atau mengobati.
3. "Tapi"
Kata 'tapi' menyiratkan sebuah manipulasi dan kurangnya integritas. Saat Anda menggunakan kata 'tapi', Anda jadi tidak menganggap apapun yang diucapkan sebelumnya. Kata ini seolah mengubah sebuah pernyataan negatif menjadi lebih positif. Kata ini mengartikan Anda tidak mau membangun kepercayaan dan keintiman. Kata yang mirip dengan kata 'tapi' adalah, 'bagaimanapun' dan 'meskipun'.
4. Kata-kata yang sangat kasar
Silahkan bayangkan sendiri kata-kata kasar apa yang bisa Anda ucapkan pada pasangan. Menyerang pasangan dengan mengucapkan kata-kata sangat kasar padanya bisa berdampak buruk pada pernikahan. Apalagi jika dilakukannya secara sering, ini bisa menghancurkan jiwa pasangan dan membunuh pernikahan.
5. "Cerai"
Jangan pernah berkata Anda ingin mengakhiri pernikahan, jika sebenarnya memang bukan itu maksud Anda. Apalagi jika perkataan itu diucapkan hanya untuk semakin memanaskan pertengkaran. Kalaupun memang Anda mengatakannya tanpa sengaja dan sebenarnya tidak bermaksud mengucapkan kata 'cerai', tetap saja ucapan itu memiliki efek buruk. Pasangan akan merasa kalau hati Anda sebenarnya sudah ingin lepas dari pernikahan. Baginya Anda seharusnya tidak mengucapkan kata tersebut walau semarah apapun Anda.
sumber : http://wolipop.detik.com
1. "Nggak pernah"
"Kamu nggak pernah benar kalau mengurus anak-anak." Apakah kalimat itu pernah Anda ucapkan pada pasangan? Saat Anda mengucapkan kata tidak atau nggak pernah, Anda memberitahukan pada pasangan kalau dia memang tidak bisa dan tak akan pernah bisa melakukan hal yang seharusnya dia lakoni itu. Kata ini mengindikasikan Anda tidak mau mendengarkan, berkompromi dan punya itikad baik untuk mengetahui penjelasannya.
2. "Selalu"
Kata 'selalu' sering dianggap sebagai bentuk sebuah kekakuan dan kebenaran. Ketika kata 'selalu' ini diucapkan, Anda memberitahukan pasangan kalau dia salah dan Anda lah yang benar. Saat kata 'selalu' diucapkan, Anda juga menganggap tidak ada lagi yang bisa dilakukan dengan sikapnya itu. Kata ini mengindikasikan Anda tidak mau memahami, mendengar atau mengobati.
3. "Tapi"
Kata 'tapi' menyiratkan sebuah manipulasi dan kurangnya integritas. Saat Anda menggunakan kata 'tapi', Anda jadi tidak menganggap apapun yang diucapkan sebelumnya. Kata ini seolah mengubah sebuah pernyataan negatif menjadi lebih positif. Kata ini mengartikan Anda tidak mau membangun kepercayaan dan keintiman. Kata yang mirip dengan kata 'tapi' adalah, 'bagaimanapun' dan 'meskipun'.
4. Kata-kata yang sangat kasar
Silahkan bayangkan sendiri kata-kata kasar apa yang bisa Anda ucapkan pada pasangan. Menyerang pasangan dengan mengucapkan kata-kata sangat kasar padanya bisa berdampak buruk pada pernikahan. Apalagi jika dilakukannya secara sering, ini bisa menghancurkan jiwa pasangan dan membunuh pernikahan.
5. "Cerai"
Jangan pernah berkata Anda ingin mengakhiri pernikahan, jika sebenarnya memang bukan itu maksud Anda. Apalagi jika perkataan itu diucapkan hanya untuk semakin memanaskan pertengkaran. Kalaupun memang Anda mengatakannya tanpa sengaja dan sebenarnya tidak bermaksud mengucapkan kata 'cerai', tetap saja ucapan itu memiliki efek buruk. Pasangan akan merasa kalau hati Anda sebenarnya sudah ingin lepas dari pernikahan. Baginya Anda seharusnya tidak mengucapkan kata tersebut walau semarah apapun Anda.
sumber : http://wolipop.detik.com
Apakah Makanan Cepat Saji Baik untuk Anak?
Kurangnya
waktu dalam menyiapkan makanan untuk keluarga membuat kita beralih pada
pilihan untuk membeli makanan cepat saji. Harga dan promo yang
ditawarkan produsen restoran cepat saji selama beberapa dekade terakhir
ini sering membuat terlena dengan kemudahan yang mereka tawarkan. Tapi,
apakah makanan cepat saji ini baik untuk Anda atau anak-anak Anda?
Meski mengonsumsi makanan cepat saji bukanlah satu-satunya penyebab tingginya angka obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi dan penyakit yang berhubungan dengan diet lainnya, kemungkinan itu merupakan kunci dari kontribusi dalam kehidupan Anda, terutama di kalangan anak-anak. Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang makan lebih banyak makanan cepat saji cenderung mendapatkan lebih banyak kalori dan sedikit nutrisi dibandingkan dengan mereka yang kurang atau tidak mengkonsumsi makanan cepat saji.
Memakan makanan cepat saji dalam masa diet dapat menjadi penanda sebuah kebiasaan yang kurang sehat secara keseluruhan. Mungkin keluarga yang makan makanan cepat saji, dikarenakan mereka tidak memiliki waktu untuk memasak makanan rumahan, sehingga lebih memutuskan mencari makanan cepat saji untuk disantap bersama keluarga.
Beberapa organisasi kesehatan, seperti ahli diet yang terdaftar, dokter dan organisasi yang berbasis di Washington, DC, Centers for Science in the Public Interest (CSPI), telah menyarankan kepada masyarakat untuk meraih porsi kecil dan memperhatikan gizi jika sedang makan makanan cepat saji. Alasannya, ada bukti bahwa makanan cepat saji tidak akan pernah menjadi makanan sehat dalam waktu dekat.
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine melihat menu dari delapan makanan cepat saji yang populer selama periode 14 tahun ini dan menemukan hanya sedikit perbaikan dalam kualitas gizi dalam menu tersebut.
Dalam siaran pers studi tersebut, Margo G. Wootan, DSc, dari IHSG mengatakan, "Ini peningkatan kecil yang mengecewakan, dan sedikit mengejutkan, mengingat banyak beberapa produsen yang menyatakan telah menambahkan pilihan menu sehat, yang mana beralih pada memasak lemak sehat, mengurangi natrium, dan berusaha mempromosikan perubahan lainnya melalui media atau iklan.”
Studi terbaru lain yang dipublikasikan dalam The Journal of Adolescent Health menemukan, remaja yang membeli makanan dari Subway, meski dirasa sehat, ternyata makanan yang dimakannya mengandung banyak kalori (meskipun mereka memperoleh lebih banyak sayuran), dan kemungkinan makanan itu juga dapat berasal dari McDonald.
Para peneliti menyimpulkan bahwa makanan dari kedua restoran cenderung memberikan kontribusi makanan yang berlebihan di kalangan remaja.
Sebagai seorang ahli diet dan ahli gizi, Margo menganjurkan semua makanan bisa menjadi cocok atau sehat, asal dengan pendekatan cara makan yang benar.
“Saya selalu membiarkan anak-anak saya, yang sekarang berusia 14 dan 11 tahun untuk sesekali makan makanan cepat saji. Mereka sangat menyukai cheese burger dan kentang goreng, sama juga seperti saya. Namun dalam banyak hal, saya juga menyesali pernah memperkenalkan anak-anak saya pada makanan cepat saji sebagai menu utama mereka,” ungkap Margo.
Karena kita hidup dalam lingkungan yang mendorong mengonsumsi makanan kurang gizi yang berlebihan dalam porsi besar, seringkali menjadikan makanan itu sebagai pilihan. Kentang goreng, misalnya, yang selalu dapat membangkitkan selera makan kita. Namun, kini saatnya para orangtua mengambil langkah untuk membantu anak-anak dalam usia berapa pun dan menciptakan kebiasaan untuk lebih mengkonsumsi makan makanan sehat.
Memberikan anak-anak makanan bergizi, menyajikan makanan dalam porsi yang tepat, dan membatasi makanan yang rendah gizi merupakan langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan. Dengan langkah ini, anak akan belajar dalam menghargai rasa, tekstur, dan kenikmatan dari makanan sehat. Hal ini juga dapat mengurangi kemungkinan mereka dalam kecanduan makanan yang kurang sehat.
“Saya tidak mengatakan, sesekali memesan atau memakan kentang goreng, es krim atau sepotong kue ulang tahun dapat dinyatakan baik, meskipun bukanlah termasuk makanan yang sehat. Tapi, mengajar anak-anak perbedaan antara makanan sehari-hari dan makanan yang sesekali boleh dimakan merupakan pelajaran penting bagi mereka. Dan, ketika Anda berpikir tentang hal itu, makan makanan cepat saji tidak jauh berbeda daripada makan di restoran manapun. Meski, cenderung beberapa restoran pada dasarnya sama saya,” jelasnya.
Studi baru menunjukkan bahwa kita mungkin mengkonsumsi lebih banyak kalori ketika makan di restoran biasa daripada ketika makan di restoran makanan cepat saji.
sumber: http://female.kompas.com/
Meski mengonsumsi makanan cepat saji bukanlah satu-satunya penyebab tingginya angka obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi dan penyakit yang berhubungan dengan diet lainnya, kemungkinan itu merupakan kunci dari kontribusi dalam kehidupan Anda, terutama di kalangan anak-anak. Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang makan lebih banyak makanan cepat saji cenderung mendapatkan lebih banyak kalori dan sedikit nutrisi dibandingkan dengan mereka yang kurang atau tidak mengkonsumsi makanan cepat saji.
Memakan makanan cepat saji dalam masa diet dapat menjadi penanda sebuah kebiasaan yang kurang sehat secara keseluruhan. Mungkin keluarga yang makan makanan cepat saji, dikarenakan mereka tidak memiliki waktu untuk memasak makanan rumahan, sehingga lebih memutuskan mencari makanan cepat saji untuk disantap bersama keluarga.
Beberapa organisasi kesehatan, seperti ahli diet yang terdaftar, dokter dan organisasi yang berbasis di Washington, DC, Centers for Science in the Public Interest (CSPI), telah menyarankan kepada masyarakat untuk meraih porsi kecil dan memperhatikan gizi jika sedang makan makanan cepat saji. Alasannya, ada bukti bahwa makanan cepat saji tidak akan pernah menjadi makanan sehat dalam waktu dekat.
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine melihat menu dari delapan makanan cepat saji yang populer selama periode 14 tahun ini dan menemukan hanya sedikit perbaikan dalam kualitas gizi dalam menu tersebut.
Dalam siaran pers studi tersebut, Margo G. Wootan, DSc, dari IHSG mengatakan, "Ini peningkatan kecil yang mengecewakan, dan sedikit mengejutkan, mengingat banyak beberapa produsen yang menyatakan telah menambahkan pilihan menu sehat, yang mana beralih pada memasak lemak sehat, mengurangi natrium, dan berusaha mempromosikan perubahan lainnya melalui media atau iklan.”
Studi terbaru lain yang dipublikasikan dalam The Journal of Adolescent Health menemukan, remaja yang membeli makanan dari Subway, meski dirasa sehat, ternyata makanan yang dimakannya mengandung banyak kalori (meskipun mereka memperoleh lebih banyak sayuran), dan kemungkinan makanan itu juga dapat berasal dari McDonald.
Para peneliti menyimpulkan bahwa makanan dari kedua restoran cenderung memberikan kontribusi makanan yang berlebihan di kalangan remaja.
Sebagai seorang ahli diet dan ahli gizi, Margo menganjurkan semua makanan bisa menjadi cocok atau sehat, asal dengan pendekatan cara makan yang benar.
“Saya selalu membiarkan anak-anak saya, yang sekarang berusia 14 dan 11 tahun untuk sesekali makan makanan cepat saji. Mereka sangat menyukai cheese burger dan kentang goreng, sama juga seperti saya. Namun dalam banyak hal, saya juga menyesali pernah memperkenalkan anak-anak saya pada makanan cepat saji sebagai menu utama mereka,” ungkap Margo.
Karena kita hidup dalam lingkungan yang mendorong mengonsumsi makanan kurang gizi yang berlebihan dalam porsi besar, seringkali menjadikan makanan itu sebagai pilihan. Kentang goreng, misalnya, yang selalu dapat membangkitkan selera makan kita. Namun, kini saatnya para orangtua mengambil langkah untuk membantu anak-anak dalam usia berapa pun dan menciptakan kebiasaan untuk lebih mengkonsumsi makan makanan sehat.
Memberikan anak-anak makanan bergizi, menyajikan makanan dalam porsi yang tepat, dan membatasi makanan yang rendah gizi merupakan langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan. Dengan langkah ini, anak akan belajar dalam menghargai rasa, tekstur, dan kenikmatan dari makanan sehat. Hal ini juga dapat mengurangi kemungkinan mereka dalam kecanduan makanan yang kurang sehat.
“Saya tidak mengatakan, sesekali memesan atau memakan kentang goreng, es krim atau sepotong kue ulang tahun dapat dinyatakan baik, meskipun bukanlah termasuk makanan yang sehat. Tapi, mengajar anak-anak perbedaan antara makanan sehari-hari dan makanan yang sesekali boleh dimakan merupakan pelajaran penting bagi mereka. Dan, ketika Anda berpikir tentang hal itu, makan makanan cepat saji tidak jauh berbeda daripada makan di restoran manapun. Meski, cenderung beberapa restoran pada dasarnya sama saya,” jelasnya.
Studi baru menunjukkan bahwa kita mungkin mengkonsumsi lebih banyak kalori ketika makan di restoran biasa daripada ketika makan di restoran makanan cepat saji.
sumber: http://female.kompas.com/
Efek "Junk Food" terhadap Otak
unk food, dijuluki demikian
karena makanan ini tidak mengandung nutrisi yang baik bagi tubuh. Dalam
sebuah penelitian terhadap mencit diketahui bahwa mengonsumsi junk food bisa menyebabkan perubahan di otak sehingga memicu rasa cemas dan depresi jika kita berhenti mengonsumsinya.
Para peneliti dari Universitas Montreal menemukan, mencit yang diberi makanan tinggi gula dan lemak seperti junk food memiliki aktivitas kimia berbeda di otak. Bahkan, mereka menunjukkan gejala ketagihan ketika makanan tersebut dihentikan.
"Perubahan kimia di otak itu dikaitkan dengan depresi. Perubahan pola makan bisa menyebabkan gejala ketagihan dan sensitivitas yang tinggi pada situasi yang menimbulkan stres sehingga menyebabkan lingkaran setan pola makan yang buruk," kata Dr Stephanie Fulton, ketua peneliti.
Penelitian yang dimuat dalam The International Journal of Obesity itu dilakukan selama enam minggu dengan memberikan makanan rendah lemak pada mencit dan enam minggu kemudian diberi makanan tinggi lemak.
Di akhir penelitian, sebanyak 11 persen mencit yang diberi makanan tinggi lemak mengalami peningkatan lingkar pinggang. Para peneliti juga menganalisis perubahan kimia di otak mencit untuk mengetahui emosi dan perilaku mereka.
Penelitian itu bukan yang pertama mengungkap efek negatif junk food bagi otak. Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal A Neurology juga menunjukkan tingginya konsumsi makanan mengandung lemak trans dengan penurunan fungsi otak dan volume otak.
"Sudah jelas bahwa trans fat bukan hanya buruk bagi jantung, melainkan juga bagi otak. Sebaiknya hindari makanan ini," kata Dr Gene Bowman dari Oregon Health and Science University.
sumber : http://health.kompas.com
Para peneliti dari Universitas Montreal menemukan, mencit yang diberi makanan tinggi gula dan lemak seperti junk food memiliki aktivitas kimia berbeda di otak. Bahkan, mereka menunjukkan gejala ketagihan ketika makanan tersebut dihentikan.
"Perubahan kimia di otak itu dikaitkan dengan depresi. Perubahan pola makan bisa menyebabkan gejala ketagihan dan sensitivitas yang tinggi pada situasi yang menimbulkan stres sehingga menyebabkan lingkaran setan pola makan yang buruk," kata Dr Stephanie Fulton, ketua peneliti.
Penelitian yang dimuat dalam The International Journal of Obesity itu dilakukan selama enam minggu dengan memberikan makanan rendah lemak pada mencit dan enam minggu kemudian diberi makanan tinggi lemak.
Di akhir penelitian, sebanyak 11 persen mencit yang diberi makanan tinggi lemak mengalami peningkatan lingkar pinggang. Para peneliti juga menganalisis perubahan kimia di otak mencit untuk mengetahui emosi dan perilaku mereka.
Penelitian itu bukan yang pertama mengungkap efek negatif junk food bagi otak. Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal A Neurology juga menunjukkan tingginya konsumsi makanan mengandung lemak trans dengan penurunan fungsi otak dan volume otak.
"Sudah jelas bahwa trans fat bukan hanya buruk bagi jantung, melainkan juga bagi otak. Sebaiknya hindari makanan ini," kata Dr Gene Bowman dari Oregon Health and Science University.
sumber : http://health.kompas.com
5 Gejala Gangguan Mental pada Anak dan Remaja
Anak-anak akan melewati beberapa tahap perkembangan yang ikut
memengaruhi perilaku mereka. Tak jarang perubahan perilaku yang dialami
anak dianggap sebagai sebuah fase yang akan berlalu dengan sendirinya.
Padahal, beberapa perubahan perilaku itu bisa menjadi gejala dari adanya
gangguan mental yang dialami anak.
Para peneliti dari Harvard Medical School menemukan bahwa separuh dari kasus gangguan mental dimulai dari usia sangat muda, 14 tahun dan tigaperempatnya terjadi sejak usia 24 tahun. Karena kemunculannya yang sangat dini itu, maka terapi dan penanganannya harus dilakukan sejak awal pula.
Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit AS (CDC) menemukan bahwa satu dari lima anak di AS mengalami gangguan mental. Gangguan pemusatan perhatian (ADHD), anak pemberontak (oppositional defiant disorder/OOD), spektrum autisme, gangguan mood dan kecemasan, depresi, adalah jenis gangguan mental yang paling banyak ditemui.
Orangtua berperan besar dalam mengurangi keparahan gangguan tersebut dengan cara memberi perhatian pada perubahan perilaku anak. Orangtua juga bisa menggunakan intuisi mereka jika merasa "ada sesuatu yang salah" dengan anak mereka.
Berikut adalah 5 gejala yang perlu diwaspadai dari anak-anak dan remaja Anda.
1. Perubahan mood yang berlangsung lama
Perubahan mood yang berlangsung lebih dari dua minggu adalah indikator kuat adanya gangguan mental pada anak. Perubahan mood ini bisa bervariasi mulai dari hiperaktif sampai terlalu melankolis tanpa alasan yang kuat.
Menurut The National Institute of Mental Health, perilaku "sangat gembira" atau mania dan perasaan "down" atau depresi bisa menjadi tanda adanya gejala gangguan bipolar. Tetapi, perilaku hiperaktif pada anak yang tidak diikuti dengan gejala lesu setelahnya adalah karateristik normal pada anak.
2. Cemas dan takut berlebihan
Takut dan khawatir adalah hal yang wajar dialami anak usia dini. Normal saja mereka merasa takut pada gelap, membayangkan sosok monster, atau takut berpisah dengan orangtua. Untuk anak usia sekolah, cemas sebelum tampil di sekolah atau takut tak diterima teman-temannya, adalah respon yang sehat.
Namun, berhati-hatilah jika rasa takut yang dialami anak sudah berlebihan sehingga mengganggu aktivitas mereka. Mungkin sudah saatnya Anda melakukan intervensi.
3. Perubahan perilaku ekstrem
Mulai membangkang juga adalah fase yang akan dilalui dalam tahap perkembangan emosional anak untuk menuju kemandiriannya. Tetapi ada perilaku pembangkangan yang sangat ekstrem yang disebut dengan OOD. Biasanya gangguan ini dimulai saat anak berusia 8 tahun atau sebelum masuk usia remaja. Salah satu contoh perilaku tersebut adalah membeli beberapa games tanpa ada minat untuk memainkannya.
Gangguan mental yang erat kaitannya dengan perubahan perilaku adalah ADHD, kecemasan, depresi, atau gangguan bipolar.
4. Perubahan fisik, berat badan naik atau turun drastis
Diperkirakan 80 persen orang yang mengalami gangguan mental mengalami obesitas atau kegemukan. Perubahan fisik yang mendadak yang tidak terkait dengan pubertas bisa menjadi indikator anak menderita gangguan. Demikian pula halnya jika anak tampak tidak nafsu makan, bisa menjadi gejala depresi.
Perubahan fisik yang disebabkan oleh penggunaan alkohol atau obat terlarang juga merupakan gejala depresi pada anak. Para pakar menyebutkan, risiko anak menderita depresi lebih besar jika salah satu atau kedua orangtua juga menderita depresi.
5. Kurang konsentrasi
Anak yang sangat sulit berkonsentrasi juga perlu dicurigai mengalami gangguan mental. Tapi orangtua juga perlu membedakan anak yang memang ingin menonton TV ketimbang mengerjakan PR, dengan anak yang tidak mampu fokus pada acara favoritnya di TV.
Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi pada tugas sederhana adalah gejala dari ADHD atau depresi. Kurang fokus juga bisa disebabkan karena pikiran mereka terpusat pada rasa malu, bersalah, atau kematian. Kurang konsentrasi pada anak akan tampak nyata pengaruhnya pada nilai akademik atau pergaulannya.
Sumber: http://health.kompas.com
Para peneliti dari Harvard Medical School menemukan bahwa separuh dari kasus gangguan mental dimulai dari usia sangat muda, 14 tahun dan tigaperempatnya terjadi sejak usia 24 tahun. Karena kemunculannya yang sangat dini itu, maka terapi dan penanganannya harus dilakukan sejak awal pula.
Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit AS (CDC) menemukan bahwa satu dari lima anak di AS mengalami gangguan mental. Gangguan pemusatan perhatian (ADHD), anak pemberontak (oppositional defiant disorder/OOD), spektrum autisme, gangguan mood dan kecemasan, depresi, adalah jenis gangguan mental yang paling banyak ditemui.
Orangtua berperan besar dalam mengurangi keparahan gangguan tersebut dengan cara memberi perhatian pada perubahan perilaku anak. Orangtua juga bisa menggunakan intuisi mereka jika merasa "ada sesuatu yang salah" dengan anak mereka.
Berikut adalah 5 gejala yang perlu diwaspadai dari anak-anak dan remaja Anda.
1. Perubahan mood yang berlangsung lama
Perubahan mood yang berlangsung lebih dari dua minggu adalah indikator kuat adanya gangguan mental pada anak. Perubahan mood ini bisa bervariasi mulai dari hiperaktif sampai terlalu melankolis tanpa alasan yang kuat.
Menurut The National Institute of Mental Health, perilaku "sangat gembira" atau mania dan perasaan "down" atau depresi bisa menjadi tanda adanya gejala gangguan bipolar. Tetapi, perilaku hiperaktif pada anak yang tidak diikuti dengan gejala lesu setelahnya adalah karateristik normal pada anak.
2. Cemas dan takut berlebihan
Takut dan khawatir adalah hal yang wajar dialami anak usia dini. Normal saja mereka merasa takut pada gelap, membayangkan sosok monster, atau takut berpisah dengan orangtua. Untuk anak usia sekolah, cemas sebelum tampil di sekolah atau takut tak diterima teman-temannya, adalah respon yang sehat.
Namun, berhati-hatilah jika rasa takut yang dialami anak sudah berlebihan sehingga mengganggu aktivitas mereka. Mungkin sudah saatnya Anda melakukan intervensi.
3. Perubahan perilaku ekstrem
Mulai membangkang juga adalah fase yang akan dilalui dalam tahap perkembangan emosional anak untuk menuju kemandiriannya. Tetapi ada perilaku pembangkangan yang sangat ekstrem yang disebut dengan OOD. Biasanya gangguan ini dimulai saat anak berusia 8 tahun atau sebelum masuk usia remaja. Salah satu contoh perilaku tersebut adalah membeli beberapa games tanpa ada minat untuk memainkannya.
Gangguan mental yang erat kaitannya dengan perubahan perilaku adalah ADHD, kecemasan, depresi, atau gangguan bipolar.
4. Perubahan fisik, berat badan naik atau turun drastis
Diperkirakan 80 persen orang yang mengalami gangguan mental mengalami obesitas atau kegemukan. Perubahan fisik yang mendadak yang tidak terkait dengan pubertas bisa menjadi indikator anak menderita gangguan. Demikian pula halnya jika anak tampak tidak nafsu makan, bisa menjadi gejala depresi.
Perubahan fisik yang disebabkan oleh penggunaan alkohol atau obat terlarang juga merupakan gejala depresi pada anak. Para pakar menyebutkan, risiko anak menderita depresi lebih besar jika salah satu atau kedua orangtua juga menderita depresi.
5. Kurang konsentrasi
Anak yang sangat sulit berkonsentrasi juga perlu dicurigai mengalami gangguan mental. Tapi orangtua juga perlu membedakan anak yang memang ingin menonton TV ketimbang mengerjakan PR, dengan anak yang tidak mampu fokus pada acara favoritnya di TV.
Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi pada tugas sederhana adalah gejala dari ADHD atau depresi. Kurang fokus juga bisa disebabkan karena pikiran mereka terpusat pada rasa malu, bersalah, atau kematian. Kurang konsentrasi pada anak akan tampak nyata pengaruhnya pada nilai akademik atau pergaulannya.
Sumber: http://health.kompas.com
13 Mei 2013
BPOM Rilis 17 Produk Kosmetik Berbahaya
Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) kembali merilis 17
produk kosmetik mengandung bahan berbahaya. Ketujuh belas produk ini
berasal dari seluruh Indonesia dan merupakan hasil sampling dari 24 ribu
produk kosmetik.
"Memang jumlahnya menurun dibanding tahun kemarin yang mencapai 58 produk. Namun nilai bahayanya tetap sama," kata Ketua Badan POM RI, Lucky S. Slamet pada peringatan publik Kosmetika Mengandung Bahan Berbahaya di Jakarta (13/5/13).
Produk yang ada dalam daftar hitam Badan POM sebaiknya tidak digunakan karena berbahaya bagi kesehatan. Ketujuh belas produk ini beredar tanpa ijin BPOM dan mengandung merkuri, hidrokinon, asam retinoat, dan resorsinol. Selain di jual di toko kosmetik, beberapa produk dijual di klinik kecantikan dan toko online.
Merkuri adalah bahan terlarang dalam kosmetik. Tingkat radiasinya yang tinggi menjadikan bahan ini sebagai salah satu faktor pemicu kanker. Sedangkan hidrokuinon memang digunakan untuk pemutih kulit namun penggunaannya harus dengan resep dokter. Penggunaan berlebihan akan memicu iritasi kulit.
Sementara itu penggunaan asam retinoat dikhawatirkan akan mengikis permukaan kulit. Pengunaan bahan ini harus dengan resep dokter, bahkan bahan ini tidak boleh dipakai dalam obat karena bisa menimbulkan cacat janin.
Daftar ketujuh belas produk kosmetika berbahaya:
Kosmetika merek Tabita:
1. Tabita Daily Cream
2. Tabita Nightly Cream
3. Tabita Skin Care Smooth Lotion
Kosmetika Merek Green Alvina
4. Herbal Clinic "Green Alvina" Walet Cream Mild Night Cream
5. Green Alvina Night Cream Acne
Kosmetika Merek Chrysant
6. Chrysant 24 Skin Care Pemutih Ketiak
7. Chrysant 24 Skin Care Cream Malam Jasmine
8. Chrysant 24 Skin Care AHA Toner No.1
9. Chrysant 24 Skin Care AHA Toner No.2
10. Chrysant 24 Skin Care AHA Toner No.1
Kosmetika merek Hayfa
11. Hayfa Sunblock Acne Cream Natural Pagi-Sore
12. Hayfa Acne Morning Pagi-Sore
Kosmetika Merek dr. Nur Hidayat,SpKK
13. Acne Lotion dr. Nur Hidayat,SpKK
14. Cream Malam Prima 1 dr. Nur Hidayat,SpKK
15. Acne Cream Malam dr. Nur Hidayat,SpKK
Kosmetika Merek Cantik
16. Cantik Whitening Vit. E Night Cream
17. Cantik Whitening Vit. E Day Cream.
http://health.kompas.com
"Memang jumlahnya menurun dibanding tahun kemarin yang mencapai 58 produk. Namun nilai bahayanya tetap sama," kata Ketua Badan POM RI, Lucky S. Slamet pada peringatan publik Kosmetika Mengandung Bahan Berbahaya di Jakarta (13/5/13).
Produk yang ada dalam daftar hitam Badan POM sebaiknya tidak digunakan karena berbahaya bagi kesehatan. Ketujuh belas produk ini beredar tanpa ijin BPOM dan mengandung merkuri, hidrokinon, asam retinoat, dan resorsinol. Selain di jual di toko kosmetik, beberapa produk dijual di klinik kecantikan dan toko online.
Merkuri adalah bahan terlarang dalam kosmetik. Tingkat radiasinya yang tinggi menjadikan bahan ini sebagai salah satu faktor pemicu kanker. Sedangkan hidrokuinon memang digunakan untuk pemutih kulit namun penggunaannya harus dengan resep dokter. Penggunaan berlebihan akan memicu iritasi kulit.
Sementara itu penggunaan asam retinoat dikhawatirkan akan mengikis permukaan kulit. Pengunaan bahan ini harus dengan resep dokter, bahkan bahan ini tidak boleh dipakai dalam obat karena bisa menimbulkan cacat janin.
Daftar ketujuh belas produk kosmetika berbahaya:
Kosmetika merek Tabita:
1. Tabita Daily Cream
2. Tabita Nightly Cream
3. Tabita Skin Care Smooth Lotion
Kosmetika Merek Green Alvina
4. Herbal Clinic "Green Alvina" Walet Cream Mild Night Cream
5. Green Alvina Night Cream Acne
Kosmetika Merek Chrysant
6. Chrysant 24 Skin Care Pemutih Ketiak
7. Chrysant 24 Skin Care Cream Malam Jasmine
8. Chrysant 24 Skin Care AHA Toner No.1
9. Chrysant 24 Skin Care AHA Toner No.2
10. Chrysant 24 Skin Care AHA Toner No.1
Kosmetika merek Hayfa
11. Hayfa Sunblock Acne Cream Natural Pagi-Sore
12. Hayfa Acne Morning Pagi-Sore
Kosmetika Merek dr. Nur Hidayat,SpKK
13. Acne Lotion dr. Nur Hidayat,SpKK
14. Cream Malam Prima 1 dr. Nur Hidayat,SpKK
15. Acne Cream Malam dr. Nur Hidayat,SpKK
Kosmetika Merek Cantik
16. Cantik Whitening Vit. E Night Cream
17. Cantik Whitening Vit. E Day Cream.
http://health.kompas.com
Langganan:
Postingan (Atom)