5 Januari 2014

Resolusi Tahun Baru

Setiap menjelang akhir tahun, banyak orang menunggu-nunggu tahun baru. Banyak juga yang mencoba membuat janji-janji dalam dirinya. Janji-janji untuk memperbaiki diri, untuk memperbaharui diri.

Apa Arti Resolusi?

Agar tidak membingungkan, langsung saja kita tuliskan apa arti resolusi. Pada pergantian tahun ke tahun yang baru, sering digunakan istilah untuk perbaikan dan pembaruan diri tadi dengan resolusi. Resolusi berarti ketetapan hati, atau kebulatan tekad untuk setia melaksanakan apa yang sudah disepakati seseorang dengan dirinya sendiri.

Apa Saja Resolusi yang Paling Umum?

Saya membaca di sebuah tabloid, bahwa bagi kebanyakan orang, ada beberapa hal yang biasanya menjadi ketetapan hati di tahun baru, yang paling biasa adalah:
- Menurunkan berat badan
- Berhenti merokok
- Menaati anggaran
- Menabung lebih disiplin atau menghasilkan uang lebih banyak
- Menemukan pekerjaan yang lebih baik
- Lebih tertib dan teratur
- Lebih rajin berolahraga
- Lebih sabar dengan orang lain
- Makan yang lebih baik
- Menjadi orang yang lebih baik

Lalu, apa makna tahun baru?

Saya jadi teringat akan ungkapan yang lucu tapi jitu:
"Banyak orang menanti tahun baru hanya untuk memulai kebiasaan-kebiasaan lama."
:-)
Ha....ha.... kita mungkin seperti tertusuk duri.

Lalu?

Sepertinya ungkapan dari G. K. Chesterton ini, bisa menjadi permenungan,
"Tujuan tahun baru bukan agar kita punya tahun yang baru.
Tujuan tahun baru adalah:
kita harus memiliki jiwa baru."
 
http://renungan-harian-kita.blogspot.com

What If Mary Had Said No?

A devotion to help consider the Virgin Mary's willingness to follow God's request and apply that commitment to your life.
By Tricia Goyer, Little Rock, Arkansas

Then Mary said, “Behold the maidservant of the Lord! Let it be to me according to your word.” And the angel departed from her. Luke 1:38 

Last week we put out the nativity set that is the centerpiece of my dining room. I had to pause as I was setting up beautiful Mary. It made me think,“What if she’d said no?”
But she didn’t, maybe that’s why God chose her.  Mary considered herself a maidservant, and she was willing to be put to use. Surrender, trust, and a willing heart to God’s desire are wonderful traits for a mother. Out of all the homes to be raised in, God looked down and desired Jesus to be raised by her. And we can see the same traits lived about by her son.

It made me stop to think about how willing I am to follow what God has asked me to do. Do I always respond like Mary? No. Are there things He’s asked me to do that I haven’t followed through with yet? Yes.
It also makes me think about what I’m modeling for my children. God chose a young girl with the mind of a maidservant to raise His only begotten Son. What big task could He have for me if I’m openhearted and willing?

Faith step: If you have a nativity set consider keeping it out all year and not just at Christmas. While we do want to focus on Jesus in the manger also think about some of the other people at the manger. What lessons can you learn from them?

http://www.guideposts.org/faith/daily-devotions/devotions-for-women/

Kurangi Memakai Gadget Saat Makan Bersama

Orang tua yang membiarkan anak remajanya memakai peralatan elektronik atau menonton televisi selama waktu makan bersama keluarga cenderung mengkonsumsi nutrisi makan lebih sedikit. Bahkan, punya komunikasi buruk dengan keluarga.

Hal ini diungkapkan dalam penelitian terbaru. Dulu para ahli menyarankan agar mematikan televisi selama waktu makan keluarga berlangsung. Namun, dengan perkembangan telepon seluler dan peralatan elektronik lain dalam genggaman, anak-anak masa kini membawa semua gadget itu ke meja makan.

Temuan-temuan dari hasil riset terbaru menunjukkan bahwa menggunakan media (elektronik) saat waktu makan sangat umum di antara keluarga-keluarga yang punya remaja. Namun, "Aturan penggunaan media bisa menurunkan penggunaan media di kalangan remaja dan mempunyai efek positif lainnya," ujar penulis hasil riset Jayne A Fulkerson seperti dikutip Reuters edisi 2 Januari 2014.

Fulkerson adalah direktur dari Center for Child and Family Health Promotion Research di University of Minnesota School of Nursing di Minneapolis. "Orang tua bisa menghentikan penggunaan media selama makan bersama sehingga punya waktu yang lebih berkualitas dengan anak-anak mereka," ujar dia.

Fulkerson dan rekan-rekannya mewawancarai lebih dari 1.800 orang tua mengenai seberapa sering mereka mengizinkan anak-anak remaja mereka untuk menonton televisi, berbicara di telepon, mengirimkan SMS, bermain games atau mendengarkan musik dengan headphones selama waktu makan bersama keluarga.

Penelitian menanyakan para orang tua apakah mereka membuat aturan dalam penggunaaan media elektronik. Penelitian juga menyoal apakah mereka merasa waktu makan bersama keluarga adalah hal yang penting. Anak-anak menjawab pertanyaan mengenai seberapa bagus komunikasi keluarga mereka, termasuk berapa sering mereka berbicara mengenai masalah mereka dengan orang tua.

Hasilnya, dua pertiga orang tua melaporkan bahwa anak-anak remaja mereka menonton televisi atau film selama waktu makan bersama keluarga. Sementara seperempatnya mengatakan bahwa menonton televisi merupakan hal yang rutin dilakukan.


Namun, berkirim SMS, berbicara di telepon, mendengarkan musik dengan headphones dan menggunakan games di tangan lebih jarang dilakukan saat makan bersama. Sebanyak 18-28 persen orang tua melaporkan aktivitas tersebut terjadi saat waktu makan, demikian diungkapkan Journal of Academy of Nutrition and Dietetics.

Hampir tiga perempat dari orang tua mengatakan bahwa mereka mengatur waktu penggunaan media saat makan bersama. Hasil riset itu juga mengungkapkan bahwa anak perempuan lebih cenderung menggunakan media elektronik ketimbang anak lelaki. Selain itu, penggunaan gadget meningkat seiring bertambahnya usia.

Pada keluarga yang kurang berpendidikan, penggunaan media elektronik juga lebih tinggi. Selain itu, waktu makan bersama dengan penggunaan media elektronik lebih sedikit pada keluarga yang orang tuanya memberikan beberapa aturan. Sebaliknya, penggunaan media elektronik lebih banyak pada keluarga yang tidak terlalu banyak berkomunikasi.

Riset ini juga menunjukkan bahwa orang tua yang melaporkan penggunaan media elektronik lebih sering dilakukan saat makan bersama ternyata lebih jarang menyajikan salad hijau, buah-buahan, sayuran, 100 persen jus dan susu selama waktu makan. Mereka lebih sering menyajikan minuman berpemanis. Namun, para ilmuwan tidak bertanya apakah para orang tua juga menggunakan media elektronik saat waktu makan bersama.


http://www.tempo.co

Penyebab Balita Suka Menggigit Saat Marah dan Cara Mengatasinya

Apakah balita Anda mulai menunjukkan emosinya dengan cara menggigit saat marah? Jika iya, Anda pun bertanya-tanya, kenapa si kecil menggigit ketika marah padahal Anda tidak pernah mengajari hal tersebut.

Menurut therapist anak Jennifer Kolari, bagi orangtua kebiasaan menggigit itu tentu menakutkan. Namun sebenarnya, kebiasaan itu relatif normal. "Bukan berarti anak akan tumbuh menjadi orang yang punya masalah pada tingkah lakunya," ujar Kolari yang juga pembuat situs Connected Parenting itu.

Anak-anak yang beranjak dua tahun, biasanya memang akan mulai menggigit jika mereka merasa emosi. Balita menggigit saat frustasi dan tidak tahu bagaimana caranya menenangkan diri mereka sendiri. "Mereka akan menggigit siapapun yang ada didekatnya, entah itu temannya atau orangtuanya," jelas Psikolog Anak Carolyn Humphery.

Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk menangani anak yang suka menggigit? Cara terbaik adalah dengan menjauhkannya dari orang yang ia gigit.

"Ketika anak menggigit, angkat atau gendong dia. Dengan tenang, katakan padanya, "Jangan lakukan itu". Lalu dudukkan anak dan biarkan dia sendiri selama 1-2 menit," tutur Kolari.

Dengan cara itu, anak akan paham setiap dia menggigit, dia akan dijauhkan dari sesuatu yang sebenarnya dia sukai. Sebaiknya, jangan pernah menggigit balik anak hanya karena ingin memberitahukan padanya bagaimana rasanya digigit.

"Cara itu malah tidak memberinya pelajaran apapun dan dia akan berpikir menggigit itu boleh," tambah Humphrey.

Untuk mencegah agar anak tidak menggigit, jika Anda melihat dia mulai akan melakukannya, cobalah menghentikannya. Ajarkan pada anak, untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan saat marah.

Langkah lainnya adalah dengan mengobrol padanya topik soal 'menggigit' ini. Misalnya saja dengan mengatakan, "Kita harus mengusir nyamuk nakal ini nih, karena dia suka menggigit". Obrolan tersebut membantu anak mengatasi kebiasaan buruknya itu tanpa merasa dipermalukan.

Ajari juga anak untuk minta maaf pada orang yang telah digigitnya. Jangan lupa juga untuk memberinya penghargaan atau memujinya jika anak sudah menghentikan kebiasaannya menggigit.

http://wolipop.detik.com

Hati-hati! Memuji Anak Justru Bisa Berdampak Buruk, Ini Sebabnya

Orangtua kerap memberikan pujian untuk menyenangkan atau meningkatkan kepercayaan diri anak. Tapi menurut studi terbaru, memuji yang terlalu berlebihan justru bisa jadi bumerang.

Penelitian yang dilakukan sejumlah universitas di Inggris, Belanda dan Amerika Serikat menemukan bahwa memuji anak yang pemalu atau kepercayaan dirinya rendah justru bisa membuat mereka lebih tertekan. Akibatnya anak jadi merasa harus tampil lebih baik dan akhirnya justru menghindari tantangan yang membuatnya sulit berkembang.

Studi dilakukan pada 240 anak laki-laki dan perempuan berusia delapan hingga 12 tahun. Mereka diberikan 12 pertanyaan untuk menilai tingkat kepercayaan diri. Setelah itu, responden diminta meniru sebuah gambar.

Sebelumnya, kelompok anak yang pemalu dan tidak percaya diri 'dihujani' dengan pujian. Sementara anak yang dianggap punya percaya diri tinggi tetap diberi pujian, namun dalam skala biasa.

Kemudian mereka diminta meniru berbagai gambar dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Mulai dari mudah, sedang hingga sangat sulit. Ternyata, kelompok anak pemalu dan tidak percaya diri yang dipuji secara berlebihan cenderung lebih memilih gambar yang mudah untuk ditiru dibandingkan anak yang percaya diri.

Sedangkan pada anak yang percaya diri, mereka memilih gambar dengan tingkat kesulitan tinggi padahal hanya mendapat sedikit pujian. Hasil studi ini menunjukkan bahwa pujian tidak selalu efektif diterapkan pada setiap anak untuk mengembangkan kemampuannya.

"Jika Anda mengatakan pada anak yang percaya dirinya rendah bahwa mereka telah melakukan sesuatu dengan sangat bagus, maka mereka akan berpikir untuk selalu mengerjakan segala sesuatu sebaik mungkin dan harus membuat orang lain kagum," jelas Eddie Brummelman, salah satu peneliti, seperti dikutip dari Daily Mail.

Hal itu menyebabkan anak tidak berani mengambil tugas atau belajar sesuatu yang di atas standar dan lebih memilih mengerjakan yang mudah. Akibatnya, mereka enggan menerima tantangan baru. Padahal, tantangan diperlukan agar kemampuan kognitif, emosional maupun teknis semakin berkembang.

http://wolipop.detik.com

12 Desember 2013

Makan Berantakan Tingkatkan Kemampuan Belajar Anak

Untuk anak balita, waktu makan tampaknya menjadi waktu bermain. Rasanya baru 5 menit Anda menempatkannya di kursi tinggi dan memberikan sepiring makanan. Lalu,  dalam sekejap makanannya sudah berpindah ke wajah, meja, dan bajunya. Si kecil pun tampak seperti lukisan abstrak!

Ini memang mengesalkan dan menguji kesabaran, apalagi saat ia tak sengaja melemparkan makanan ke wajah Anda. Jangan dulu marah atau langsung menyuapinya agar si kecil cepat menghabiskan makanan dan meja tidak kotor.

Menurut sebuah studi yang dilakukan di University of Iowa, semakin sering anak Anda melakukan hal ini (makan berantakan), semakin banyak ia belajar.

Penelitian ini dilakukan terhadap 74 balita berusia 16 bulan. Mereka diharuskan mengonsumsi 14 makanan non-padat, seperti saus apel, puding, jus, dan sup. Beberapa anak didudukkan di sebuah kursi tinggi dan beberapa balita lainnya tidak. Balita-balita ini kemudian dikenalkan dengan kata-kata seperti "dax" dan "kiv". Semenit kemudian, balita diminta mengindentifikasi makanan yang sama dalam berbagai ukuran dan bentuk.

Penelitian ini membuktikan bahwa anak yang berani kotor, sering duduk di kursi tinggi (baby chair), dan belajar makan sendiri meski berantakan akan belajar lebih banyak kata-kata dibanding yang tidak. Mereka disinyalir juga menjadi anak yang lebih cepat belajar dalam jangka panjang.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Developmental Science menyimpulkan, balita yang bermain dengan makanan mereka, terutama yang lengket, lembek, dan sedikit cair, akan lebih pintar.

Para peneliti menemukan bahwa balita yang sering makan berantakan akan mempelajari makanan melalui semua indera mereka, seperti peraba, pengecap, perasa, dan sensorik (untuk melempar). Balita ini tidak hanya mengandalkan pada bentuk dan ukuran makanan yang dilihat saja, tetapi juga mengidentifikasi makanan lewat teksturnya.

Duduk di kursi tinggi ternyata juga membuat perbedaan. Pengaturan ketinggian ini akan membuat mereka bisa melihat banyak perbedaan. "Di sini, saat makan mereka bisa melihat banyak hal, selain makanan non-padat mereka," ungkap Larissa Samuelson, salah satu peneliti.

Duduk di kursi tinggi juga membuat mereka lebih aktif dalam belajar. "Mungkin ini terlihat seperti permainan. Anak duduk di kursi tinggi kemudian makan berantakan dan melemparkan makanan. Namun, sisi baiknya, mereka mendapatkan banyak informasi dari tindakan mereka ini," tambahnya.

Meski begitu, tak berarti Anda boleh membiarkan mereka melemparkan makanan sesukanya. Yang harus Anda lakukan adalah mengajarinya untuk memasukkan makanan dengan tepat ke dalam mulut. Anda juga dapat mempersiapkan celemek makan, melapisi meja dengan plastik dan serbet agar cipratan makanannya tak terlalu mengotori tempat lainnya.

http://female.kompas.com

6 Desember 2013

Belajar Menerima Kehilangan Buah Hati dari Film Gravity

Mungkin Anda sudah menonton film Gravity yang dibintangi oleh Sandra Bullock. Meski film yang menceritakan tentang usaha seorang astronot untuk bertahan di luar angkasa ini ber-genre thriller, tetapi sebagai orangtua kita juga bisa mendapat inspirasi tentang belajar menerima kehilangan.

Dalam cerita tersebut, Ryan Stone (diperankan Bullock) adalah seorang astronot wanita yang masih belum menerima kematian putrinya. Kisah kematian putrinya sangat datar, hanya dijelaskan dalam beberapa kalimat singkat.

Tetapi dari kalimat-kalimat singkat itu kita bisa ikut merasakan perasaan kehilangan yang amat dalam. Terombang-ambing sendirian di luar angkasa, tentu tak ada alasan bagi Stone untuk kembali ke bumi karena tak ada orang di bumi yang menunggunya. Ketika merasa tak punya apa-apa di dunia, untuk apa lagi kita hidup?

Tentu kita sudah sering mendengar, atau mungkin Anda sendiri pernah mengucapkan, "Saya tak akan bisa bertahan jika anakku meninggal".

Setiap orangtua tentu memiliki perasaan sangat mencintai anak mereka lebih daripada dirinya sendiri. Jika buah hati kita dikuburkan, maka rasanya tak ada pilihan lain bagi kita selain ikut bersamanya ke alam baka.

Dalam film Gravity, meski ini adalah film science, tetapi bisa menjadi metafora yang baik mengenai kehidupan setelah kehilangan orang yang paling kita cintai.

Bagaimana orangtua yang pernah kehilangan anaknya harus membuat pilihan untuk hidup ketika satu-satunya alasan untuk bertahan hidup sudah tak ada lagi.

Saat menonton film tersebut, kita bisa melihat karakter Stone juga merasa semua harapannya sudah hilang dan ia bersiap-siap untuk menyerah dan mati. Ia tak mau berjuang untuk kembali ke bumi. Tapi kemudian, ia seperti semua orangtua pemberani lainnya, yang mengenang buah hati mereka dan memilih untuk hidup. Demi buah hati dan untuk diri sendiri.

Ketika akhirnya Stone mendarat kembali ke bumi, dan ia harus belajar berjalan kembali. Dengan hati-hati ia berdiri dan melangkah di tempat yang belum dikenalnya. Orangtua yang pernah melewati duka akibat kehilangan buah hatinya tentu juga pernah merasakan beratnya harus melangkah. Tetapi ketika langkah tersebut sudah dilakukan, semangat hidup akan kembali lagi.

http://female.kompas.com