Janji itu harus ditepati, tak terkecuali pada anak. Sebagai orangtua,
terkadang Anda membuat janji kepada anak hanya untuk membuat mereka
tidak rewel. Parahnya, janji orangtua ke anak ini seringkali tidak bisa
Anda lakukan sendiri.
Penulis dan pendidik anak usia dini,
Sylvia Rouss mengungkapkan, "Orangtua menggunakan janji-janji untuk
berbagai alasan, misalnya menyuap anak agar melakukan apa yang mereka
inginkan. Untuk menghindari kemungkinan konfrontasi dengan anak,
menghindarkan anak-anak dari kekecewaan, dan menimbulkan harapan bagi
anaknya," paparnya.
Sayangnya, setiap kali Anda membuat dan
melanggar janji sendiri kepada anak, maka kepercayaan anak juga akan
rusak. Berikut beberapa janji manis yang tidak seharusnya dijanjikan
orangtua pada anaknya.
1. "Ini tidak akan sakit, Ibu janji"
Kekuatan
menahan rasa sakit itu berbeda-beda setiap orang. Mungkin itu tak sakit
untuk Anda, tapi belum tentu buat anak. Meski maksud dari kata-kata
ini untuk membuat anak jadi tak takut dan yakin bahwa ini memang tidak
menyakitkan, tapi kenyataannya berbeda, anak pasti tidak percaya lagi
pada Anda.
Misalnya, saat Anda akan memberi obat di luka anak.
Mereka akan takut karena rasanya akan perih. Alih-alih mengatakan bahwa
proses ini tak sakit, Rouss menyarankan untuk mengungkapkan kata-kata
seperti, "Ini mungkin akan sedikit menyakitkan, tapi cuma sebentar kok."
2. "Ibu/Ayah janji akan sampai di rumah sebelum kamu tidur"
Terkadang
tumpukan pekerjaan tak bisa diatasi dengan cepat, akibatnya Anda harus
lembur. Padahal anak sedang menunggu kehadiran Anda di rumah. Tak tega
mengecewakannya, Anda pun membuat janji bahwa Anda akan sampai rumah
sebelum dia pergi tidur. Nyatanya semua hanya tinggal janji. Sampai di
rumah, anak sudah tidur dan mungkin saja sampai menangis.
"Jika
Anda tak sengaja melanggar janji ke anak, maka berusahalah untuk simpati
pada mereka, dan katakan "Ibu/ayah tahu kamu kecewa, maafkan ibu/ayah
yah," saran Psikolog Klinis sekaligus penulis enam buku parenting,
Anthony E. Wolf.
3. "Mainnya tidak sekarang ya, janji deh kapan-kapan main"
Percayalah,
sekalipun masih kecil mereka pasti bisa mengingat semua, apalagi kalau
urusan mainan. Kalau tidak ditepati mereka pasti menagihnya. Daripada
memberi janji kapan-kapan, jujur saja pada mereka tentang alasan mengapa
tak bisa main sekarang ini. Anda juga bisa membuat janji lagi dengan
ibu dari teman-temannya agar anak bisa bermain bersama lagi.
"Jangan
memberinya waktu kapan-kapan dan jangan juga memberinya kesan bahwa
'tidak semua hal yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan'. Ini hanya akan
membuat anak Anda lebih marah," papar Wolf.
4."Kalau kamu bereskan mainan, ibu janji belikan es krim"
Melanggar
janji ini tak cuma akan membuat anak jadi tak percaya Anda, tapi juga
mengajarkannya untuk selalu mendapat imbalan setelah melakukan sesuatu.
Hal seperti ini tidak akan membuat mereka punya motivasi pribadi untuk
melakukan hal positif.
Sebenarnya Anda bisa mengatakan,"Kamu
harus membereskan mainan itu, kalau tidak kamu atau orang lain bisa
tersandung dan jatuh." Dengan ini, anak akan tahu pentingnya membereskan
mainannya.
5. "Ibu janji kita akan pergi ke Disneyland (atau hal besar lainnya) saat ulang tahunmu tahun depan"
Terkadang
anak ingin kado yang besar saat ulangtahunnya. Namun, tentu tidak
setiap saat Anda bisa memenuhi keinginannya. Namun jangan berjanji
sesuatu yang besar sebagai kado jika Anda belum tentu bisa menepatinya.
Buatlah janji memberi kado yang lebih realistis.
http://female.kompas.com
3 Februari 2014
29 Januari 2014
Menjadi Wanita Paling Bahagia dengan Cara yang Sederhana
Mengejar dunia tidak akan pernah ada habisnya, selalu ada tantangan
dan ambisi baru yang “menghantui” diri Anda, untuk terus dikejar dan
diwujudkan, demi merasakan bahagia. Mungkin saja Anda sadari bahwa
sebenarnya pencarian kebahagiaan ini malah membuat Anda stres, namun
Anda menghiraukannya, tentu saja, Anda terlalu sibuk untuk
memikirkannya!
Tidak selamanya tas dan sepatu keluaran terbaru bernilai mahal dapat mempertahankan rasa bahagia, segala yang dapat dibeli uang, biasanya hanya membuat Anda tersenyum untuk sementara waktu saja. Sebaliknya, banyak hal-hal sederhana yang sering terlewatkan di sekitar kita yang memiliki potensi untuk mendatangkan kebahagiaan. Beberapa di antaranya seperti berikut;
Memiliki saudara perempuan
Mereka yang punya kakak atau adik perempuan, umumnya tinggal dalam lingkungan yang suportif, bersikap optimis, serta dapat mengatasi masalah dengan lebih tenang dan efektif. Hal ini terungkap dari hasil riset yang dilakukan oleh The British Psychological Society.
Banyak senyum
Perempuan dewasa yang semasa kuliah dikenal murah senyum, ternyata kehidupan pernikahannya lebih awet ketimbang mereka yang selalu menampilkan wajah judes dan tidak bersahabat. Dari riset yang diumumkan DePau University diketahui, peluang kelompok perempuan yang ceria dan murah senyum untuk bercerai adalah lima kali lebih rendah dibanding kelompok kedua. Para ahli menyimpulkan, orang yang murah senyum punya pikiran yang lebih positif dan dapat ditularkan kepada pasangannya.
Jarang nonton televisi
Menurut survei, orang-orang yang ceria hanya menghabiskan kurang dari 30 persen waktunya untuk menonton televisi. Mereka lebih suka bersosialisasi, membaca buku atau ikut kegiatan keagamaan. Berbagai jenis kegiatan ini dianggap lebih mendatangkan efek positif bagi mood dan umumnya seiring usia memiliki kondisi tubuh yang tetap prima.
http://female.kompas.com
Tidak selamanya tas dan sepatu keluaran terbaru bernilai mahal dapat mempertahankan rasa bahagia, segala yang dapat dibeli uang, biasanya hanya membuat Anda tersenyum untuk sementara waktu saja. Sebaliknya, banyak hal-hal sederhana yang sering terlewatkan di sekitar kita yang memiliki potensi untuk mendatangkan kebahagiaan. Beberapa di antaranya seperti berikut;
Memiliki saudara perempuan
Mereka yang punya kakak atau adik perempuan, umumnya tinggal dalam lingkungan yang suportif, bersikap optimis, serta dapat mengatasi masalah dengan lebih tenang dan efektif. Hal ini terungkap dari hasil riset yang dilakukan oleh The British Psychological Society.
Banyak senyum
Perempuan dewasa yang semasa kuliah dikenal murah senyum, ternyata kehidupan pernikahannya lebih awet ketimbang mereka yang selalu menampilkan wajah judes dan tidak bersahabat. Dari riset yang diumumkan DePau University diketahui, peluang kelompok perempuan yang ceria dan murah senyum untuk bercerai adalah lima kali lebih rendah dibanding kelompok kedua. Para ahli menyimpulkan, orang yang murah senyum punya pikiran yang lebih positif dan dapat ditularkan kepada pasangannya.
Jarang nonton televisi
Menurut survei, orang-orang yang ceria hanya menghabiskan kurang dari 30 persen waktunya untuk menonton televisi. Mereka lebih suka bersosialisasi, membaca buku atau ikut kegiatan keagamaan. Berbagai jenis kegiatan ini dianggap lebih mendatangkan efek positif bagi mood dan umumnya seiring usia memiliki kondisi tubuh yang tetap prima.
http://female.kompas.com
25 Januari 2014
24 Januari 2014
Kiat Menjadi Ibu yang Sempurna
Menjadi orangtua adalah pekerjaan yang paling
penting dan berharga di dunia ini, kehidupan anak Anda tergantung pada
didikan Anda. Karenanya, banyak orangtua terutama Ibu yang berusaha
untuk menjadi orangtua sempurna bagi anaknya.
Menurut penelitian di India mengatakan bahwa
kehidupan dan pribadi setiap anak itu unik dan tidak ada buku khusus
yang mampu menguraikan jawaban yang tepat untuk setiap pertanyaan dari
anak selain Anda sendiri sebagai orangtuanya.
Andalah yang berkomunikasi dengan anak sehari-hari,
kecuali jika Anda menitipkannya kepada pengasuh maka Anda tidak akan
bisa beradaptasi dan mengerti kebutuhan anak sebenarnya.
Pastikan untuk mengikuti naluri Anda sebagai ibu,
karena Anda harus menjadi orang yang paling mengenal anak Anda daripada
orang lain. Jika Anda tidak mengasuhnya sendiri, maka jangan harap Anda
dapat mengetahui perkembangan sang buah hati secara langsung dengan
baik.
Menjadi ibu yang sempurna memang mengharuskan Anda
berkorban dan merelakan semua kepentingan pribadi Anda guna melihat
tumbuh kembang si kecil. Karena lewat pengasuhan dari Anda sendiri, bisa
memperkaya kehidupan buah hati dan lebih mengetahui apa yang
dibutuhkannya sesuai perkembangan si anak.
Dari situ juga, Anda dapat belajar dan mengetahui
kesalahan dan kebaikan yang harus dilakukan oleh orangtua untuk mendidik
anak mereka menjadi pribadi yang baik.
Sikapi pola asuh ini seperti sebuah pekerjaan,
menjadi orangtua bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, melainkan
kewajiban harus Anda lakukan setiap hari dan harus memberikan yang
terbaik agar mendapatkan hasil yang terbaik lewat pertumbuhan anak Anda
kelak.
http://female.kompas.com
22 Januari 2014
Bahagia, Kunci Sehat dan Awet Muda
Tubuh yang sehat dapat membuat setiap orang merasa bahagia, tetapi
hal tersebut ternyata juga berlaku sebaliknya. Menurut sebuah studi
baru, bahagia juga merupakan kunci kesehatan yang lebih baik.
Para peneliti menemukan, orang yang menikmati hidup mereka cenderung untuk lebih dapat menjaga fungsi fisik mereka dengan lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak. Ini artinya, bisa dikatakan orang yang bahagia akan lebih awet muda.
Studi tersebut melibatkan lebih dari 3.000 orang di atas usia 60 tahun atau lebih tua di Inggris, dan mengikuti mereka selama delapan tahun. Para peneliti kemudian menanyakan peserta tentang kemampuan mereka menikmati hidup dengan memberikan penilaian terhadap kalimat-kalimat seperti, "Aku menikmati hal yang aku kerjakan" atau "Aku menikmati berada di dekat orang lain".
Dengan teknik wawancara langsung, para peneliti juga menentukan apakah peserta mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari, seperti bangun dari tempat tidur, memakai pakaian, atau mandi. Mereka juga melakukan tes kecepatan berjalan para peserta.
Hasil menunjukkan, peserta yang lebih bahagia cenderung dapat melakukan fungsi fisik dengan lebih baik pada usia tua. Bahkan hubungan tersebut tetap ada meski sudah disertakan faktor lain, seperti penuaan, gaya hidup, dan kondisi ekonomi.
Studi yang dipublikasi dalam Canadian Medical Association Journal tersebut menunjukkan, orang yang mengaku paling tidak bahagia dalam studi ini lebih dari 80 persen mungkin untuk mengalami penurunan fungsi fisiknya dibandingkan dengan orang yang bahagia. Begitu pula dengan kecepatan berjalan mereka.
"Seperti yang diduga, kesehatan yang buruk juga berhubungan dengan penurunan kadar kebahagiaan. Orang dengan penyakit kronik seperti penyakit jantung, diabetes, arthritis, stroke, dan depresi melaporkan kurang menikmati hidup mereka," ujar Andrew Steptoe, peneliti studi sekaligus Direktur Institut Epidemiologi dan Pelayanan Kesehatan di University College London.
Sebelumnya, lanjut dia, para peneliti telah menunjukkan, orang lanjut usia yang lebih menikmati hidup cenderung untuk hidup lebih lama rata-rata selama delapan tahun. "Studi ini menunjukkan, mereka juga ternyata lebih mampu mempertahankan kemampuan fisiknya," cetus Steptoe.
http://health.kompas.com
Para peneliti menemukan, orang yang menikmati hidup mereka cenderung untuk lebih dapat menjaga fungsi fisik mereka dengan lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak. Ini artinya, bisa dikatakan orang yang bahagia akan lebih awet muda.
Studi tersebut melibatkan lebih dari 3.000 orang di atas usia 60 tahun atau lebih tua di Inggris, dan mengikuti mereka selama delapan tahun. Para peneliti kemudian menanyakan peserta tentang kemampuan mereka menikmati hidup dengan memberikan penilaian terhadap kalimat-kalimat seperti, "Aku menikmati hal yang aku kerjakan" atau "Aku menikmati berada di dekat orang lain".
Dengan teknik wawancara langsung, para peneliti juga menentukan apakah peserta mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari, seperti bangun dari tempat tidur, memakai pakaian, atau mandi. Mereka juga melakukan tes kecepatan berjalan para peserta.
Hasil menunjukkan, peserta yang lebih bahagia cenderung dapat melakukan fungsi fisik dengan lebih baik pada usia tua. Bahkan hubungan tersebut tetap ada meski sudah disertakan faktor lain, seperti penuaan, gaya hidup, dan kondisi ekonomi.
Studi yang dipublikasi dalam Canadian Medical Association Journal tersebut menunjukkan, orang yang mengaku paling tidak bahagia dalam studi ini lebih dari 80 persen mungkin untuk mengalami penurunan fungsi fisiknya dibandingkan dengan orang yang bahagia. Begitu pula dengan kecepatan berjalan mereka.
"Seperti yang diduga, kesehatan yang buruk juga berhubungan dengan penurunan kadar kebahagiaan. Orang dengan penyakit kronik seperti penyakit jantung, diabetes, arthritis, stroke, dan depresi melaporkan kurang menikmati hidup mereka," ujar Andrew Steptoe, peneliti studi sekaligus Direktur Institut Epidemiologi dan Pelayanan Kesehatan di University College London.
Sebelumnya, lanjut dia, para peneliti telah menunjukkan, orang lanjut usia yang lebih menikmati hidup cenderung untuk hidup lebih lama rata-rata selama delapan tahun. "Studi ini menunjukkan, mereka juga ternyata lebih mampu mempertahankan kemampuan fisiknya," cetus Steptoe.
http://health.kompas.com
Pengaruh Hormon dalam Pernikahan yang Bahagia
Setiap pasangan tentu berharap pernikahan mereka langgeng dan bahagia.
Karena percuma bertahan lama tetapi sudah tidak ada lagi rasa cinta.
Nah, ternyata rahasia mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan adalah
produksi hormon.
Sebuah penelitian menunjukkan, hormon oksitosin berperan besar dalam hal menguatkan perasaan suami istri. Hormon tersebut diproduksi di otak dan memiliki banyak fungsi, antara lain dibutuhkan saat persalinan dan menyusui bayi. Namun hormon ini juga dilepaskan tubuh saat seorang wanita mencapai orgasme.
Hormon oksitosin juga sering disebut sebagai "hormon bermanja-manja". Ketika tubuh dibanjiri hormon ini, terutama saat kita sedang jatuh cinta, yang kita inginkan adalah berpelukan dan bermanja dengan pasangan.
Menurut studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Bonn University Medical Centre, Jerman, hormon oksitosin juga berpengaruh dalam hubungan perkawinan yang langgeng.
Studi tersebut dilakukan terhadap 40 pria heteroseksual yang memiliki hubungan cukup awet. Setiap orang diberikan sejumlah dosis oksitosin di hidung kemudian diperlihatkan dua foto, pertama adalah foto istri mereka dan foto lain yang merupakan wanita yang belum pernah dikenal.
Sambil melihat foto tersebut, otak mereka dipindai untuk mengetahui apa yang terjadi di otak. Hasilnya, area otak yang berkaitan dengan perasaan ganjaran (reward) lebih aktif saat mereka diberikan semprotan hormon.
Area otak yang berkaitan dengan reward yang aktif tersebut bisa membuat kita merasa bahagia dan rasanya sangat melenakan. Tak heran jika pasangan yang area otak ini terus aktif akan merasa bahagia dalam pernikahannya.
"Saat mereka mendapat oksitosin, mereka akan melihat pasangan mereka lebih menarik dibanding wanita lain," kata Dr.Dirk Scheele, peneliti.
Pada percobaan kedua, para pria diberi semprotan hormon lagi tetapi foto yang ditunjukkan adalah wanita yang mereka kenal atau teman kerja. Tujuan dari percobaan ini untuk mengetahui apakah oksitosin juga mengaktifkan otak.
Ternyata, efek oksitosin hanya ditemui jika para pria tersebut melihat foto orang yang mereka cintai. "Ternyata hanya mengenal wanita yang difoto tersebut tidak cukup untuk menghasilkan efek bonding. Mereka harus merasa mencintai," kata Scheele.
Hal ini juga bisa menjelaskan mengapa seseorang bisa merasa depresi atau rasa sedih berkepanjangan jika terpisah dari pasangannya. Kekurangan oksitosin akan membuat bagian otak yang mengatur ganjaran menjadi kurang terstimulasi.
Namun, tentu saja oksitosin hanyalah satu faktor dalam kebahagiaan pernikahan. Yang tak kalah penting adalah terus belajar memahami pasangan sehingga ikatan perkawinan semakin kuat.
http://female.kompas.com
Sebuah penelitian menunjukkan, hormon oksitosin berperan besar dalam hal menguatkan perasaan suami istri. Hormon tersebut diproduksi di otak dan memiliki banyak fungsi, antara lain dibutuhkan saat persalinan dan menyusui bayi. Namun hormon ini juga dilepaskan tubuh saat seorang wanita mencapai orgasme.
Hormon oksitosin juga sering disebut sebagai "hormon bermanja-manja". Ketika tubuh dibanjiri hormon ini, terutama saat kita sedang jatuh cinta, yang kita inginkan adalah berpelukan dan bermanja dengan pasangan.
Menurut studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Bonn University Medical Centre, Jerman, hormon oksitosin juga berpengaruh dalam hubungan perkawinan yang langgeng.
Studi tersebut dilakukan terhadap 40 pria heteroseksual yang memiliki hubungan cukup awet. Setiap orang diberikan sejumlah dosis oksitosin di hidung kemudian diperlihatkan dua foto, pertama adalah foto istri mereka dan foto lain yang merupakan wanita yang belum pernah dikenal.
Sambil melihat foto tersebut, otak mereka dipindai untuk mengetahui apa yang terjadi di otak. Hasilnya, area otak yang berkaitan dengan perasaan ganjaran (reward) lebih aktif saat mereka diberikan semprotan hormon.
Area otak yang berkaitan dengan reward yang aktif tersebut bisa membuat kita merasa bahagia dan rasanya sangat melenakan. Tak heran jika pasangan yang area otak ini terus aktif akan merasa bahagia dalam pernikahannya.
"Saat mereka mendapat oksitosin, mereka akan melihat pasangan mereka lebih menarik dibanding wanita lain," kata Dr.Dirk Scheele, peneliti.
Pada percobaan kedua, para pria diberi semprotan hormon lagi tetapi foto yang ditunjukkan adalah wanita yang mereka kenal atau teman kerja. Tujuan dari percobaan ini untuk mengetahui apakah oksitosin juga mengaktifkan otak.
Ternyata, efek oksitosin hanya ditemui jika para pria tersebut melihat foto orang yang mereka cintai. "Ternyata hanya mengenal wanita yang difoto tersebut tidak cukup untuk menghasilkan efek bonding. Mereka harus merasa mencintai," kata Scheele.
Hal ini juga bisa menjelaskan mengapa seseorang bisa merasa depresi atau rasa sedih berkepanjangan jika terpisah dari pasangannya. Kekurangan oksitosin akan membuat bagian otak yang mengatur ganjaran menjadi kurang terstimulasi.
Namun, tentu saja oksitosin hanyalah satu faktor dalam kebahagiaan pernikahan. Yang tak kalah penting adalah terus belajar memahami pasangan sehingga ikatan perkawinan semakin kuat.
http://female.kompas.com
8 Januari 2014
Sediakan Waktu 10 Menit demi Kecerdasan Anak
Salah satu fase paling membahagiakan bagi orangtua ialah ketika
sang buah hati mulai masuk sekolah. Pada fase ini, orangtua harus
menyikapinya dengan hati-hati.
Meskipun baru pada tahapan pertama sekolah, bukan berarti ia tidak dibebani dengan pekerjaan rumah. Justru sebaliknya, di sinilah tugas Anda untuk mendampingi anak agar tidak berat menjalaninya.
Amy Murray, Kepala Sekolah Early Childhood Education, mengatakan, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa pada tahun sekolah dasar, satu-satunya pekerjaan rumah yang membawa manfaat bagi anak-anak adalah membaca secara rutin di rumah.
"Anak-anak bekerja keras sepanjang hari di sekolah. Nah, saat di rumah, mereka harus memiliki waktu untuk bersantai dan berkomunikasi kembali dengan keluarga mereka. Tumpukan pekerjaan rumah atau tugas sekolah pada awal tahun ajaran hanya akan membunuh rasa cinta anak terhadap belajar dan antusiasme terhadap sekolah," lanjutnya.
Bahkan, penelitian yang pernah dipublikasikan dalam New York Times mengungkapkan, waktu yang dianjurkan untuk mengerjakan tugas sekolah bagi anak pada tahun pertama sekolah hanya 10 menit.
"Aturan 10 menit untuk belajar di rumah sangat efektif dan menunjukkan hubungan antara berapa banyak mereka mengerjakan tugas sekolah serta bagaimana mereka akan merasakannya," ujar Dr Harris Cooper dari Duke University pada penelitiannya itu.
Menurut sebuah penelitian di Inggris, rata-rata anak "menguras otak" atau berpikir selama 54 jam setiap minggunya. Rata-rata anak menghabiskan waktunya sebanyak 32 jam setengah di sekolah, tujuh jam setengah untuk mengerjakan tugas sekolah, dua jam setengah untuk kegiatan ekstrakulikuler atau les, dan 12 jam untuk membaca buku atau belajar bersama orangtua mereka.
Agar anak Anda tidak merasa tertekan dalam melakukan tugas sekolahnya, Anda dapat melatihnya dengan cara yang lebih santai dan menarik. Berikut caranya.
Pilih buku bacaan dengan karakter idola mereka
Coba ajak anak untuk membaca buku yang memiliki karakter idola mereka. Dipastikan, keinginan untuk belajar akan terangsang dan ia tidak cepat bosan. Setelah ia tampak menguasai buku tersebut, coba minta dirinya untuk mengulang kembali cerita yang ada di dalam buku tersebut.
Alihkan ke buku komik
Menggunakan buku komik dapat menjadi salah satu senjata untuk anak agar tertarik untuk membaca.
"Doronglah minat baca anak dengan memberikan buku-buku pengetahuan yang menyajikan gambar menarik bagi anak. Kini, telah banyak penerbit menerapkan metode ini, yaitu menawarkan buku pendidikan anak, tetapi dikemas seperti komik. Dengan begitu, proses pembelajaran akan terasa lebih menarik, dibandingkan menggunakan buku sastra lainnya," kata ahli literatur anak-anak, Carol Tilley, profesor di University of Illinois.
Gunakan aplikasi di "smartphone" Anda
Balita zaman sekarang adalah generasi mawas teknologi. Melihat fenomena ini, orangtua harus waspada sebab bisa jadi anak menjadi tidak fokus pada pendidikan karena asyik bermain gadget. Maka dari itu, Anda harus pintar pilih aplikasi yang sesuai usia dan kebutuhan anak Anda. Sekarang sudah banyak smartphone yang menyediakan aplikasi yang mendukung perkembangan kecerdasan anak.
http://female.kompas.com
Meskipun baru pada tahapan pertama sekolah, bukan berarti ia tidak dibebani dengan pekerjaan rumah. Justru sebaliknya, di sinilah tugas Anda untuk mendampingi anak agar tidak berat menjalaninya.
Amy Murray, Kepala Sekolah Early Childhood Education, mengatakan, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa pada tahun sekolah dasar, satu-satunya pekerjaan rumah yang membawa manfaat bagi anak-anak adalah membaca secara rutin di rumah.
"Anak-anak bekerja keras sepanjang hari di sekolah. Nah, saat di rumah, mereka harus memiliki waktu untuk bersantai dan berkomunikasi kembali dengan keluarga mereka. Tumpukan pekerjaan rumah atau tugas sekolah pada awal tahun ajaran hanya akan membunuh rasa cinta anak terhadap belajar dan antusiasme terhadap sekolah," lanjutnya.
Bahkan, penelitian yang pernah dipublikasikan dalam New York Times mengungkapkan, waktu yang dianjurkan untuk mengerjakan tugas sekolah bagi anak pada tahun pertama sekolah hanya 10 menit.
"Aturan 10 menit untuk belajar di rumah sangat efektif dan menunjukkan hubungan antara berapa banyak mereka mengerjakan tugas sekolah serta bagaimana mereka akan merasakannya," ujar Dr Harris Cooper dari Duke University pada penelitiannya itu.
Menurut sebuah penelitian di Inggris, rata-rata anak "menguras otak" atau berpikir selama 54 jam setiap minggunya. Rata-rata anak menghabiskan waktunya sebanyak 32 jam setengah di sekolah, tujuh jam setengah untuk mengerjakan tugas sekolah, dua jam setengah untuk kegiatan ekstrakulikuler atau les, dan 12 jam untuk membaca buku atau belajar bersama orangtua mereka.
Agar anak Anda tidak merasa tertekan dalam melakukan tugas sekolahnya, Anda dapat melatihnya dengan cara yang lebih santai dan menarik. Berikut caranya.
Pilih buku bacaan dengan karakter idola mereka
Coba ajak anak untuk membaca buku yang memiliki karakter idola mereka. Dipastikan, keinginan untuk belajar akan terangsang dan ia tidak cepat bosan. Setelah ia tampak menguasai buku tersebut, coba minta dirinya untuk mengulang kembali cerita yang ada di dalam buku tersebut.
Alihkan ke buku komik
Menggunakan buku komik dapat menjadi salah satu senjata untuk anak agar tertarik untuk membaca.
"Doronglah minat baca anak dengan memberikan buku-buku pengetahuan yang menyajikan gambar menarik bagi anak. Kini, telah banyak penerbit menerapkan metode ini, yaitu menawarkan buku pendidikan anak, tetapi dikemas seperti komik. Dengan begitu, proses pembelajaran akan terasa lebih menarik, dibandingkan menggunakan buku sastra lainnya," kata ahli literatur anak-anak, Carol Tilley, profesor di University of Illinois.
Gunakan aplikasi di "smartphone" Anda
Balita zaman sekarang adalah generasi mawas teknologi. Melihat fenomena ini, orangtua harus waspada sebab bisa jadi anak menjadi tidak fokus pada pendidikan karena asyik bermain gadget. Maka dari itu, Anda harus pintar pilih aplikasi yang sesuai usia dan kebutuhan anak Anda. Sekarang sudah banyak smartphone yang menyediakan aplikasi yang mendukung perkembangan kecerdasan anak.
http://female.kompas.com
Langganan:
Postingan (Atom)