11 Februari 2014

Libatkan Teman, Bebaskan Si Kecil dari Obesitas

Obesitas merupakan faktor risiko dari banyak penyakit degeneratif, tidak hanya pada orang dewasa tetapi juga pada anak. Namun membuat anak terbebas dari obesitas cenderung lebih sulit daripada orang dewasa mengingat mereka masih dalam masa pertumbuhan. Baru-baru ini sebuah studi asal Kanada membuktikan, cara efektif untuk melakukannya, yaitu dengan melibatkan teman-teman si Kecil.

Untuk memperoleh simpulan tersebut, para peneliti menganalisis pada anak-anak yang mengikuti program hidup sehat bersama anak-anak lain yang lebih tua. Dalam program yang disebut dengan Healthy Buddies program tersebut, anak-anak belajar soal makanan sehat, aktivitas fisik, dan pencitraan tubuh positif dari anak-anak yang lebih tua, bukan dari guru atau pelatih.
Hasilnya, ukuran pinggang anak-anak tadi mengalami penurunan serta ada perbaikan pada rasa percaya diri mereka. Maka, para peneliti pun berpendapat program tersebut berpotensi untuk mengurangi laju obesitas anak.

Penulis studi Jonathan McGavock dari University of Manitoba mengatakan, sebelumnya program serupa pernah dilakukan di University of British Columbia dan berhasil. Sejauh ini, program Healthy Buddies yang berlangsung selama 21 minggu ini pun cukup menjanjikan.
Pada 2009, para peneliti melibatkan 647 anak dari 19 sekolah dasar di Manitoba. Anak-anak dari 10 sekolah dipilih secara acak untuk mengikuti program Healthy Buddies, sementara yang tidak terpilih dijadikan sebagai kelompok kontrol.

Di awal studi, para peneliti mengukur lingkar pinggang dan indeks massa tubuh peserta. Selain itu, peneliti juga melakukan penghitungan pada aktivitas fisik, tingkat kesehatan, percaya diri, serta pengetahuan hidup sehat, dan kebiasaan makan mereka. Pada saat itu, diketahui 36 peserta mengalami obesitas.

Setelah program berakhir, peneliti menemukan bahwa peserta mengalami penurunan ukuran pinggang hingga rata-ratanya mencapai 1,9 sentimeter. Sementara pada kelompok kontrol, hal ini tidak terjadi. "Lingkar pinggang merupakan parameter yang penting sebagai faktor risiko utama dari diabetes tipe 2 dan penyakit kronis," ujar McGavock.

Menurut studi yang dipublikasi dalam JAMA Pediatrics tersebut, peserta yang ikut serta dalam program juga mengalami perubahan positif pada rasa percaya dirinya. Program juga dinilai lebih efektif dari segi biaya karena tidak perlu membayar lebih mahal untuk guru ataupun pelatih.

http://health.kompas.com/

3 Februari 2014

Hindari Janji-janji Manis Ini pada Anak

Janji itu harus ditepati, tak terkecuali pada anak. Sebagai orangtua, terkadang Anda membuat janji kepada anak hanya untuk membuat mereka tidak rewel. Parahnya, janji orangtua ke anak ini seringkali tidak bisa Anda lakukan sendiri.

Penulis dan pendidik anak usia dini, Sylvia Rouss mengungkapkan, "Orangtua menggunakan janji-janji untuk berbagai alasan, misalnya menyuap anak agar melakukan apa yang mereka inginkan. Untuk menghindari kemungkinan konfrontasi dengan anak, menghindarkan anak-anak dari kekecewaan, dan menimbulkan harapan bagi anaknya," paparnya.

Sayangnya, setiap kali Anda membuat dan melanggar janji sendiri kepada anak, maka kepercayaan anak juga akan rusak. Berikut beberapa janji manis yang tidak seharusnya dijanjikan orangtua pada anaknya.

1. "Ini tidak akan sakit, Ibu janji"
Kekuatan menahan rasa sakit itu berbeda-beda setiap orang. Mungkin itu tak sakit untuk Anda, tapi belum tentu buat anak. Meski maksud dari kata-kata ini  untuk membuat anak jadi tak takut dan yakin bahwa ini memang tidak menyakitkan, tapi kenyataannya berbeda, anak pasti tidak percaya lagi pada Anda.

Misalnya, saat Anda akan memberi obat di luka anak. Mereka akan takut karena rasanya akan perih. Alih-alih mengatakan bahwa proses ini tak sakit, Rouss menyarankan untuk mengungkapkan kata-kata seperti, "Ini mungkin akan sedikit menyakitkan, tapi cuma sebentar kok."

2. "Ibu/Ayah janji akan sampai di rumah sebelum kamu tidur"
Terkadang tumpukan pekerjaan tak bisa diatasi dengan cepat, akibatnya Anda harus lembur. Padahal anak sedang menunggu kehadiran Anda di rumah. Tak tega mengecewakannya, Anda pun membuat janji bahwa Anda akan sampai rumah sebelum dia pergi tidur. Nyatanya semua hanya tinggal janji. Sampai di rumah, anak sudah tidur dan mungkin saja sampai menangis.

"Jika Anda tak sengaja melanggar janji ke anak, maka berusahalah untuk simpati pada mereka, dan katakan "Ibu/ayah tahu kamu kecewa, maafkan ibu/ayah yah," saran Psikolog Klinis sekaligus penulis enam buku parenting, Anthony E. Wolf.

3. "Mainnya tidak sekarang ya, janji deh kapan-kapan main"
Percayalah, sekalipun masih kecil mereka pasti bisa mengingat semua, apalagi kalau urusan mainan. Kalau tidak ditepati mereka pasti menagihnya. Daripada memberi janji kapan-kapan, jujur saja pada mereka tentang alasan mengapa tak bisa main sekarang ini. Anda juga bisa membuat janji lagi dengan ibu dari teman-temannya agar anak bisa bermain bersama lagi.

"Jangan memberinya waktu kapan-kapan dan jangan juga memberinya kesan bahwa 'tidak semua hal yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan'. Ini hanya akan membuat anak Anda lebih marah," papar Wolf.

4."Kalau kamu bereskan mainan, ibu janji belikan es krim"
Melanggar janji ini tak cuma akan membuat anak jadi tak percaya Anda, tapi juga mengajarkannya untuk selalu mendapat imbalan setelah melakukan sesuatu. Hal seperti ini tidak akan membuat mereka punya motivasi pribadi untuk melakukan hal positif.

Sebenarnya Anda bisa mengatakan,"Kamu harus membereskan mainan itu, kalau tidak kamu atau orang lain bisa tersandung dan jatuh." Dengan ini, anak akan tahu pentingnya membereskan mainannya.

5. "Ibu janji kita akan pergi ke Disneyland (atau hal besar lainnya) saat ulang tahunmu tahun depan"
Terkadang anak ingin kado yang besar saat ulangtahunnya. Namun, tentu tidak setiap saat Anda bisa memenuhi keinginannya. Namun jangan berjanji sesuatu yang besar sebagai kado jika Anda belum tentu bisa menepatinya. Buatlah janji memberi kado yang lebih realistis.

http://female.kompas.com

29 Januari 2014

Menjadi Wanita Paling Bahagia dengan Cara yang Sederhana

Mengejar dunia tidak akan pernah ada habisnya, selalu ada tantangan dan ambisi baru yang “menghantui” diri Anda, untuk terus dikejar dan diwujudkan, demi merasakan bahagia.  Mungkin saja Anda sadari bahwa sebenarnya pencarian kebahagiaan ini malah membuat Anda stres, namun Anda menghiraukannya, tentu saja, Anda terlalu sibuk untuk memikirkannya!
Tidak selamanya tas dan sepatu keluaran terbaru bernilai mahal dapat mempertahankan rasa bahagia, segala yang dapat dibeli uang, biasanya hanya membuat Anda tersenyum untuk sementara waktu saja. Sebaliknya, banyak hal-hal sederhana yang sering terlewatkan di sekitar kita yang memiliki potensi untuk mendatangkan kebahagiaan. Beberapa di antaranya seperti berikut;

Memiliki saudara perempuan
Mereka yang punya kakak atau adik perempuan, umumnya tinggal dalam lingkungan yang suportif, bersikap optimis, serta dapat mengatasi masalah dengan lebih tenang dan efektif. Hal ini terungkap dari hasil riset yang dilakukan oleh The British  Psychological Society.

Banyak senyum
Perempuan dewasa yang semasa kuliah dikenal murah senyum, ternyata kehidupan pernikahannya lebih awet ketimbang mereka yang selalu menampilkan wajah judes dan tidak bersahabat. Dari riset yang diumumkan DePau University diketahui, peluang kelompok perempuan yang ceria dan murah senyum untuk bercerai adalah lima kali lebih rendah dibanding kelompok kedua. Para ahli menyimpulkan, orang yang murah senyum punya pikiran yang lebih positif dan dapat ditularkan kepada pasangannya.

Jarang nonton televisi
Menurut survei, orang-orang yang ceria hanya menghabiskan kurang dari 30 persen waktunya untuk menonton televisi. Mereka lebih suka bersosialisasi, membaca buku atau ikut kegiatan keagamaan. Berbagai jenis kegiatan ini dianggap lebih mendatangkan efek positif bagi mood dan umumnya seiring usia memiliki kondisi tubuh yang tetap prima.

http://female.kompas.com

25 Januari 2014

iCHOOSE

“I, with a deeper instinct, choose a man who compels my strength, who makes enormous demands on me, who does not doubt my courage or my toughness, who does not believe me naïve or innocent, who has the courage to treat me like a woman.”
Anaïs Nin

24 Januari 2014

Kiat Menjadi Ibu yang Sempurna

Menjadi orangtua adalah pekerjaan yang paling penting dan berharga di dunia ini, kehidupan anak Anda tergantung pada didikan Anda. Karenanya, banyak orangtua terutama Ibu yang berusaha untuk menjadi orangtua sempurna bagi anaknya.

Menurut penelitian di India mengatakan bahwa kehidupan dan pribadi setiap anak itu unik dan tidak ada buku khusus yang mampu menguraikan jawaban yang tepat untuk setiap pertanyaan dari anak selain Anda sendiri sebagai orangtuanya.

Andalah yang berkomunikasi dengan anak sehari-hari, kecuali jika Anda menitipkannya kepada pengasuh maka Anda tidak akan bisa beradaptasi dan mengerti kebutuhan anak sebenarnya.
Pastikan untuk mengikuti naluri Anda sebagai ibu, karena Anda harus menjadi orang yang paling mengenal anak Anda daripada orang lain. Jika Anda tidak mengasuhnya sendiri, maka jangan harap Anda dapat mengetahui perkembangan sang buah hati secara langsung dengan baik.

Menjadi ibu yang sempurna memang mengharuskan Anda berkorban dan merelakan semua kepentingan pribadi Anda guna melihat tumbuh kembang si kecil. Karena lewat pengasuhan dari Anda sendiri, bisa memperkaya kehidupan buah hati dan lebih mengetahui apa yang dibutuhkannya sesuai perkembangan si anak.

Dari situ juga, Anda dapat belajar dan mengetahui kesalahan dan kebaikan yang harus dilakukan oleh orangtua untuk mendidik anak mereka menjadi pribadi yang baik.
Sikapi pola asuh ini seperti sebuah pekerjaan, menjadi orangtua bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, melainkan kewajiban harus Anda lakukan setiap hari dan harus memberikan yang terbaik agar mendapatkan hasil yang terbaik lewat pertumbuhan anak Anda kelak.

http://female.kompas.com

22 Januari 2014

Bahagia, Kunci Sehat dan Awet Muda

Tubuh yang sehat dapat membuat setiap orang merasa bahagia, tetapi hal tersebut ternyata juga berlaku sebaliknya. Menurut sebuah studi baru, bahagia juga merupakan kunci kesehatan yang lebih baik.

Para peneliti menemukan, orang yang menikmati hidup mereka cenderung untuk lebih dapat menjaga fungsi fisik mereka dengan lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak. Ini artinya, bisa dikatakan orang yang bahagia akan lebih awet muda.

Studi tersebut melibatkan lebih dari 3.000 orang di atas usia 60 tahun atau lebih tua di Inggris, dan mengikuti mereka selama delapan tahun. Para peneliti kemudian menanyakan peserta tentang kemampuan mereka menikmati hidup dengan memberikan penilaian terhadap kalimat-kalimat seperti, "Aku menikmati hal yang aku kerjakan" atau "Aku menikmati berada di dekat orang lain".
Dengan teknik wawancara langsung, para peneliti juga menentukan apakah peserta mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari, seperti bangun dari tempat tidur, memakai pakaian, atau mandi. Mereka juga melakukan tes kecepatan berjalan para peserta.
Hasil menunjukkan, peserta yang lebih bahagia cenderung dapat melakukan fungsi fisik dengan lebih baik pada usia tua. Bahkan hubungan tersebut tetap ada meski sudah disertakan faktor lain, seperti penuaan, gaya hidup, dan kondisi ekonomi.

Studi yang dipublikasi dalam Canadian Medical Association Journal tersebut menunjukkan, orang yang mengaku paling tidak bahagia dalam studi ini lebih dari 80 persen mungkin untuk mengalami penurunan fungsi fisiknya dibandingkan dengan orang yang bahagia. Begitu pula dengan kecepatan berjalan mereka.

"Seperti yang diduga, kesehatan yang buruk juga berhubungan dengan penurunan kadar kebahagiaan. Orang dengan penyakit kronik seperti penyakit jantung, diabetes, arthritis, stroke, dan depresi melaporkan kurang menikmati hidup mereka," ujar Andrew Steptoe, peneliti studi sekaligus Direktur Institut Epidemiologi dan Pelayanan Kesehatan di University College London.

Sebelumnya, lanjut dia, para peneliti telah menunjukkan, orang lanjut usia yang lebih menikmati hidup cenderung untuk hidup lebih lama rata-rata selama delapan tahun. "Studi ini menunjukkan, mereka juga ternyata lebih mampu mempertahankan kemampuan fisiknya," cetus Steptoe.

http://health.kompas.com