Kesibukan menjadi salah satu alasan kurangnya waktu orangtua untuk
anak-anaknya. Sebuah survei yang dilakukan pada 500 anak usia 3-8 tahun
di Inggris mengungkapkan, hampir 2/3 anak yang disurvei menginginkan
orangtuanya meluangkan waktu untuk membacakan cerita sebelum mereka
tidur, terutama oleh sang ibu.
"Salah satu cara terbaik untuk
meluangkan waktu bagi anak-anak adalah melalui mendongeng bagi mereka,"
ungkap psikolog anak, Efnie Indrianie, dalam talkshow bersama Wall's Dreamy Creamy di Hongkong Cafe, Jakarta, Senin (14/5/2012) lalu.
Sampai
saat ini kegiatan mendongeng sudah banyak ditinggalkan oleh para
orangtua, karena dianggap merepotkan dan membuat mereka semakin lelah
setelah seharian bekerja. Padahal sebenarnya mendongeng merupakan
kegiatan positif yang bisa mengeratkan hubungan ibu dan anak.
"Mendongeng sebenarnya bukanlah kegiatan untuk menidurkan anak, tapi
lebih berfungsi untuk meningkatkan kedekatan ibu dan anak, dan
mengembangkan kemampuan otak anak," bebernya.
Mendongeng juga membantu perkembangan psikologis dan kecerdasan emosional anak, serta beberapa manfaat lain berikut ini:
1. Mengembangkan imajinasi anak
Dunia
anak adalah dunia yang penuh imajinasi. Menurut Efnie, anak usia 3-7
tahun memiliki "dunia"-nya sendiri, bahkan mempunyai teman khayalan
sebagai teman mereka bermain. Hal ini sebenarnya tidak salah, karena
bisa membantu proses perkembangan mereka. Namun, sebaiknya orangtua
tetap mengontrol imajinasi meeka agar tetap positif, salah satunya
melalui pembacaan dongeng. Melalui dongeng yang dibacakan sang ibu,
imajinasi anak akan diarahkan dengan lebih baik.
2. Meningkatkan keterampilan berbahasa
Mendengarkan
dongeng merupakan salah satu stimulasi dini yang bisa digunakan untuk
merangsang keterampilan berbahasa pada anak. Menurut penelitian, anak
perempuan lebih cepat menguasai kemampuan berbahasa dibandingkan anak
laki-laki. Hal ini disebabkan karena anak perempuan memiliki fokus dan
konsentrasi yang lebih baik daripada laki-laki.
"Ini dipengaruhi oleh kemampuan multitasking
perempuan," kata Efnie. Kemampuan awal yang dikuasai anak-anak adalah
kemampuan verbal, sehingga otak kanan mereka lebih berkembang dan
keterampilan berbahasanya lebih terlatih. Selain itu, kisah-kisah
dongeng yang positif akan membantu anak bertutur kata dalam bahasa yang
sopan.
3. Meningkatkan minat baca anak
Secara
tak langsung, anak-anak yang memiliki ketertarikan pada dongeng akan
memiliki rasa penasaran yang lebih tinggi. Cara yang paling mudah untuk
mendongeng adalah dengan membacakan buku cerita kepada mereka. Ketika
tertarik pada dongeng, mereka menjadi lebih tertarik pada buku-buku
cerita bergambar. Dengan sendirinya, minat baca mereka juga meningkat.
4. Membangun kecerdasan emosional
Selain
mendekatkan keakraban ibu dan anak, mendongeng ternyata bisa membangun
kecerdasan emosional anak. Anak-anak akan belajar tentang nilai-nilai
moral dalam kehidupan. "Anak-anak kecil sulit untuk belajar tentang
berbagai hal yang abstrak, seperti kebaikan pada sesama. Tetapi dengan
dongeng, anak akan terbantu dalam memahami nilai-nilai emosional pada
sesama," bebernya.
Ditambahkan Efnie, anak-anak sekarang ini
kebanyakan hanya memiliki kepandaian kognitif saja, padahal kepandaian
emosional juga dibutuhkan untuk bersosialisasi dan berbuat baik pada
sesama sebagai bekal kehidupan mereka.
5. Membentuk anak yang mampu berempati
Stimulasi
melalui dongeng akan mampu merangsang kepekaan anak usia 3-7 tahun
terhadap berbagai situasi sosial. Mereka akan belajar untuk lebih
berempati pada lingkungan sekitarnya. Stimulasi akan lebih baik jika
dilakukan dengan merangsang indera pendengaran dibandingkan visual.
Stimulasi visual melalui televisi atau game memang akan merangsang
kepandaian visual, namun tidak akan merangsang kepekaan perasaan dan
empati anak. Dengan pendengaran, dan cerita-cerita yang mendidik, anak
akan lebih mudah menyerap nilai-nilai positif dan berempati dengan orang
lain.
sumber: KOMPAS.com
4 Januari 2013
Mau Mendongeng untuk Anak, Mulai dari Mana?
Kebiasaan mendongeng untuk anak-anak memang perlu dilakukan oleh
orangtua dan guru tanpa harus membacakan langsung dari bukunya. Dengan
mengandalkan kreativitas dan improvisasi, transfer karakter tokoh yang
baik dan pesan moral melalui dongeng dapat berlangsung dengan mudah.
Pendongeng Awam Prakoso mengatakan, mudah untuk memulai sebuah dongeng kepada anak-anak. Dengan tujuan mulai dari menghibur sampai menyampaikan materi pelajaran sekalipun, orangtua dan guru bisa mulai bercerita dengan ide-ide yang diperoleh dari lingkungan sekitar anak-anak.
"Bahan cerita bisa didapat dari suatu hal yang dekat dengan kita, misalkan di rumah ada sebuah pohon. Orangtua bisa membuat cerita dari ide tersebut," kata pendiri "Kampung Dongeng" itu saat memberikan pelatihan mendongeng kepada orangtua murid TK Bakti Mulya 400, Pondok Indah, Jakarta, Senin (24/9/2012).
"Misalkan seperti ini, 'Anak-anak ini ada sebuah pohon, pohonnya ada banyak daun. Daun yang muda, dan daun yang tua. Yang tua akan terjatuh kelepek kelepek kelepek. Daun muda jadi kasihan dan teriak 'Nenek jangan pergi...!' Kata daun muda. Nenek menjawab, tidak apa-apa, nenek sudah tua dan akan jatuh ke bumi untuk menyuburkan tanah, kamu masih muda harus memberikan udara segar (oksigen) kepada mahkluk bumi. Kita harus menjaga pohon bersama-sama ya?" tuturnya.
Pria yang akrab dipanggil Kak Awam ini memaparkan, setiap kisah dongeng yang disampaikan kepada anak dapat dikreasikan sedemikian mungkin. Pasalnya, menurut Kak Awam, dongeng sendiri bermakna kisah rekayasa imajinasi sederhana dengan alur perjalanan hidup yang mengandung pesan moral.
Untuk mengkreasikan dongeng bagi anak-anak, Kak Awam berbagi tips persiapan yang perlu dilakukan.
1. Memilih atau membuat cerita.
Seperti disampaikan sebelumnya, cerita dapat direkayasa dari apa saja yang dekat dengan orangtua, guru dan anak-anak. Cerita itu harus berpesan nilai moral, seperti mendongeng soal sepatu. Cerita ini, misalnya sejak awal sudah disisipkan pesan kebaikan bahwa memulai sesuatu harus dari kanan.
"Kemanakah sepatu kanan saya? Saya enggak bisa pakai sepatu kalau tidak ada bagian yang kanan (upayakan sambil berekspresi), karena memakai sepatu itu harus sepasang, dimulai dari yang kanan bla bla bla," tutur Kak Awam.
2. Menyiapkan alat peraga
Cerita yang didukung oleh alat berupa, boneka, sepatu, atau daun misalnya dapat kita gerak-gerakan dalam dialog cerita dongeng yang akan dirangkai.
3. Menghafal dan bercerita
Kadang kita sudah tahu cerita kebaikan seorang Putri Salju, Cinderella atau Malin Kundang, dan sebagainya. Kisah itu sudah kita hafal dan tinggal disampaikan kembali dalam cerita versi kita dengan media dan alat peraga yang berbeda-beda.
4. Menyiapkan tempat
Selain di kamar tidur, kita juga dapat menceritakan dongeng di sebuah dapur dan atau ruang bermain anak-anak, bahkan juga di ruang kelas. Tempat ternyamannya adalah saat anak-anak bersama kita.
Sudah siap untuk mendongeng?
sumber: KOMPAS.com
Pendongeng Awam Prakoso mengatakan, mudah untuk memulai sebuah dongeng kepada anak-anak. Dengan tujuan mulai dari menghibur sampai menyampaikan materi pelajaran sekalipun, orangtua dan guru bisa mulai bercerita dengan ide-ide yang diperoleh dari lingkungan sekitar anak-anak.
"Bahan cerita bisa didapat dari suatu hal yang dekat dengan kita, misalkan di rumah ada sebuah pohon. Orangtua bisa membuat cerita dari ide tersebut," kata pendiri "Kampung Dongeng" itu saat memberikan pelatihan mendongeng kepada orangtua murid TK Bakti Mulya 400, Pondok Indah, Jakarta, Senin (24/9/2012).
"Misalkan seperti ini, 'Anak-anak ini ada sebuah pohon, pohonnya ada banyak daun. Daun yang muda, dan daun yang tua. Yang tua akan terjatuh kelepek kelepek kelepek. Daun muda jadi kasihan dan teriak 'Nenek jangan pergi...!' Kata daun muda. Nenek menjawab, tidak apa-apa, nenek sudah tua dan akan jatuh ke bumi untuk menyuburkan tanah, kamu masih muda harus memberikan udara segar (oksigen) kepada mahkluk bumi. Kita harus menjaga pohon bersama-sama ya?" tuturnya.
Pria yang akrab dipanggil Kak Awam ini memaparkan, setiap kisah dongeng yang disampaikan kepada anak dapat dikreasikan sedemikian mungkin. Pasalnya, menurut Kak Awam, dongeng sendiri bermakna kisah rekayasa imajinasi sederhana dengan alur perjalanan hidup yang mengandung pesan moral.
Untuk mengkreasikan dongeng bagi anak-anak, Kak Awam berbagi tips persiapan yang perlu dilakukan.
1. Memilih atau membuat cerita.
Seperti disampaikan sebelumnya, cerita dapat direkayasa dari apa saja yang dekat dengan orangtua, guru dan anak-anak. Cerita itu harus berpesan nilai moral, seperti mendongeng soal sepatu. Cerita ini, misalnya sejak awal sudah disisipkan pesan kebaikan bahwa memulai sesuatu harus dari kanan.
"Kemanakah sepatu kanan saya? Saya enggak bisa pakai sepatu kalau tidak ada bagian yang kanan (upayakan sambil berekspresi), karena memakai sepatu itu harus sepasang, dimulai dari yang kanan bla bla bla," tutur Kak Awam.
2. Menyiapkan alat peraga
Cerita yang didukung oleh alat berupa, boneka, sepatu, atau daun misalnya dapat kita gerak-gerakan dalam dialog cerita dongeng yang akan dirangkai.
3. Menghafal dan bercerita
Kadang kita sudah tahu cerita kebaikan seorang Putri Salju, Cinderella atau Malin Kundang, dan sebagainya. Kisah itu sudah kita hafal dan tinggal disampaikan kembali dalam cerita versi kita dengan media dan alat peraga yang berbeda-beda.
4. Menyiapkan tempat
Selain di kamar tidur, kita juga dapat menceritakan dongeng di sebuah dapur dan atau ruang bermain anak-anak, bahkan juga di ruang kelas. Tempat ternyamannya adalah saat anak-anak bersama kita.
Sudah siap untuk mendongeng?
sumber: KOMPAS.com
7 Tips agar Anak Senang Mendengar Dongeng Anda
Baik untuk
tujuan menghibur maupun menyampaikan materi pelajaran, orangtua dan guru
bisa mulai mendongeng dengan ide-ide yang diperoleh dari lingkungan
sekitar anak-anak. Mendongeng mudah dilakukan dengan mengandalkan
kreativitas dan improvisasi.
Pendongeng Awam Prakoso membagikan sejumlah tips agar orangtua dan guru bisa mendongeng dengan kreatif dan anak-anak bisa menerimanya dengan senang. Anak-anak sebagai penonton perlu diupayakan siap untuk menerima pesan dari sebuah cerita.
1. Posisi perlu diperhatikan. Jika anak sedang bermain, sebaiknya tidak diganggu. Pasalnya, bermain bagi anak-anak itu tidak main-main. Mereka serius. Jadi pilihlah posisi mendongeng yang pas. Seperti sebelum tidur, atau jelang makan, biasanya menemani agar mau disuapi.
2. Upayakan vokal dan ekspresi lucu dengan cara membiasakan mengatur vokal yang lucu yang disukai anak-anak. Meniru suara binatang, suara gerak, dan lain-lain dapat mencuri perhatian anak-anak. Keluarkanlah suara dengan total. Bukan dengan berteriak-teriak, melainkan dengan vokal yang diupayakan mirip dengan tokoh cerita dalam dongeng.
3. Siapkan alat peraga. Siapkan alat peraga agar anak-anak melihat ekspresi dan gambaran cerita dengan kemampuan visualnya. Jangan salah, makanan camilan pun dapat dijadikan alat peraga. Awali dengan teknik tebak-tebakan, misalnya lagu, serta permainan, atau kombinasi semuanya.
4. Tenang. Usahakan santai dalam membawakan cerita dapat membuat anak-anak gampang menerima pesan cerita.
5. Improvisasi ketika sudah hafal dengan cerita. Misalnya, lupa nama tokoh yang digambarkan sebagai seekor kelinci. Kita dapat improvisasi dengan memberi ciri-ciri kelinci, misalnya dengan menuturkan, "Di sebuah hutan, ada hewan yang... Hmm hewan apa ya yang suka meloncat-loncat, dan telinganya panjang?". Anak-anak tentu akan menyambutnya dengan teriakan "Kelinciiii!". Improvisasi dalam bentuk pertanyaan akan membuat interaksi dengan anak sebagai penyimak.
6. Melibatkan anak dalam satu sampai dua adegan. Ini sangat dianjurkan agar tidak monoton. Dengan jalan memberikan interaksi, anak tidak hanya berperan sebagai penonton, tetapi juga kadang obyek.
7. Bijaksana. Menyampaikan dongeng tidak sama dengan menyampaikan cerita umum. Ada anak-anak yang perlu penanganan lebih lanjut, misalnya untuk anak berkebutuhan khusus, penyampaiannya tidak seragam dengan anak-anak lainnya..
Pria yang akrab dipanggil Kak Awam ini mengungkapkan bahwa pendongeng, yaitu orangtua dan guru, tak perlu tergesa-gesa berharap anak bisa mengerti semua yang diceritakan. Namun, menurutnya, satu atau dua nilai yang disampaikan melalui cerita mampu mengubah perasaan dan pola pikir anak.
Komunikasi antara orangtua atau guru dan anak, lanjutnya, dibangun melalui media cerita. Cerita tidak hanya sanggup mengusir rewel dan suasana hati anak yang gundah, tetapi juga mampu membentuk karakter wawasan dan pola pikir anak secara kreatif.
Pendongeng Awam Prakoso membagikan sejumlah tips agar orangtua dan guru bisa mendongeng dengan kreatif dan anak-anak bisa menerimanya dengan senang. Anak-anak sebagai penonton perlu diupayakan siap untuk menerima pesan dari sebuah cerita.
1. Posisi perlu diperhatikan. Jika anak sedang bermain, sebaiknya tidak diganggu. Pasalnya, bermain bagi anak-anak itu tidak main-main. Mereka serius. Jadi pilihlah posisi mendongeng yang pas. Seperti sebelum tidur, atau jelang makan, biasanya menemani agar mau disuapi.
2. Upayakan vokal dan ekspresi lucu dengan cara membiasakan mengatur vokal yang lucu yang disukai anak-anak. Meniru suara binatang, suara gerak, dan lain-lain dapat mencuri perhatian anak-anak. Keluarkanlah suara dengan total. Bukan dengan berteriak-teriak, melainkan dengan vokal yang diupayakan mirip dengan tokoh cerita dalam dongeng.
3. Siapkan alat peraga. Siapkan alat peraga agar anak-anak melihat ekspresi dan gambaran cerita dengan kemampuan visualnya. Jangan salah, makanan camilan pun dapat dijadikan alat peraga. Awali dengan teknik tebak-tebakan, misalnya lagu, serta permainan, atau kombinasi semuanya.
4. Tenang. Usahakan santai dalam membawakan cerita dapat membuat anak-anak gampang menerima pesan cerita.
5. Improvisasi ketika sudah hafal dengan cerita. Misalnya, lupa nama tokoh yang digambarkan sebagai seekor kelinci. Kita dapat improvisasi dengan memberi ciri-ciri kelinci, misalnya dengan menuturkan, "Di sebuah hutan, ada hewan yang... Hmm hewan apa ya yang suka meloncat-loncat, dan telinganya panjang?". Anak-anak tentu akan menyambutnya dengan teriakan "Kelinciiii!". Improvisasi dalam bentuk pertanyaan akan membuat interaksi dengan anak sebagai penyimak.
6. Melibatkan anak dalam satu sampai dua adegan. Ini sangat dianjurkan agar tidak monoton. Dengan jalan memberikan interaksi, anak tidak hanya berperan sebagai penonton, tetapi juga kadang obyek.
7. Bijaksana. Menyampaikan dongeng tidak sama dengan menyampaikan cerita umum. Ada anak-anak yang perlu penanganan lebih lanjut, misalnya untuk anak berkebutuhan khusus, penyampaiannya tidak seragam dengan anak-anak lainnya..
Pria yang akrab dipanggil Kak Awam ini mengungkapkan bahwa pendongeng, yaitu orangtua dan guru, tak perlu tergesa-gesa berharap anak bisa mengerti semua yang diceritakan. Namun, menurutnya, satu atau dua nilai yang disampaikan melalui cerita mampu mengubah perasaan dan pola pikir anak.
Komunikasi antara orangtua atau guru dan anak, lanjutnya, dibangun melalui media cerita. Cerita tidak hanya sanggup mengusir rewel dan suasana hati anak yang gundah, tetapi juga mampu membentuk karakter wawasan dan pola pikir anak secara kreatif.
sumber: KOMPAS.com
Anak Lebih Populer karena Suka Berbagi
Studi di Vancouver yang memelajari empati di sekolah menemukan bahwa
anak-anak yang baik hati dan suka berbagi, membuatnya lebih disukai dan
diterima oleh teman-teman sebayanya dan lebih populer.
Hal sederhana yang dilakukan anak di sekolah, bersama temannya, seperti membagi makan siangnya, punya dampak luas. Anak yang suka berbagi terlihat lebih bahagia dan positif. Kebiasaan berbagi yang dilakukan secara alami dan spontan oleh anak-anak ini juga ternyata membuatnya lebih diterima oleh teman-temannya dan lebih populer di sekolah.
Studi ini menunjukkan untuk meraih kebahagiaan, menjadi pribadi yang mudah bersosialisasi, dan populer di lingkungannya bukan hanya mengandalkan kapabilitas diri tapi juga memiliki hubungan timbal balik.
Orang yang berbahagia adalah mereka yang memiliki pergaulan luas, senang bersosialisasi, dan memiliki persahabatan yang menyenangkan. Demikian juga dengan anak yang gemar berbagi, ia akan lebih disukai teman-temannya dan populer di lingkungannya karena suka membantu, kooperatif dan mempunyai keseimbangan emosi.
Sumber: Parenting/KOMPAS.com
Hal sederhana yang dilakukan anak di sekolah, bersama temannya, seperti membagi makan siangnya, punya dampak luas. Anak yang suka berbagi terlihat lebih bahagia dan positif. Kebiasaan berbagi yang dilakukan secara alami dan spontan oleh anak-anak ini juga ternyata membuatnya lebih diterima oleh teman-temannya dan lebih populer di sekolah.
Studi ini menunjukkan untuk meraih kebahagiaan, menjadi pribadi yang mudah bersosialisasi, dan populer di lingkungannya bukan hanya mengandalkan kapabilitas diri tapi juga memiliki hubungan timbal balik.
Orang yang berbahagia adalah mereka yang memiliki pergaulan luas, senang bersosialisasi, dan memiliki persahabatan yang menyenangkan. Demikian juga dengan anak yang gemar berbagi, ia akan lebih disukai teman-temannya dan populer di lingkungannya karena suka membantu, kooperatif dan mempunyai keseimbangan emosi.
Sumber: Parenting/KOMPAS.com
Apakah Penghasilan Saya sudah Ideal?
"Waduh nak, nanti aja ya belinya ya.., sekarang lagi tanggung bulan ni..,"
Kalimat tersebut terkesan akrab di telinga kita. Ya, memang akrab bukan
karena kita suka menggunakan kalimat itu namun kita terpaksa
mengeluarkan kalimat tersebut. Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa
pemasukan atau gaji yang kita terima ternyata hanya mampu "menghidupi"
kita selama 20 hari atau bahkan kurang dari itu dalam sebulan.
Ya, ini adalah fakta yang terjadi, sering kali kita merasa gaji belum cukup, masih kurang, jangankan untuk ditabung atau investasi, memenuhi keinginan kita saja masih kurang, ya sekali lagi masih kurang!.
Lalu pertanyaan selanjutnya adalah berapa besar gaji yang wajar bagi kita? Pembaca yang bijak, untuk menjawabnya alangkah baiknya jika kita melakukan evaluasi dan introspeksi secara jujur, untuk itu silahkan untuk menjawab beberapa pertanyaan dibawah ini dan catatlah hasilnya:
1. Sudah berapa lamakah (tahun dan bulan) saya telah menerima gaji?;
2. Sudah berapa kali saya mengalami kenaikan gaji?;
3. Berapa rupiahkah saat pertama saya kita menerima gaji? Berapa rupiahkah besar gaji saya saat ini?;
4. Apakah saya selalu membayar cicilan utang setiap bulan?;
5. Adakah bagian dari gaji yang dapat disimpan untuk investasi?
6. Apakah saat ini saya mengalami defisit (gaji tidak dapat bertahan sampai akhir bulan)?, jika jawabnya ‘tidak’ maka kami ucapkan selamat namun jika jawabanya‘ya’ maka disinilah letak permasalahannya.
Bagi anda yang menjawab ‘ya’ maka langkah selanjutnya adalah lakukan valuasi penghasilan anda, dalam melakukan valuasi, jawabannya hanya ada tiga kelompok, yakni:
1. Tahapan yang buruk (Poor Income Valuation);
2. Tahapan yang wajar (Fair Income Valuation);
3. Tahapan yang ideal (Ideal Income Valuation). Nah berikut ini adalah penjelasan serta solusinya dari kelompok - kelompok tersebut :
Tahapan yang buruk (Poor Income Valuation): adalah tahapan dimana kondisi total pengeluaran lebih besar dari penghasilan atau dikenal dengan istilah "Besar Pasak dari Tiang", dalam kondisi ini arus kas menjadi defisit atau negatif disertai dengan bobot cicilan hutang perbulan diatas 45 persen dari total penghasilan. Perhatikan contoh berikut (tabel 1):
Tabel 1 uraian pengeluaran per bulan, mencakup:
• Besar penghasilan,
• Pengeluaran diluar cicilan utang,
• Cicilan utang tiap bulan,
• Surplus atau defisit penghasilan,
• Surplus atau defisit cicilan utang
Dalam contoh kasus diatas terlihat bahwa: 1. Pengeluaran (defisit) Rp 1.250.000. 2. Cicilan utang melebihi batas wajar maksimal per bulan yakni defisit Rp 1.850.000 atau berlebih sebesar 23,13 persen dari batas maksimal cicilan utang yakni 30 persen atau sebesar Rp 2.400.000.
Ini berarti bahwa, pada kasus tersebut, yang bersangkutan berpotensi untuk menutupi defisit (kekurangan) dengan cara menambah utang. Hmm.., berpotensi untuk ‘gali lubang tutup lubang’, awas hati-hati jika kebesaran lubangnya akan mudah untuk terjerumus!. Utang tersebut biasanya didapat dari Kartu Kredit, Kredit Tanpa Agunan (KTA) atau dengan jenis utang yang lain. Cara tersebut sangat berbahaya dan tidak dapat dibenarkan.
Saya katakan bahwa kondisi dan kebiasan ini wajib dihentikan, stop sesegera mungkin. Saran saya adalah sebaiknya pada kondisi ini segera minta bantuan dana, ingat bantuan dan bukan pinjaman untuk jangka waktu yang pendek. Atau usahakan untuk melakukan pinjaman lunak jangka panjang, kelak akan dikembalikan jika telah ada kemampuan.
Jaminan pinjaman tersebut apa? jika ada properti bisa dilakukan jaminan namun jika tidak ada apapun maka satu-satunya cara adalah jaminan pribadi (diri sendiri), ini bisa dilakukan dengan menghubungi dari relasi ataupun keluarga yang sangat dekat.
Nah kiat anda pun harus jelas, dalam waktu bersamaan sebelum anda meminjam atau meminta bantuan, anda juga harus mencari solusi dengan tujuan agar terjadi peningkatan income hal itu dapat dilakukan dengan cara:
a) Walaupun anda masih bekerja, anda wajib untuk mencari pemasukan tambahan (melalui usaha dengan modal pinjaman kepada relasi atau keluarga terdekat tersebut) lakukan studi kelayakan yang akurat dan objektif agar potensi keberhasilan usaha anda menjadi lebih besar dari kemungkinan gagalnya;
b) Berupaya agar gaji bertambah dengan cara pindah bekerja atau melakukan kerja yang lebih giat lagi (utamanya bagi tenaga penjual atau salesman) sehingga komisi atau bonus bertambah;
c) Menekan pengeluaran rutin (melakukan efisiensi) dengan ketat;
d) Jangan lupa melakukan manajemen resiko melalui asuransi jiwa dengan memiliki Uang Pertanggungan yang cukup untuk mengembalikan pinjaman tersebut (ingat kematian pasti akan datang, namun tidak diketahui waktunya);
e) Sebagai masukan adalah asuransi jiwa tipe YRT (Yearly Renewable Term) bukan yang lain, sebagai contoh seorang pria tidak merokok usia 35 tahun, uang pertanggungan Rp 500 juta, kisaran premi pada asuransi YRT per tahun adalah sebesar Rp 1,5 juta hingga Rp 1,75 juta.
Selanjutnya, anda wajib mengubah menuju tahapan yang wajar, berikut penjelasannya:
Tahapan yang wajar (Fair Income Valuation): adalah kondisi dimana anda tidak defisit, besar cicilan utang masih berada diatas 30 persen dari pendapatan, namun yang bersangkutan mampu untuk melakukan investasi demi kesejahteraan dia dan keluarganya kelak, porsi investasi minimal adalah sebesar 10 persen dari penghasilan. Kemudian adalah bagaimana kita mengubah dari kondisi yang buruk (poor income valuation) menjadi kondisi yang wajar (fair income valuation), nah untuk kasus diatas berapa besar income yang wajar tersebut?, berikut adalah formulasi valuasi penghasilan wajar, yakni:
Total pengeluaran dalam kondisi defisit / 90 persen
Mengapa pembagi harus 90 persen? Hal ini disebabkan karena untuk mencapai zona kebebasan finansial atau anda menjadi lebih kaya maka wajib menyisihkan penghasilan minimal 10 persen dan ditempatkan pada investasi yang tepat serta yang bersangkutan juga harus menjaga cicilan utang terus menurun hingga makin mendekati batasan maksimal 30 persen dari pendapatan anda.
Sehingga contoh kasus (tabel 1 diatas) penghasilan menjadi Rp 10.277.777. Atau untuk jelasnya silahkan perhatikan tabel berikut
Tabel 2:
Analisa:
dari tabel terlihat bahwa defisit sudah nol dan cicilan utang menurun
dari bobot terhadap penghasilan dari 45,95 persen menjadi 41,35 persen.
Kondisi ini sudah lebih baik walau belum menjadi tahapan yang ideal (Ideal Income Valuation).
Tahapan terakhir adalah Tahapan yang ideal (Ideal Income Valuation): pada tahapan ini individu/keluarga tersebut sudah berada pada koridor keuangan yang sehat, yakni sesuai tabel:
Tabel 3:
Adapun formulasi Valuasi Penghasilan Ideal adalah:
Cicilan utang perbulan/30 persen + Pengeluaran (di luar cicilan utang)
Analisa: terlihat bahwa bobot cicilan hutang telah mencapai kurang dari 30 persen yaitu 22,17 persen serta terjadi surplus pendapatan sebesar 41,74 persen dan ada kelebihan dana yang dapat ditambahkan untuk investasi sebesar Rp 8.000.000 atau 41,74 persen.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana saya mendapatkan tambahan penghasilan tersebut?, jawabannya sudah tertera pada artikel ini yaitu berupa kiat anda sebelum meminjam atau meminta bantuan dana (butir a hingga e). Hal ini memang tidak mudah namun setidaknya juga bukan sesuatu yang mustahil. Setidaknya anda sudah mengetahui batasan penghasilan yang sehat sesuai dengan kondisi anda.
Pada contoh kasus ini penghasilan yang defisit sebesar Rp 8.000.000,- harus diperbesar menjadi surplus dalam kisaran Rp 10.277.777 hingga Rp 19.166.167 agar yang bersangkutan dapat menjadi bertambah kaya di kemudian hari.
Sekedar informasi penghasilan dan cicilan utang yang dimaksud disini adalah dapat merupakan penghasilan dan cicilan uutang gabungan (suami & istri).
Namun sebaliknya secara realistis kita harus siap dan wajib melakukan 'pengetatan super ekstra' terhadap pengeluaran jika proyeksi untuk mendapatkan penghasilan tambahan belum nampak, walaupun dana bantuan telah tersedia. (Taufik Gumulya, CFP®/Independent Financial Planner, CEO TGRM Financial Planning Services)
Ya, ini adalah fakta yang terjadi, sering kali kita merasa gaji belum cukup, masih kurang, jangankan untuk ditabung atau investasi, memenuhi keinginan kita saja masih kurang, ya sekali lagi masih kurang!.
Lalu pertanyaan selanjutnya adalah berapa besar gaji yang wajar bagi kita? Pembaca yang bijak, untuk menjawabnya alangkah baiknya jika kita melakukan evaluasi dan introspeksi secara jujur, untuk itu silahkan untuk menjawab beberapa pertanyaan dibawah ini dan catatlah hasilnya:
1. Sudah berapa lamakah (tahun dan bulan) saya telah menerima gaji?;
2. Sudah berapa kali saya mengalami kenaikan gaji?;
3. Berapa rupiahkah saat pertama saya kita menerima gaji? Berapa rupiahkah besar gaji saya saat ini?;
4. Apakah saya selalu membayar cicilan utang setiap bulan?;
5. Adakah bagian dari gaji yang dapat disimpan untuk investasi?
6. Apakah saat ini saya mengalami defisit (gaji tidak dapat bertahan sampai akhir bulan)?, jika jawabnya ‘tidak’ maka kami ucapkan selamat namun jika jawabanya‘ya’ maka disinilah letak permasalahannya.
Bagi anda yang menjawab ‘ya’ maka langkah selanjutnya adalah lakukan valuasi penghasilan anda, dalam melakukan valuasi, jawabannya hanya ada tiga kelompok, yakni:
1. Tahapan yang buruk (Poor Income Valuation);
2. Tahapan yang wajar (Fair Income Valuation);
3. Tahapan yang ideal (Ideal Income Valuation). Nah berikut ini adalah penjelasan serta solusinya dari kelompok - kelompok tersebut :
Tahapan yang buruk (Poor Income Valuation): adalah tahapan dimana kondisi total pengeluaran lebih besar dari penghasilan atau dikenal dengan istilah "Besar Pasak dari Tiang", dalam kondisi ini arus kas menjadi defisit atau negatif disertai dengan bobot cicilan hutang perbulan diatas 45 persen dari total penghasilan. Perhatikan contoh berikut (tabel 1):
Tabel 1 uraian pengeluaran per bulan, mencakup:
• Besar penghasilan,
• Pengeluaran diluar cicilan utang,
• Cicilan utang tiap bulan,
• Surplus atau defisit penghasilan,
• Surplus atau defisit cicilan utang
No
|
Uraian per bulan
|
Besarnya
|
Bobot VS Pendapatan
|
1
|
Penghasilan Bersih (saat ini) Take home pay
|
Rp 8,000,000
|
86.49%
|
2
|
Pengeluaran (diluar cicilan utang)
|
Rp 5,000,000
|
54.05%
|
3
|
Cicilan utang
|
Rp 4,250,000
|
45.95%
|
4
|
Total pengeluaran = 2+3
|
Rp 9,250,000
|
100.00%
|
5
|
Surplus (defisit) pengeluaran = 1 – 4
|
Rp (1,250,000)
|
-13.51%
|
6
|
Surplus (defisit) cicilan utang = (1*30%) – 3
|
Rp (1,850,000)
|
-23.13%
|
Dalam contoh kasus diatas terlihat bahwa: 1. Pengeluaran (defisit) Rp 1.250.000. 2. Cicilan utang melebihi batas wajar maksimal per bulan yakni defisit Rp 1.850.000 atau berlebih sebesar 23,13 persen dari batas maksimal cicilan utang yakni 30 persen atau sebesar Rp 2.400.000.
Ini berarti bahwa, pada kasus tersebut, yang bersangkutan berpotensi untuk menutupi defisit (kekurangan) dengan cara menambah utang. Hmm.., berpotensi untuk ‘gali lubang tutup lubang’, awas hati-hati jika kebesaran lubangnya akan mudah untuk terjerumus!. Utang tersebut biasanya didapat dari Kartu Kredit, Kredit Tanpa Agunan (KTA) atau dengan jenis utang yang lain. Cara tersebut sangat berbahaya dan tidak dapat dibenarkan.
Saya katakan bahwa kondisi dan kebiasan ini wajib dihentikan, stop sesegera mungkin. Saran saya adalah sebaiknya pada kondisi ini segera minta bantuan dana, ingat bantuan dan bukan pinjaman untuk jangka waktu yang pendek. Atau usahakan untuk melakukan pinjaman lunak jangka panjang, kelak akan dikembalikan jika telah ada kemampuan.
Jaminan pinjaman tersebut apa? jika ada properti bisa dilakukan jaminan namun jika tidak ada apapun maka satu-satunya cara adalah jaminan pribadi (diri sendiri), ini bisa dilakukan dengan menghubungi dari relasi ataupun keluarga yang sangat dekat.
Nah kiat anda pun harus jelas, dalam waktu bersamaan sebelum anda meminjam atau meminta bantuan, anda juga harus mencari solusi dengan tujuan agar terjadi peningkatan income hal itu dapat dilakukan dengan cara:
a) Walaupun anda masih bekerja, anda wajib untuk mencari pemasukan tambahan (melalui usaha dengan modal pinjaman kepada relasi atau keluarga terdekat tersebut) lakukan studi kelayakan yang akurat dan objektif agar potensi keberhasilan usaha anda menjadi lebih besar dari kemungkinan gagalnya;
b) Berupaya agar gaji bertambah dengan cara pindah bekerja atau melakukan kerja yang lebih giat lagi (utamanya bagi tenaga penjual atau salesman) sehingga komisi atau bonus bertambah;
c) Menekan pengeluaran rutin (melakukan efisiensi) dengan ketat;
d) Jangan lupa melakukan manajemen resiko melalui asuransi jiwa dengan memiliki Uang Pertanggungan yang cukup untuk mengembalikan pinjaman tersebut (ingat kematian pasti akan datang, namun tidak diketahui waktunya);
e) Sebagai masukan adalah asuransi jiwa tipe YRT (Yearly Renewable Term) bukan yang lain, sebagai contoh seorang pria tidak merokok usia 35 tahun, uang pertanggungan Rp 500 juta, kisaran premi pada asuransi YRT per tahun adalah sebesar Rp 1,5 juta hingga Rp 1,75 juta.
Selanjutnya, anda wajib mengubah menuju tahapan yang wajar, berikut penjelasannya:
Tahapan yang wajar (Fair Income Valuation): adalah kondisi dimana anda tidak defisit, besar cicilan utang masih berada diatas 30 persen dari pendapatan, namun yang bersangkutan mampu untuk melakukan investasi demi kesejahteraan dia dan keluarganya kelak, porsi investasi minimal adalah sebesar 10 persen dari penghasilan. Kemudian adalah bagaimana kita mengubah dari kondisi yang buruk (poor income valuation) menjadi kondisi yang wajar (fair income valuation), nah untuk kasus diatas berapa besar income yang wajar tersebut?, berikut adalah formulasi valuasi penghasilan wajar, yakni:
Total pengeluaran dalam kondisi defisit / 90 persen
Mengapa pembagi harus 90 persen? Hal ini disebabkan karena untuk mencapai zona kebebasan finansial atau anda menjadi lebih kaya maka wajib menyisihkan penghasilan minimal 10 persen dan ditempatkan pada investasi yang tepat serta yang bersangkutan juga harus menjaga cicilan utang terus menurun hingga makin mendekati batasan maksimal 30 persen dari pendapatan anda.
Sehingga contoh kasus (tabel 1 diatas) penghasilan menjadi Rp 10.277.777. Atau untuk jelasnya silahkan perhatikan tabel berikut
Tabel 2:
Valuasi Penghasilan Wajar (saat nanti)
|
Besarnya
|
Bobot VS Pendapatan
| |
7
|
Pendapatan Bersih Wajar
|
Rp 10,277,777
|
100.00%
|
8
|
Dana yg di Investasikan (wajib)
|
Rp 1,027,778
|
10.00%
|
9
|
Pengeluaran (diluar cicilan utang)
|
Rp 5,000,000
|
48.65%
|
10
|
Cicilan utang
|
Rp 4,250,000
|
41.35%
|
11
|
Total pengeluaran = 8+9+10
|
Rp 10,277,778
|
100.00%
|
12
|
Surplus (defisit) pengeluaran = 7 – 11
|
Rp (0)
|
0.00%
|
13
|
Surplus (defisit) cicilan utang = (7*30%) – 10
|
Rp (1,166,667)
|
-11.35%
|
Tahapan terakhir adalah Tahapan yang ideal (Ideal Income Valuation): pada tahapan ini individu/keluarga tersebut sudah berada pada koridor keuangan yang sehat, yakni sesuai tabel:
Tabel 3:
Valuasi Penghasilan Ideal (saat nanti)
|
Besarnya
|
Bobot VS Pendapatan
| |
14
|
Pendapatan Bersih Ideal
|
Rp 19,166,667
|
100.00%
|
15
|
Dana yg di Investasikan (wajib)
|
Rp 1,916,667
|
10.00%
|
16
|
Pengeluaran (diluar cicilan hutang)
|
Rp 5,000,000
|
26.09%
|
17
|
Cicilan hutang
|
Rp 4,250,000
|
22.17%
|
18
|
Total pengeluaran = 15+16+17
|
Rp 11,166,667
|
58.26%
|
19
|
Surplus (defisit) pengeluaran = 14 - 18
|
Rp 8,000,000
|
41.74%
|
20
|
Surplus (defisit) cicilan hutang = (14*30%) - 17
|
Rp 1,500,000
|
7,83%
|
21
|
Dana yang di Investasikan (tambahan)
|
Rp 8,000,000
|
41.74%
|
Cicilan utang perbulan/30 persen + Pengeluaran (di luar cicilan utang)
Analisa: terlihat bahwa bobot cicilan hutang telah mencapai kurang dari 30 persen yaitu 22,17 persen serta terjadi surplus pendapatan sebesar 41,74 persen dan ada kelebihan dana yang dapat ditambahkan untuk investasi sebesar Rp 8.000.000 atau 41,74 persen.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana saya mendapatkan tambahan penghasilan tersebut?, jawabannya sudah tertera pada artikel ini yaitu berupa kiat anda sebelum meminjam atau meminta bantuan dana (butir a hingga e). Hal ini memang tidak mudah namun setidaknya juga bukan sesuatu yang mustahil. Setidaknya anda sudah mengetahui batasan penghasilan yang sehat sesuai dengan kondisi anda.
Pada contoh kasus ini penghasilan yang defisit sebesar Rp 8.000.000,- harus diperbesar menjadi surplus dalam kisaran Rp 10.277.777 hingga Rp 19.166.167 agar yang bersangkutan dapat menjadi bertambah kaya di kemudian hari.
Sekedar informasi penghasilan dan cicilan utang yang dimaksud disini adalah dapat merupakan penghasilan dan cicilan uutang gabungan (suami & istri).
Namun sebaliknya secara realistis kita harus siap dan wajib melakukan 'pengetatan super ekstra' terhadap pengeluaran jika proyeksi untuk mendapatkan penghasilan tambahan belum nampak, walaupun dana bantuan telah tersedia. (Taufik Gumulya, CFP®/Independent Financial Planner, CEO TGRM Financial Planning Services)
Editor :
Erlangga Djumena
sumber: KOMPAS.com
4 Langkah Mencapai Kecerdasan Finansial
Orang-orang sukses biasanya memiliki kecerdasan finansial yang
bagus. Mereka mampu mengelola uang sehingga aset terus bertambah, dan
bahkan ada yang sampai pada tahap merdeka secara finansial. Apa
maksudnya?
Kalangan seperti ini sudah tidak perlu lagi mengeluarkan tenaga dan pikiran untuk mencari uang, tetapi uangnya sudah bekerja untuk ”tuannya”, yakni kalangan yang sudah merdeka tersebut. Pertanyaannya, apakah Anda sudah merdeka secara finansial?
Menghasilkan secara produktif
Kecerdasan finansial secara ”best practice” paling tidak meliputi berbagai aspek. Pertama, bagaimana menghasilkan uang dengan cara yang produktif. Apa maksudnya? Kita semua yang bekerja pasti menghasilkan uang. Namun masalahnya, apakah cara kita memperoleh uang sudah produktif? Dalam arti sudah setara antara waktu, pikiran, dan tenaga yang tercurah dengan uang yang dihasilkan? Belum tentu.
Coba dengar keluhan di sekitar kita. Sebagian karyawan selalu berpikir untuk mendapatkan kenaikan gaji terus-menerus. Akibat memikirkan kenaikan gaji terus-menerus, kerja menjadi tidak konsentrasi. Atau lebih jauh lagi, output yang diberikan ke perusahaan menurun. Pada gilirannya kinerja perusahaan bisa menurun yang mungkin berdampak pada ketidakmampuan perusahaan untuk membayar gaji dengan baik.
Orang-orang yang cerdas secara finansial, harusnya memahami bahwa sumber pendapatannya diperoleh dari gaji dan bonus, jika yang bersangkutan seorang karyawan/wati. Maka untuk bisa mendapatkan gaji atau penghasilan secara lebih, mau tidak mau harus memberikan output yang lebih besar ke perusahaan sehingga kinerja perusahaan juga meningkat.
Dengan kata lain, agar bisa mendapatkan uang yang setara dengan waktu, tenaga, dan pikiran yang diberikan, lakukan kegiatan kerja secara efektif, yang memberi pengaruh terhadap peningkatan kinerja perusahaan. Itu berarti bekerja dengan kualitas tinggi, bukan sekadar banyaknya jam kerja atau kuantitas tinggi.
Melindungi uang
Kedua, bagaimana melindungi uang yang sudah diperoleh. Ada istilah ”easy come, easy go”. Uang yang diperoleh dengan mudah, akan mudah pula habisnya. Tetapi, lebih parah lagi, ada kalangan yang sudah susah payah untuk mendapatkan uang, namun di sisi lain sangat mudah menghabiskan atau membelanjakannya. Malah kemudian menjadi ”lebih besar pasak, daripada tiang”.
Lantas bagaimana melindungi uang yang sudah diperoleh, terlepas apakah diperoleh secara mudah atau sulit. Tidak banyak rumusan untuk melindungi uang, karena kata kuncinya ada pada perilaku si pemilik uang. Jika seseorang mampu mengontrol pengelolaan uangnya, maka otomatis uang itu sudah terlindungi. Itu prinsip dasarnya.
Tetapi, secara kecerdasan tentu saja ada juga cara-cara jitu untuk melindungi uang, dalam hal ini pengertiannya adalah melindungi nilai uang. Jika Anda saat ini memiliki uang Rp 100 juta, di mana uang segitu bisa Anda belikan sebidang tanah misalnya. Maka jika uang itu tetap Anda pegang dalam bentuk tunai, maka belum tentu di tahun depan Anda bisa membeli sebidang tanah yang saat ini harganya setara Rp 100 juta. Dengan kata lain, nilai uang Anda mengalami penurunan. Dus, untuk melindunginya dari penurunan nilai, maka uang itu mesti ditukarkan dengan benda lain yang malah nilainya bisa mengalami kenaikan.
Seperti contoh di atas, jika Anda membeli sebidang tanah seluas 100 meter dengan nilai Rp 100 juta, maka di tahun depan, ketika Anda butuh tunai, maka tanah tersebut bisa Anda jual kembali dan harganya bisa dipastikan lebih tinggi dari Rp 100 juta. Sebut saja, misalnya Rp 110 juta. Itu berarti nilai uang Rp 100 juta saat ini setara dengan Rp 110 juta di tahun depan. Simpulannya, hati-hati menyimpan uang secara tunai, karena nilainya akan berbeda setiap tahunnya. Atau dengan kata lain, Anda mesti melakukan lindung nilai terhadap uang yang telah Anda miliki.
Mengelola anggaran
Apakah setelah mampu memberi perlindungan terhadap nilai uang atau uang yang Anda peroleh, maka persoalan selesai? Jelas belum. Cek lagi apakah kegiatan keuangan Anda sudah mampu memenuhi kaidah yang ketiga, yakni, mengelola anggaran keuangan secara efektif. Apa maksudnya? Berapa banyak penghasilan Anda yang habis untuk membiayai perilaku konsumtif, misalnya. Lalu berapa besar dari penghasilan Anda yang bisa ditabung. Atau apakah pembiayaan konsumtif Anda berdasarkan perencanaan atau habis begitu saja, mengikuti naluri.
Untuk bisa digolongkan sebagai kalangan yang memiliki kecerdasan finansial, maka setiap sen uang yang dibelanjakan mestinya berdasarkan suatu kebutuhan, dan sudah dianggarkan sebelumnya. Semuanya terencana, lalu dieksekusi dan kemudian bisa dievaluasi di mana penyimpangannya. Berapa besar penyimpangan tersebut dan selanjutnya mau memperbaiki perilaku keuangan yang dijalani. Jika Anda mampu mengelola keuangan Anda seperti itu, maka peluang Anda menuju merdeka secara finansial bukanlah hal mengada-ada.
Keempat, bagaimana mendayagunakan uang sehingga bisa menghasilkan uang. Kalau Anda sudah mampu berinvestasi dan kemudian hasil investasi itu sudah mampu membiayai kebutuhan rutin Anda, di mana investasi Anda bisa diperoleh secara berkelanjutan, maka Anda sudah masuk dalam kategori cerdas finansial dan tinggal selangkah lagi menuju merdeka secara finansial.
Lantas bagaimana wujud konkretnya? Sederhana saja. Hitung berapa biaya kebutuhan rutin Anda, lalu hitung berapa aset Anda. Setelah itu, alokasikan aset Anda ke dalam bentuk aset produktif yang bisa memberikan penghasilan. Dalam hal ini, Anda tidak perlu mencari keuntungan setinggi-tingginya, tetapi hasil yang langgeng. Dengan cara itu, berarti uang Anda sudah bekerja untuk Anda. Dan Anda akan tergolong dalam kalangan yang disebut sebagai merdeka finansial. Itulah makna kecerdasan finansial.
(Elvyn G Masassya, praktisi keuangan)
Sumber: Kompas Cetak
Kalangan seperti ini sudah tidak perlu lagi mengeluarkan tenaga dan pikiran untuk mencari uang, tetapi uangnya sudah bekerja untuk ”tuannya”, yakni kalangan yang sudah merdeka tersebut. Pertanyaannya, apakah Anda sudah merdeka secara finansial?
Menghasilkan secara produktif
Kecerdasan finansial secara ”best practice” paling tidak meliputi berbagai aspek. Pertama, bagaimana menghasilkan uang dengan cara yang produktif. Apa maksudnya? Kita semua yang bekerja pasti menghasilkan uang. Namun masalahnya, apakah cara kita memperoleh uang sudah produktif? Dalam arti sudah setara antara waktu, pikiran, dan tenaga yang tercurah dengan uang yang dihasilkan? Belum tentu.
Coba dengar keluhan di sekitar kita. Sebagian karyawan selalu berpikir untuk mendapatkan kenaikan gaji terus-menerus. Akibat memikirkan kenaikan gaji terus-menerus, kerja menjadi tidak konsentrasi. Atau lebih jauh lagi, output yang diberikan ke perusahaan menurun. Pada gilirannya kinerja perusahaan bisa menurun yang mungkin berdampak pada ketidakmampuan perusahaan untuk membayar gaji dengan baik.
Orang-orang yang cerdas secara finansial, harusnya memahami bahwa sumber pendapatannya diperoleh dari gaji dan bonus, jika yang bersangkutan seorang karyawan/wati. Maka untuk bisa mendapatkan gaji atau penghasilan secara lebih, mau tidak mau harus memberikan output yang lebih besar ke perusahaan sehingga kinerja perusahaan juga meningkat.
Dengan kata lain, agar bisa mendapatkan uang yang setara dengan waktu, tenaga, dan pikiran yang diberikan, lakukan kegiatan kerja secara efektif, yang memberi pengaruh terhadap peningkatan kinerja perusahaan. Itu berarti bekerja dengan kualitas tinggi, bukan sekadar banyaknya jam kerja atau kuantitas tinggi.
Melindungi uang
Kedua, bagaimana melindungi uang yang sudah diperoleh. Ada istilah ”easy come, easy go”. Uang yang diperoleh dengan mudah, akan mudah pula habisnya. Tetapi, lebih parah lagi, ada kalangan yang sudah susah payah untuk mendapatkan uang, namun di sisi lain sangat mudah menghabiskan atau membelanjakannya. Malah kemudian menjadi ”lebih besar pasak, daripada tiang”.
Lantas bagaimana melindungi uang yang sudah diperoleh, terlepas apakah diperoleh secara mudah atau sulit. Tidak banyak rumusan untuk melindungi uang, karena kata kuncinya ada pada perilaku si pemilik uang. Jika seseorang mampu mengontrol pengelolaan uangnya, maka otomatis uang itu sudah terlindungi. Itu prinsip dasarnya.
Tetapi, secara kecerdasan tentu saja ada juga cara-cara jitu untuk melindungi uang, dalam hal ini pengertiannya adalah melindungi nilai uang. Jika Anda saat ini memiliki uang Rp 100 juta, di mana uang segitu bisa Anda belikan sebidang tanah misalnya. Maka jika uang itu tetap Anda pegang dalam bentuk tunai, maka belum tentu di tahun depan Anda bisa membeli sebidang tanah yang saat ini harganya setara Rp 100 juta. Dengan kata lain, nilai uang Anda mengalami penurunan. Dus, untuk melindunginya dari penurunan nilai, maka uang itu mesti ditukarkan dengan benda lain yang malah nilainya bisa mengalami kenaikan.
Seperti contoh di atas, jika Anda membeli sebidang tanah seluas 100 meter dengan nilai Rp 100 juta, maka di tahun depan, ketika Anda butuh tunai, maka tanah tersebut bisa Anda jual kembali dan harganya bisa dipastikan lebih tinggi dari Rp 100 juta. Sebut saja, misalnya Rp 110 juta. Itu berarti nilai uang Rp 100 juta saat ini setara dengan Rp 110 juta di tahun depan. Simpulannya, hati-hati menyimpan uang secara tunai, karena nilainya akan berbeda setiap tahunnya. Atau dengan kata lain, Anda mesti melakukan lindung nilai terhadap uang yang telah Anda miliki.
Mengelola anggaran
Apakah setelah mampu memberi perlindungan terhadap nilai uang atau uang yang Anda peroleh, maka persoalan selesai? Jelas belum. Cek lagi apakah kegiatan keuangan Anda sudah mampu memenuhi kaidah yang ketiga, yakni, mengelola anggaran keuangan secara efektif. Apa maksudnya? Berapa banyak penghasilan Anda yang habis untuk membiayai perilaku konsumtif, misalnya. Lalu berapa besar dari penghasilan Anda yang bisa ditabung. Atau apakah pembiayaan konsumtif Anda berdasarkan perencanaan atau habis begitu saja, mengikuti naluri.
Untuk bisa digolongkan sebagai kalangan yang memiliki kecerdasan finansial, maka setiap sen uang yang dibelanjakan mestinya berdasarkan suatu kebutuhan, dan sudah dianggarkan sebelumnya. Semuanya terencana, lalu dieksekusi dan kemudian bisa dievaluasi di mana penyimpangannya. Berapa besar penyimpangan tersebut dan selanjutnya mau memperbaiki perilaku keuangan yang dijalani. Jika Anda mampu mengelola keuangan Anda seperti itu, maka peluang Anda menuju merdeka secara finansial bukanlah hal mengada-ada.
Keempat, bagaimana mendayagunakan uang sehingga bisa menghasilkan uang. Kalau Anda sudah mampu berinvestasi dan kemudian hasil investasi itu sudah mampu membiayai kebutuhan rutin Anda, di mana investasi Anda bisa diperoleh secara berkelanjutan, maka Anda sudah masuk dalam kategori cerdas finansial dan tinggal selangkah lagi menuju merdeka secara finansial.
Lantas bagaimana wujud konkretnya? Sederhana saja. Hitung berapa biaya kebutuhan rutin Anda, lalu hitung berapa aset Anda. Setelah itu, alokasikan aset Anda ke dalam bentuk aset produktif yang bisa memberikan penghasilan. Dalam hal ini, Anda tidak perlu mencari keuntungan setinggi-tingginya, tetapi hasil yang langgeng. Dengan cara itu, berarti uang Anda sudah bekerja untuk Anda. Dan Anda akan tergolong dalam kalangan yang disebut sebagai merdeka finansial. Itulah makna kecerdasan finansial.
(Elvyn G Masassya, praktisi keuangan)
Sumber: Kompas Cetak
4 Langkah Jalani Resolusi Finansial
Selain karier dan cinta, resolusi keuangan tak kalah pentingnya.
Menurut Fidelity Investment, 46 persen orang Amerika membuat resolusi
keuangan untuk 2013. Resolusi keuangan yang paling sering dibuat adalah
sedikit belanja dan lebih banyak menabung. Sementara 62 persen orang
mengaku tak mengubah resolusi keuangannya pada tahun lalu.
Jika Anda juga memiliki resolusi keuangan pada 2013 ini, berikut beberapa kiat dari Quicken Money Management dan Merrill Edge Advisory Center:
1. Atur budget belanja.
Kebiasaan belanja yang paling membahayakan kondisi finansial adalah menggesek kartu kredit. Anda akan terjebak dalam pengeluaran yang membengkak dan baru menyadarinya di akhir bulan saat waktunya membayar tagihan tiba. Dengan membuat budget belanja, Anda bisa mengontrol pengeluaran dan ke mana uang Anda dibelanjakan setiap bulannya. Sehingga Anda punya cukup uang untuk menabung.
2. Disiplin menabung.
Siapkan uang untuk menabung, entah untuk dana pensiun, uang muka membeli rumah atau keperluan lainnya. Bayar semua kewajiban di muka sesuai posnya termasuk pos tabungan, lalu gunakan sisanya untuk keperluan lainnya.
3. Diskusi rutin dengan pasangan.
Bagi pasangan menikah, atur pertemuan rutin bulanan untuk mendiskusikan keuangan. Langkah ini memang akan menjadi rutinitas yang kadang sulit dijalankan. Tapi Anda dan pasangan perlu duduk bersama, dalam pertemuan rutin bulanan untuk mendiskusikan keuangan agar pengeluaran tetap terkendali selain Anda dan pasangan selalu punya solusi bersama menghadapi setiap masalah keuangan yang muncul.
4. Miliki dana darurat.
Agar keuangan keluarga aman terkendali, siapkan dana darurat. Jumlah 3-6 kali dari pengeluaran bulanan Anda. Dana darurat untuk pasangan menikah biasanya lebih tinggi dibandingkan lajang. Sebaiknya gunakan sistem pembayaran otomatis di rekening bank Anda untuk menyiapkan dana darurat ini.
Sumber: TIME/KOMPAS.com
Jika Anda juga memiliki resolusi keuangan pada 2013 ini, berikut beberapa kiat dari Quicken Money Management dan Merrill Edge Advisory Center:
1. Atur budget belanja.
Kebiasaan belanja yang paling membahayakan kondisi finansial adalah menggesek kartu kredit. Anda akan terjebak dalam pengeluaran yang membengkak dan baru menyadarinya di akhir bulan saat waktunya membayar tagihan tiba. Dengan membuat budget belanja, Anda bisa mengontrol pengeluaran dan ke mana uang Anda dibelanjakan setiap bulannya. Sehingga Anda punya cukup uang untuk menabung.
2. Disiplin menabung.
Siapkan uang untuk menabung, entah untuk dana pensiun, uang muka membeli rumah atau keperluan lainnya. Bayar semua kewajiban di muka sesuai posnya termasuk pos tabungan, lalu gunakan sisanya untuk keperluan lainnya.
3. Diskusi rutin dengan pasangan.
Bagi pasangan menikah, atur pertemuan rutin bulanan untuk mendiskusikan keuangan. Langkah ini memang akan menjadi rutinitas yang kadang sulit dijalankan. Tapi Anda dan pasangan perlu duduk bersama, dalam pertemuan rutin bulanan untuk mendiskusikan keuangan agar pengeluaran tetap terkendali selain Anda dan pasangan selalu punya solusi bersama menghadapi setiap masalah keuangan yang muncul.
4. Miliki dana darurat.
Agar keuangan keluarga aman terkendali, siapkan dana darurat. Jumlah 3-6 kali dari pengeluaran bulanan Anda. Dana darurat untuk pasangan menikah biasanya lebih tinggi dibandingkan lajang. Sebaiknya gunakan sistem pembayaran otomatis di rekening bank Anda untuk menyiapkan dana darurat ini.
Sumber: TIME/KOMPAS.com
Langganan:
Postingan (Atom)