29 Oktober 2013

Ajarkan Anak Menggunakan Kata "Tolong", "Terima Kasih'', dan "Maaf"

Psikolog Evi Sukmaningrum, Psi, MSi, dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta, mengatakan, usia batita memang saat yang tepat memperkenalkan hal-hal yang baik termasuk mengajarkan kata-kata sopan. Mengapa? Ada beberapa alasan, antara lain, di usia 18 bulan-2 tahun anak sedang belajar menggunakan kata sifat seperti bagus, jelek, panas, dingin, dan sebagainya.

Selanjutnya, di usia 2-3 tahun, anak tak lagi bicara egosentris dan menjadi lebih sosial. Ditambah lagi di usia ini, pemahaman reseptif anak mulai jalan karena kemampuannya dalam mengeksplorasi, observasi, untuk kemudian meniru sedang berkembang. Jadi memang inilah saatnya mengajarkan kata "terima kasih", "permisi", "tolong", "maaf", dan sebagainya.
Cara yang paling efektif adalah memberi contoh langsung saat anak beraktivitas sehingga ia dapat sekaligus belajar menggunakan kosakata tersebut pada momen yang tepat.

* Tolong
Gunakan kata “tolong” setiap kali membutuhkan bantuan orang lain. Contoh:
• “Adek, tolong dong botol susu yang kosong di kamar diambil.”
• “Mbak, tolong bantu Adek memakai sepatu ya.”
• “Pa, tolong bantu gendong Adek ke kamar mandi, ya.”

* Terima kasih
Gunakan kata “terima kasih” setiap selesai mengerjakan sesuatu. Contoh:
• “Terima kasih Sayang, sudah membantu membereskan mainan. Besok lagi kalau sudah selesai bermain, masukkan lagi ke dalam kotaknya ya.”
• “Terima kasih Mbak, sudah menyiapkan susu Adek.”
• “Terima kasih Papa sudah mengajak Adek berenang.”

* Permisi
Gunakan kata “permisi” untuk suasana yang tepat, misalnya saat meminta jalan di supermarket karena trolley terhalang, bertamu, melompati seseorang, dan sebagainya. Contoh:
• “Permisi, kereta Adek mau lewat ya, Pak.”
• “Permisi Mbak, Adek mau lompat.”

* Maaf
Gunakan kata “maaf” untuk menunjukkan rasa bersalah/penyesalan. Contoh:
• “Maaf ya Sayang, Mama pulang terlambat karena harus ke dokter dulu.”
• “Ayo bilang, maaf ya Mbak, Adek memukul.”
• “Maaf ya Pa, tidak jadi berenang minggu ini.”


Melalui pengenalan kosakata kesopanan saat berkomunikasi dengan orang lain, anak juga akan terkondisikan untuk mengapresiasi nilai-nilai positif. Secara tidak langsung ia belajar menghargai orang lain, berbesar hati mengakui kesalahan, serta menunjukkan empati melalui kata-kata.

Umpama, saat mengucapkan “maaf” karena telah melakukan suatu kesalahan, orangtua bisa mencontohkan kontak mata sehingga anak bisa merasakan penyesalan yang mengiringi permintaan maaf itu. Selain itu juga mendorong anak untuk “bertanggung jawab” atas kesalahan yang dilakukannya. Ia menumpahkan susu temannya, selain minta maaf sodorkan susu miliknya untuk diberikan pada temannya sebagai bagian dari pembelajaran tentang tanggung jawab.
Saat mengucapkan kata “tolong”, orangtua bisa mencontohkan bahwa ia sungguh-sungguh meminta bantuan orang lain. Setelah dibantu, ucapkan “terima kasih” juga dilakukan dengan tulus. Dari situ anak akan belajar ketulusan dan kesadaran bahwa ia membutuhkan orang lain.

http://female.kompas.com

23 Oktober 2013

True: God’s Love Fills Me

“May the grace of the Lord Jesus Christ, and the love of God, and the fellowship of the Holy Spirit be with you all.” 2 Corinthians 13:14

In faith, I know these things to be true:
God is full of love and grace, and he fills me with his love and grace.
God’s work within me is to clear a channel for his love and grace to flow through me into the lives of anyone and everyone I meet.
I may not be there yet, but I am “confident of this, that he who began a good work in [me] will carry it on to completion until the day of Christ Jesus” (Philippians 1:6).
And I know “God is able to make all grace abound [in me], so that in all things at all times, having all that [I] need, [I] will abound in every good work” (2 Corinthians 9:8).
He will make my joy complete because I no longer live in darkness, but I now live in the truth and have fellowship with God (1 John 1:4; 1 John 1:6).
Through the “Lord Jesus Christ, and the love of God, and the fellowship of the Holy Spirit,” I am, at all times, filled with grace, mercy, and peace (2 Corinthians 13:14).

This is what I believe to be true and I will walk accordingly, allowing God to do his work in me from the inside out. Father, make it so. I believe; help my unbelief.

Tidur Sambil Dengarkan Musik Pertajam Ingatan

Memiliki masalah dengan kemampuan mengingat? Cobalah mendengarkan musik saat tidur. Sebuah studi baru mengatakan, kegiatan tersebut dapat membantu mempertajam daya ingat.

Para peneliti menemukan bahwa mendengarkan suara yang diselaraskan dengan ritme osilasi lambat otak akan meningkatkan proses osilasi sehingga akan meningkatkan daya ingat, bahkan kualitas tidur.

Selama ini sudah diketahui adanya osilasi (getaran) lambat dalam aktivitas otak yang terjadi dalam tahapan tidur yang disebut "slow-wave sleep". Tahapan tidur tersebut merupakan saat kritis dalam pembentukan memori. Di saat itu terjadi proses memindahan memori jangka pendek ke memori jangka panjang.

Penulis studi dr. Jan Born, dari University of Tubingen di Jerman mengatakan, proses tersebut dapat berjalan dengan baik dengan menggunakan suara dengan intensitas rendah. "Pendekatan ini paling praktis jika dibandingkan dengan metode penajaman memori lainnya seperti stimulasi listrik," ujar Born.

Born dan timnya melakukan tes pada 11 orang yang diberikan stimulasi suara. Ketika para peserta diberi stimulasi suara yang tersinkronisasi dengan osilasi otak yang lambat, mereka mengingat lebih baik hubungan kata yang mereka telah pelajari di hari sebelumnya.

Kendati demikian, bukan sembarang suara yang dapat meningkatkan osilasi otak. Born mengatakan, stimulasi suara yang efektif hanya pada suara yang tersinkronisasi dengan osilasi lambat yang terjadi selama fase tidur dalam.

"Kami menghadirkan stimulasi akustik yang dapat memperkuat osilasi yang lambat. Sehingga dapat meninggikan amplitudo dari osilasi dan memperlama terjadinya periode slow-wave slepp," tutur Born.

Para peneliti menduga teknik ini mungkin dapat juga meningkatkan kualitas tidur. Born mengatakan, metode yang sama mungkin juga dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan otak lainnya, seperti saat terjaga dan memberikan perhatian.

http://health.kompas.com

22 Oktober 2013

Overcome Your Fear of the Unknown

But blessed are those who trust in the Lord, whose confidence is in him. They will be like a tree planted by the water that sends out its roots by the stream....” Jeremiah 17:7–8 

New ventures can be scary. Going on a trip somewhere new, or starting a new ministry at church, or starting on a new work project—it’s hard to take that first step. What if you get sick away from home? What if no one’s interested in the new ministry? What if you do a terrible job on the new project?

There are always too many fears and too many unknowns, and we like to be in control of our environments. But sometimes new ventures are exactly what we need.

Jesus does not want us to become complacent in our faith—He wants us to be working for Him. His Word is alive and active, and if we obey His Word, then we will be too.

Trees may look delicate and pretty, but they have deep, deep roots, often deeper and larger than the part of the tree above ground. Those roots are fed by water we can’t see either, and they have a remarkable ability to survive. In this passage, Jesus compares us to trees. If we are trees, we also have a deep root system in Jesus Christ. We are watered by the immense reservoir of strength and power through the Holy Spirit. And the fruit we bear has eternal consequences.

Faith Step: Pray and ask Jesus to show you how you can “branch out” and serve Him in new ventures. Don’t be afraid, because you’re anchored in Christ and His power. 

 By Camy Tang
This devotion is excerpted from Mornings with Jesus 2013.

Ayo Berpelukan! Anak yang Sering Dipeluk Orangtua Bisa Jadi Lebih Cerdas

Ungkapan kasih sayang bisa ditunjukkan dengan berbagai cara. Lewat perhatian, memberikan hadiah, menyekolahkan anak di lembaga pendidikan berkualitas atau mengajak berlibur tiap akhir pekan. Tapi ada sesuatu yang lebih penting dari itu dan kerap terlupakan, yaitu kontak fisik atau sentuhan.

Padahal, bentuk afeksi yang disampaikan lewat sentuhan jauh lebih efektif mengekspresikan rasa kasih sayang. Sentuhan fisik seperti pelukan dapat memberikan rasa nyaman, hangat dan tentram pada siapapun yang memberi atau diberi pelukan.

"Manusia membutuhkan sentuhan fisik. Pelukan memiliki dampak yg luar biasa dalam memberi ketenangan dan perasaan disayang. Pelukan juga memengaruhi munculnya perasaan penuh kasih sayang untuk kita berikan kepada sesama," ujar Psikolog Melly Puspita Sari, Psi, M, NLPm saat talkshow 'Berbagi Pelukan Melalui Kelembutan Molto Ultra Pure' di Piscator, Gandaria City, Jakarta Selatan, Jumat (18/10/2013).

Pada anak, pelukan dari orangtua atau anggota keluarga lainnya bisa membentuknya jadi pribadi yang punya rasa empati tinggi bahkan membantu menyelesaikan konflik antar keluarga. Melly pun menjabarkan beberapa manfaat 'dahsyat' hanya dengan pelukan yang sudah terbukti secara ilmiah.

1. Pelukan lebih efektif daripada kata-kata pujian dalam memengaruhi perilaku seseorang. Pada banyak kasus yang pernah ditangani Melly di klinik konselingnya, konflik ibu dan anak bisa sangat cepat selesai hanya dengan pelukan.

"Anak berubah drastis jadi lebih tenang hanya dalam hitungan menit. Itu kekuatan pelukan," tutur penulis buku 'The Miracle Of Hug' ini.

2. Pelukan bisa jadi media untuk mengatasi konflik terutama pada anak yang berperilaku unik. Misalnya membuat anak yang selalu menolak untuk belajar menulis di sekolahnya jadi mulai tertarik untuk mulai menulis. Hal itu terjadi pada salah satu anak yang berada dalam bimbingan konseling Melly.

3. Memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan psikolog Edward R. Christopherson. Ph.D, pelukan lebih efektif daripada pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai.

4. Pelukan sederhana bisa turunkan tekanan darah dan mengurangi stres. Dalam bukunya 'The Hug Therapy', psikolog Kathleen Keating menyebutkan bahwa pelukan juga dapat meningkatkan kecerdasan otak dan IQ anak.

5. Pada bayi prematur, pelukan dari sang ibu bisa membuatnya lebih kuat dan mempercepat perkembangan tubuh serta otak. Penelitian dari Bliss Hospital di Montreal, bayi prematur yang dipeluk ibu jadi lebih cepat kuat, sehat dan besar ketimbang hanya ditempatkan di inkubator. "Ketika dipeluk, dia akan merasa nyaman sehingga punya energi baru," ucap Melly.

http://wolipop.detik.com

20 Oktober 2013

You are Not Alone

I am with you always, even unto the end of the world.” Matthew 28: 20 (KJV)

Jesus is with you!
When will He be with you? He will be with you always.
How long will He be with you? He will be with you until the world ends.

As long as the world is here and as long as you are in it, you can be absolutely, positively certain that He is with you.

This is His promise to you.
And best of all, when you get to heaven, Jesus will no longer need to promise to be with you, because in heaven, you will be with Him forever!

Redakan Asma dengan Berolahraga

Apakah Anda penderita asma? Mulai sekarang Anda sebaiknya Anda rajin berolahraga agar Asma Anda tidak semakin parah.


Menurut hasil penelitian terbaru oleh Kristin V.Carson dan rekan-rekan penelitinya, aktivitas berolahraga ternyata tidak hanya baik bagi para penderita asma, tetapi juga bisa mengurangi risiko gejala atau serangan asma. Banyak penderita asma kebanyakan memang menghindari berolahraga karena takut memicu gejala atau serangan asma.

Seiring berjalannya waktu tanpa berolahraga, Carson menjelaskan, pasien akan mengalami kekurusan, kehilangan massa otot dan kehilangan kebugaran kardiovaskular. Hal itu berakibat buruk pada aktivitas fisik kehidupan sehari-hari yang semakin membutuhkan energi lebih besar. Sehingga, kondisi seperti itu memperburuk kondisi pasien yang akan menjadi lebih lelah dan sesak napas.
Untuk mengetahui apakah olahraga berbahaya bagi penderita asma, Carson dan rekan-rekannya me-review hasil penelitian terakhir mengenai efek latihan fisik pada penderita asma. Mereka membandingkan pasien penderita asma yang tidak melakukan aktivitas fisik dengan pasien yang melakukan olahraga minimal 20 menit, dua kali seminggu, atau selama empat minggu penuh.
Para peneliti menemukan bahwa pasien yang melakukan pelatihan fisik seperti berjogging, treadmill, bersepeda, dan berenang, ternyata tidak memiliki masalah asma serius dibandingkan dengan mereka yang tidak berolahraga atau yang tidak berolahraga ringan seperti yoga.

Carson menambahkan, temuannya ini menunjukkan bahwa pasien dalam program olahraga juga bisa meningkatkan kebugaran kardiovaskular mereka yang mampu mengurangi gejala asma dari waktu ke waktu.

Selain itu, beberapa hasil dari penelitian ini termasuk penyaranan olahraga demi meningkatkan kualitas hidup pasien penderita asma, berkontribusi terhadap manfaat kesehatan lainnya, dan meningkatkan kesehatan psikologis.

http://duniafitnes.com